Kaum Muslimin di bumi belahan manapun memandang Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah, teladan terbaik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Al-Qur’an sendiri menegaskan: “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian” (QS. al-Ahzab [33]:21). Dalam sejarah Islam, teladan bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam etika sosial, seperti kejujuran, amanah, dan kepemimpinan yang penuh kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari bahkan, kita diperkenalkan tentang kisah masa muda Nabi Muhammad mendapat julukan al-Amin (yang terpercaya) karena integritasnya di Mekkah. Julukan adalah pengakuan sosial atas karakter luhur yang membuatnya dihormati bahkan sebelum masuk era kenabian. Gelar bagi nabi tersebut datang bukan dari komunitas orang-orang beriman melainkan juga diberikan dari kelompok kafir Quraisy. Bagi kalangan muslimin, khususnya di Indonesia, persepsi tentang sosok Nabi Muhammad digambarkan bukan semata dalam literatur keagamaan, melainkan juga dalam syair-syair, nyanyian dan doa di majelis-majelis pengajian.
Keagungan Nabi juga tampak dalam kepemimpinannya yang inklusif, adil, dan mengedepankan kesetaraan manusia. Piagam Madinah (622 M), sebuah perjanjian sosial-politik yang ditandatangani antara kaum Muslim, Yahudi, dan suku-suