Jakarta is Coming: Hantu Perang Dingin yang Membentuk Jakarta

Jakarta is Coming: Hantu Perang Dingin yang Membentuk Jakarta

Sebuah kata disemprotkan dengan cat hitam di sebuah dinding kota Santiago, Chili, pada awal dekade 1970-an: “Jakarta se acerca”. Jakarta akan datang. Kata itu bergema laksana kutukan, seperti nubuat gelap yang mengaitkan sebuah kota di Asia Tenggara dengan ancaman kematian massal ribuan kilometer jauhnya. Kata “Jakarta” tak lagi merujuk pada ibu kota Indonesia semata; ia menjelma menjadi metafora global untuk pembantaian, strategi teror negara, dan mekanisme penghapusan lawan politik yang dilakukan dengan sistematis.

Dalam Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965, dan Dunia Global Kita Sekarang (Marjin Kiri, 2022), Vincent Bevins membuka kotak hitam yang telah terlalu lama ditutup rapat: kisah genosida politik di Indonesia pada 1965-66 yang menelan antara setengah juta hingga sejuta nyawa manusia: para simpatisan, anggota, dan bahkan orang-orang yang hanya dicurigai berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kematian itu bukan sekadar tragedi domestik; ia menjadi pola yang diekspor ke seluruh dunia, sebuah cetak biru yang diadopsi oleh rezim-rezim antikomunis di Amerika Latin, Afrika, hingga Asia. “Jakarta” berubah menjadi kata sandi global, sebuah peringatan yang ditulis di tembok-tembok kota: begini nasibmu jika berani bermimpi tentang dunia yang lebih setara (Bevins, 2022, hlm. 6).

Bevins menulis dengan kesadaran bahwa sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang, dan bahwa narasi resmi Perang Dingin yang diajarkan di sekolah-sekolah Barat lebih banyak mengangkat heroisme “kebebasan” Amerika ketimbang mengingat mayat-mayat yang bergelimpangan di desa-desa Jawa atau sungai-sungai Kalimantan. Namun, di balik tabir itulah hantu Jakarta bersemayam, menunggu untuk dipanggil kembali oleh mereka yang masih percaya pada kekuatan teror.

Episentrum yang Dilupakan

Indonesia, negeri kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke, pernah berdiri di persimpangan sejarah global. Indonesia pada awal 1960-an bukan sekadar negara pasca-kolonial yang baru merdeka; ia adalah rumah bagi Partai Komunis terbesar di luar Uni Soviet dan Tiongkok, sebuah kekuatan politik sah yang berhasil menanamkan pengaruh hingga ke pelosok desa. Sukarno, sang presiden karismatik, mencoba memainkan keseimbangan antara nasionalisme, Islam, dan komunisme dalam ideologi “Nasakom”, sebuah eksperimen politik yang menantang logika bipolar dunia Perang Dingin.

Akan tetapi, tahun 1965, eksperimen itu runtuh dalam darah. Setelah peristiwa misterius yang masyhur sebagai Gerakan 30 September, sebuah narasi resmi diproduksi: PKI dituduh merencanakan kudeta, dan militer di bawah Jenderal Suharto menggunakan tuduhan itu untuk melancarkan operasi pemusnahan. Dalam hitungan bulan, ratusan ribu orang ditangkap, disiksa, dan dibunuh. Sungai-sungai berubah merah. Desa-desa diselimuti ketakutan. Para penyintas, selama puluhan tahun kemudian, dipaksa bungkam atau hidup dengan stigma sebagai “anak PKI” yang tidak bisa bekerja sebagai pegawai negeri, guru, atau bahkan sekadar menjadi warga biasa tanpa kecurigaan.

Bagi Washington, apa yang terjadi di Indonesia adalah sebuah kemenangan sunyi namun spektakuler. Tidak ada tentara Amerika yang tewas, tak ada headline perang besar di koran, tetapi sebuah negara dengan populasi keempat terbesar di dunia berhasil “diamankan” dari pengaruh komunis dan jatuh ke dalam orbit kapitalisme global. Dalam beberapa bulan, Amerika Serikat mendapatkan apa yang gagal mereka capai di Vietnam setelah bertahun-tahun perang berdarah (Bevins, 2022, hlm. 2).

Justru karena kesuksesan itulah tragedi Indonesia terlupakan. Media Barat, yang biasanya rakus pada cerita perang dan revolusi, memilih untuk bungkam ketika negeri itu stabil di bawah diktator pro-Amerika. “Kemenangan” ini menyingkirkan Indonesia dari peta perhatian dunia, seakan-akan puluhan ribu tubuh yang dilempar ke lubang-lubang massal hanyalah catatan kaki dalam drama besar Perang Dingin. Dalam diam itulah, Metode Jakarta lahir sebagai model yang siap ditiru di belahan dunia liyan.

Dari Brasil ke Dunia

Brasil, negeri yang jauh di sisi lain khatulistiwa, menjadi cermin yang memantulkan strategi Jakarta ke Amerika Latin. Pada 1964, militer Brasil menggulingkan pemerintahan João Goulart, seorang presiden yang dianggap terlalu dekat dengan kaum kiri dan serikat buruh. Kudeta ini bukan sekadar urusan domestik; ia ditopang oleh Washington, yang melihat Brasil sebagai kunci dalam memagari benua dari ancaman komunisme. Dari sinilah jalinan global kekerasan antikomunis mulai mengambil bentuk: sebuah jaringan rahasia lintas negara, yang dalam kata Bevins (2022), bisa disebut sebagai “Anti-Communist International” (hlm. 192).

Kemenangan militer Brasil bukanlah akhir, melainkan awal dari ekspor teror. Rezim yang lahir dari kudeta segera belajar dari Indonesia, negeri yang baru saja “berhasil” menghapus komunis melalui pembantaian massal. Kata “Jakarta” pun mulai beredar sebagai bisikan dan ancaman, sebuah kode yang dipahami di kalangan elit militer dan intelijen Amerika Latin. Muncul operasi bernama Operação Jacarta di Brasil sendiri yang menurut laporan Komisi Kebenaran Brasil bertujuan tidak hanya menumpas pemberontakan bersenjata, tapi juga secara sistematis mengeliminasi anggota Partai Komunis Brasil dan simpatisannya (Bevins, 2022, hlm. 194).

Brasil kemudian tampil sebagai mentor regional bagi proyek antikomunis. Tahun 1971, rezim Jenderal Emílio Garrastazu Médici bahkan membantu menggulingkan pemerintah Bolivia dan mendukung naiknya diktator Hugo Banzer, dengan koordinasi bersama Washington. Tatkala koalisi kiri Frente Amplio di Uruguay tampak akan memenangkan pemilu, militer Brasil mengintervensi dan mendorong kemenangan partai kanan. Brasil tidak hanya meniru Jakarta, tetapi juga berusaha menjadi Jakarta bagi kawasan Amerika Latin: eksportir strategi represi, perpanjangan tangan dari ambisi Amerika Serikat (Bevins, 2022, hlm. 193-195).

Ada ketakutan yang sama di balik semua ini: bukan semata-mata konspirasi Moskow atau Beijing, melainkan kecemasan bahwa rakyat miskin akan memilih “komunisme” dengan sendirinya. Médici sendiri berkata kepada Presiden Nixon bahwa Soviet atau Tiongkok tidak perlu mengirim bantuan; kemiskinanlah yang akan membuat rakyat Amerika Latin mendambakan keadilan sosial. Maka, tugas mereka adalah mencegah kemungkinan itu dengan segala cara: senjata, penjara, dan teror. Nixon bahkan sempat berujar dengan kekaguman bahwa ia berharap Médici “menjalankan seluruh benua” (Bevins, 2022, hlm. 193).

Bayang-bayang Jakarta semakin nyata di Chili. Menjelang kudeta 1973 terhadap pemerintahan Salvador Allende, dinding-dinding kota Santiago dicoret dengan tulisan “Jakarta viene”. Kata itu bukan sekadar grafiti; ia adalah ancaman telanjang bahwa pembantaian Indonesia akan dijadikan preseden. Dan memang, hanya beberapa bulan setelah Allende digulingkan dan Jenderal Augusto Pinochet naik berkuasa, ribuan orang Chili ditahan, disiksa, dan dibunuh. “Jakarta” pun resmi menjadi kata yang berarti: kehancuran gerakan kiri, hilangnya ruang demokrasi, dan lahirnya diktator dengan restu Washington (Bevins, 2022, hlm. 194-196).

Maka, dari Brasil hingga Chili, dari Bolivia hingga Uruguay, “Jakarta” menjelma virus politik yang menular, menyatukan benua dalam simfoni ketakutan. Ia adalah bukti bahwa genosida bisa dipelajari, diimpor, bahkan dipasarkan sebagai resep keberhasilan. Dalam logika Perang Dingin, kemenangan tidak diukur dengan cita-cita kemerdekaan, melainkan dengan seberapa efektif sebuah negara bisa menghapus kemungkinan sosialisme. Untuk itu, Jakarta berdiri sebagai mercusuar kelam.

Metafora Kekerasan

Ada kalanya sebuah kota berhenti sekadar menjadi koordinat di peta, lalu berubah menjadi mantra gelap yang melintasi benua. “Jakarta” mengalami nasib semacam itu. Ia diangkat dari tanah Indonesia yang penuh darah, lalu disulap menjadi kata sandi global bagi pembantaian antikomunis. Dari Brasil hingga Chili, dari kamp-kamp militer di Amerika Latin hingga surat kabar rahasia kelompok sayap kanan, “Jakarta” disematkan sebagai ancaman yang menggetarkan jantung lawan politik.

Istilah itu di Brasil bahkan dilembagakan melalui Operação Jacarta, sebuah rencana rahasia yang berorientasi pada penghapusan fisik para anggota dan simpatisan Partai Komunis Brasil. Berbeda dengan kekerasan negara yang sebelumnya diarahkan pada pemberontakan bersenjata, operasi ini secara terang-terangan menyasar warga sipil yang hanya berorganisasi atau menulis di media. Seperti di Indonesia, pembantaian dianggap sebagai solusi politik yang sah. Sebuah “metode” untuk menjaga dunia bebas (Bevins, 2022, hlm. 194).

Ancaman itu di Chili jauh lebih publik. Dinding-dinding Santiago tahun 1972 dan 1973 dipenuhi coretan: “Jakarta viene”, “Jakarta se acerca”. Slogan itu menyebar terutama di lingkungan kelas menengah ke atas, di mana ketakutan terhadap sosialisme Allende dipelihara sebagai alasan untuk tindakan ekstrem. Surat kabar sayap kanan seperti El Mercurio ikut merujuk pada pengalaman Indonesia, menjadikannya simbol bahwa setiap eksperimen sosialisme akan berakhir dalam “lautan darah” (Bevins, 2022, hlm. 194-195).

Kata “Jakarta” mengandung seluruh imajinasi teror: penangkapan massal, kuburan tanpa nisan, anak-anak yatim yang tak pernah tahu di mana jasad orang tuanya. Ia berfungsi sebagai retorika sekaligus senjata psikologis. Tidak perlu lagi argumen ideologis panjang; cukup sebut kata “Jakarta,” dan semua orang mengerti: kematian massal akan datang. Dengan demikian, sebuah kota di Asia Tenggara dipinjam untuk menghalalkan kekerasan di Amerika Latin.

Bahasa, dalam hal ihwal ini, menjadi alat pembunuhan kedua setelah peluru. Ia mengkristalkan ingatan kolektif atas genosida Indonesia, lantas menggunakannya untuk mengancam masa depan negeri liyan. Bevins menunjukkan bagaimana nama Jakarta dipakai layaknya simbol universal, setara dengan “Guernica” bagi perang udara atau “Hiroshima” bagi bom atom. Bedanya, jika Guernica dan Hiroshima menjadi simbol penderitaan korban, maka Jakarta dipakai justru sebagai peringatan dan resep bagi algojo (Bevins, 2022, hlm. 195-196).

Ironi paling getir adalah bagaimana kata itu menghilangkan martabat manusia yang terbunuh di Indonesia. Mereka yang mati, yang ditenggelamkan di sungai atau dibakar di ladang, kiwari hanya dikenang sebagai contoh, sebagai “pelajaran” untuk ditakuti. Dengan kata lain, korban pembantaian di Indonesia dibunuh dua kali: pertama dengan peluru dan parang, kedua dengan dijadikan metafora kekerasan di negeri lain.
“Jakarta” pun menjadi kosakata global dalam kamus gelap abad ke-20. Ia berfungsi bukan hanya sebagai sejarah, melainkan sebagai ancaman masa depan.

Di sinilah kemudian terletak kedahsyatan The Metode Jakarta: menunjukkan kepada kita bahwa kekerasan dapat dipasarkan, dipelajari, dan diulang. Satu tragedi nasional bisa menjelma menjadi metode internasional.

Jejak di Asia, Afrika, dan Amerika Latin

“Jakarta” tidak berhenti di Brasil dan Chili. Ia menyeberangi lautan, mendarat di benua liyan, menyusup ke ruang-ruang rahasia negara, dan bersemayam dalam catatan kaki sejarah yang jarang dibaca. Seperti virus politik, metode ini menemukan “tamu baru” di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang selalu dengan dukungan, dorongan, atau pembiaran dari Washington.

Pada awal 1970-an, pemerintah Gaafar Nimeiry di Sudan menghadapi oposisi dari Partai Komunis terbesar di Afrika. Tatkala sebuah kudeta gagal, jawabannya adalah pemusnahan. Perintahnya tegas: “hancurkan siapa pun yang mengaku anggota Partai Komunis Sudan.” Dengan satu komando, sebuah partai yang pernah menjadi pusat gerakan progresif dihancurkan, mirip seperti PKI di Indonesia. Barat tidak banyak menoleh ke arah Afrika Timur; perhatian media hanya sesaat, dan kisah pembantaian itu tenggelam tanpa gaung besar (Bevins, 2022, hlm. 193-194).

Selain Brasil dan Chili, resonansi Jakarta di Amerika Latin menjalar ke Bolivia, Uruguay, dan Guatemala. Tahun 1971, militer Brasil membantu menggulingkan pemerintahan Bolivia, lalu menanamkan rezim Hugo Banzer yang represif. Intervensi dilakukan di Uruguay bahkan sebelum pemilu berlangsung, ketika koalisi kiri Frente Amplio tampak berpeluang menang. Intervensi itu diselubungi retorika menjaga demokrasi, padahal intinya adalah mencegah terpilihnya pemerintahan yang mungkin terlalu progresif bagi selera Washington (Bevins, 2022, hlm. 192-193).

Guatemala, negeri yang sejak 1954 menjadi laboratorium eksperimen Central Intelligence Agency (CIA), juga mengalami teror yang serupa. Serikat buruh, aktivis mahasiswa, dan kelompok tani dipersekusi, dengan modus penangkapan, penghilangan, dan pembunuhan. Dalam logika global, semua ini tidak berdiri sendiri. Seperti ditulis Bevins, “Jakarta” menjadi kerangka kerja: andai sebuah negara memiliki potensi gerakan kiri yang kuat, maka genosida atau represi brutal menjadi pilihan yang sah, bahkan direkomendasikan (Bevins, 2022, hlm. 194).

Selain Indonesia, bayang-bayang Jakarta di Asia juga menghantui Filipina di bawah Ferdinand Marcos. Meski tidak pernah mencapai skala pembantaian 1965-66, Marcos menggunakan retorika antikomunis untuk menjustifikasi darurat militer, penangkapan oposisi, dan represi sipil. Indonesia menjadi contoh nyata yang dipelajari Marcos: bagaimana sebuah rezim bisa bertahan lama dengan menyingkirkan lawan-lawannya secara brutal, lantas mendapat legitimasi internasional sebagai sekutu setia Amerika Serikat.

Pola itu tampak jelas: eliminasi oposisi kiri, konsolidasi rezim militer, dan pembukaan ekonomi pasar bebas. Metode ini di setiap negara mengorbankan ribuan, bahkan jutaan nyawa, demi apa yang disebut “stabilitas”. Walakin stabilitas itu sebenarnya hanyalah kedok bagi konsolidasi kapitalisme global. Washington mendapat sekutu, perusahaan multinasional mendapat pasar, sementara rakyat kehilangan suara, kehilangan tanah, kehilangan hidup.

Yang paling menggetarkan dari uraian Bevins adalah bagaimana pola ini begitu mirip, meskipun terjadi di benua yang berbeda. Dari Jakarta ke Santiago, dari Khartoum ke La Paz, cerita itu diulang dengan variasi lokal, tapi dengan melodi yang sama: bunuh lawanmu, stigmatisasi mereka sebagai ancaman komunis, lalu jalin aliansi dengan Washington. Dalam dunia yang diatur oleh Perang Dingin, “Jakarta” bukanlah tragedi satu bangsa, melainkan instrumen global untuk membentuk tatanan dunia.

Luka yang Tak Pernah Tertutup

Sejarah bukan hanya catatan arsip atau angka-angka statistik; ia adalah tubuh-tubuh yang hilang, suara-suara yang dibungkam, dan ingatan yang diwariskan seperti luka yang tak kunjung sembuh. Di Indonesia, para penyintas pembantaian 1965-66 hidup dalam bayang-bayang stigma. Mereka bukan hanya kehilangan anggota keluarga yang dibantai, dibuang ke sungai, dikubur di lubang massal, tetapi juga kehilangan hak untuk hidup sebagai warga negara penuh. Anak-anak mereka diberi cap “keturunan PKI”, dijauhkan dari sekolah, ditolak menjadi pegawai negeri, bahkan disisihkan dalam kehidupan sehari-hari. Stigma itu menjadi cara liyan untuk melanjutkan pembantaian dalam wujud sosial (Bevins, 2022, hlm. 5-6).

Bertahun-tahun kemudian, tatkala Bevins menelusuri jejak korban dan mewawancarai para penyintas, ia menemukan kisah yang serupa di Amerika Latin. Ibu-ibu di Chili masih mencari jasad anak-anak mereka yang hilang sejak 1973, digiring ke stadion, lalu tak pernah kembali. Keluarga korban Operação Jacarta di Brasil berusaha menuntut keadilan, meski menghadapi negara yang masih enggan mengakui dosa masa lalunya.

Lalu generasi muda di Guatemala menggali kuburan massal dengan tangan mereka sendiri, mencoba memberi nama pada tengkorak tanpa identitas. Sebagian aktivis muda mengorganisasi ritual semenjana di Indonesia: menggali, memakamkan ulang, memberi doa. Sebuah tindakan kecil untuk mengembalikan martabat yang telah dirampas (Bevins, 2022, hlm. 30-33).

Namun, di banyak tempat, kebenaran masih disembunyikan. Negara memilih diam. Dokumen-dokumen yang bisa membuktikan keterlibatan asing tetap terkunci di arsip. Para jenderal yang memerintahkan pembantaian masih dielu-elukan sebagai pahlawan. “Stabilitas” yang mereka banggakan dibeli dengan darah, dan dunia internasional, terutama Barat, lebih memilih melupakan karena terlalu banyak kepentingan ekonomi dan politik yang lahir dari tragedi itu. Tragedi Indonesia menjadi “kemenangan senyap” yang menginspirasi metode global, tetapi membuat korban tidak pernah mendapatkan ruang untuk bersuara.

Luka ini bukan hanya trauma personal, melainkan juga luka struktural. Ia diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak penyintas tumbuh dalam atmosfer ketakutan, dipaksa percaya bahwa orang tua mereka salah, padahal yang bersalah adalah negara yang membantai tanpa pengadilan. Kata desaparecidos yang hilang di Chili dan Argentina menjadi bagian dari kosakata sehari-hari. Kata itu di Indonesia tidak pernah dipakai, tetapi maknanya sama: ada yang diambil pada malam hari, dan tak pernah kembali.

Apa yang dilakukan Bevins dalam bukunya adalah menghadirkan kembali suara-suara itu. Ia menulis tentang orang-orang yang masih berjuang hanya untuk diakui bahwa pembantaian itu benar-benar terjadi. Ada yang menggali kuburan, ada yang menuliskan memoar, ada pula yang sekadar bertahan hidup sambil menanggung beban ingatan. Mereka tahu, meski puluhan tahun telah berlalu, luka itu tetap berdenyut. Luka itu tidak pernah tertutup karena kebenaran tidak pernah diucapkan penuh, karena keadilan tak pernah ditegakkan (Bevins, 2022, hlm. 32-33).

Membaca kisah para penyintas adalah mengingat bahwa sejarah bukanlah masa lampau, melainkan masa kiwari yang terus membentuk dunia. Setiap kuburan yang belum diberi nama, setiap keluarga yang menanti jasad, adalah pengingat bahwa “Jakarta” bukan sekadar metode, melainkan luka global. Luka itu akan terus hidup, menunggu saat di mana dunia akhirnya berani menatapnya tanpa berpaling.

Kritik dan Resonansi Hari Ini

Buku Metode Jakarta bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah kritik atas fondasi dunia modern yang dibangun di atas genangan darah. Bevins meneroka dengan satu tujuan jelas: menyingkap mitos kebebasan Amerika, yang selama Perang Dingin dijual sebagai cahaya demokrasi, tetapi dalam praktiknya dibarengi dengan genosida, kudeta, dan pembantaian yang diamini atas nama antikomunisme. Seperti ditulisnya, kemenangan senyap di Indonesia lebih berarti bagi Washington ketimbang perang panjang di Vietnam karena di Indonesia, mereka tidak perlu menembakkan peluru, cukup menyokong militer lokal untuk menunaikan tugas dursila itu.

Kritik Bevins menohok: jika Indonesia dianggap sebagai “keberhasilan”, maka seluruh gagasan tentang intervensi demi kebebasan runtuh. Bagaimana mungkin sebuah proyek yang merenggut nyawa setengah juta hingga sejuta orang bisa disebut kemenangan? Pertanyaan ini tidak hanya berlaku untuk masa silam. Ia menggema hingga hari ini, ketika kita menyaksikan bangkitnya kembali populisme sayap kanan, kembalinya retorika antikomunis yang selamba, dan normalisasi kekerasan negara atas nama stabilitas. Nama Médici di Brasil kembali dielu-elukan di era Jair Bolsonaro. Narasi “bahaya laten komunis” di Indonesia masih dipelihara oleh sebagian elit untuk membungkam oposisi dan mengalihkan perhatian dari ketidakadilan struktural (Bevins, 2022, hlm. 6-7).

Resonansi liyan dari buku ini adalah pada tatanan ekonomi global. Metode Jakarta bukan hanya soal pembantaian politik; ia juga soal konsolidasi kapitalisme neoliberal. Setiap kali rezim antikomunis ditegakkan, pintu pasar dibuka lebar-lebar. Perusahaan multinasional masuk, serikat buruh dibungkam, dan tanah-tanah rakyat diserahkan kepada modal asing. Sejarah pembantaian menjadi fondasi bagi rezim ekonomi yang hari ini kita kenal sebagai globalisasi. Dengan kata lain, dunia yang kita tempati kiwari, dari rantai pasokan global hingga logika konsumsi harian, dibentuk oleh kuburan massal yang tersebar di Indonesia, Brasil, Chili, dan banyak negeri lain (Bevins, 2022, hlm. 193-195).

Walakin, yang paling kuat dari buku Bevins adalah hipotetis yang diajukannya: bagaimana jika semua itu tidak terjadi? Bagaimana jika Partai Komunis Indonesia tidak dimusnahkan, jika Allende di Chili tidak digulingkan, jika gerakan dunia ketiga dibiarkan hidup? Dunia mungkin akan lebih plural, lebih adil, lebih beragam dalam jalan modernitasnya. Kita mungkin tidak akan hidup dalam hegemoni neoliberal yang seakan tidak tergoyahkan. Metode Jakarta yang diterjemahkan dengan cerkas oleh Pradewi Tri Chatami ini adalah risalah tentang masa lampau, tetapi juga perihal dunia yang hilang. Sebuah alternatif sejarah yang dipaksa mati sebelum sempat tumbuh.

Kritik ini, pada akhirnya, bukan hanya kepada Amerika Serikat atau diktator-diktator di Selatan Selatan (Global South). Kritik ini diarahkan kepada kita semua: para pembaca, para intelektual, para penulis sejarah yang selama puluhan tahun memilih lupa, atau merasa nyaman dengan narasi resmi. Sebab lupa adalah bagian dari metode. Ketika dunia memilih untuk melupakan Jakarta, maka Jakarta bisa diulang di tempat liyan, dengan nama berbeda, dengan wajah anyar.

Bevins memaksa kita menatap cermin dan melihat: dunia yang kita anggap normal hari ini dibentuk oleh pembantaian yang kita tolak untuk akui. Selama kita enggan menghadapi kenyataan itu, hantu Jakarta akan terus berkeliaran, dipanggil kembali oleh rezim-rezim yang haus akan kuasa.

Pada akhirnya, kata “Jakarta” bukan lagi sekadar nama kota. Ia telah menjelma menjadi hantu global. Sebuah bisikan yang muncul di dinding Santiago, dalam arsip rahasia militer Brasil, di lubang-lubang massal Guatemala, dan di hati para penyintas Indonesia yang masih mencari suara. Hantu ini bergerak melintasi benua, menyeberangi samudra, dan bertahan hingga hari ini, karena kita, dunia, memilih untuk melupakannya.

Bevins menulis bukunya laksana seorang arkeolog yang menggali lapisan tanah sejarah, menemukan tulang-belulang yang pernah sengaja dikubur dalam-dalam. Ia menyajikan potongan kisah dari Indonesia, Brasil, Chili, Sudan, hingga Guatemala. Bukan sebagai serpihan yang terpisah, melainkan sebagai jaringan yang saling bertaut. Ia menunjukkan bahwa genosida di Indonesia bukan peristiwa lokal, melainkan bagian dari pola global: sebuah metode, Metode Jakarta, yang disalin, diajarkan, dan diulang.

Namun, yang paling mengguncang bukanlah jumlah korban, melainkan keheningan setelahnya. Dunia lebih memilih merayakan “stabilitas”, membanggakan pertumbuhan ekonomi, dan menyebutnya sebagai kemenangan Perang Dingin. Dalam narasi resmi, para korban tak punya nama. Dalam buku teks sejarah, mereka bahkan tak tercatat. Dalam ingatan global, tragedi Indonesia nyaris tak pernah disebut.

Di sinilah pentingnya Metode Jakarta. Ia menolak diam. Ia menolak melupakan. Ia menolak menerima bahwa sebuah dunia yang dibangun di atas pembantaian bisa dianggap normal. Dengan gaya jurnalisme naratif nan lirikal dan penuh kesaksian, Bevins memberi kembali suara kepada mereka yang telah dibungkam. Suara-suara itu tidak hanya milik masa lampau, melainkan juga milik masa kini: mengingatkan kita bahwa keadilan belum ditegakkan, bahwa luka belum dijahit, bahwa hantu Jakarta belum diusir.

Mungkin inilah pelajaran paling getir sekaligus paling penting: bahwa dunia yang kita tempati hari ini, dengan seluruh kerangka politik dan ekonomi globalnya, lahir dari kekerasan yang direncanakan, dikerahkan, dan kemudian ditutupi. “Jakarta” adalah pintu yang membawa kita menatap wajah asli Perang Dingin. Bukan pertarungan ideologi mulia, melainkan pameran ketakutan, ambisi, dan kekejaman yang dilegalkan.
Selama kita tidak megak mengingat, selama kita terus membiarkan kata “Jakarta” hanya menjadi catatan kaki, ia akan terus menghantui. Sebab hantu-hantu sejarah tidak pernah mati; mereka hanya menunggu dipanggil kembali.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo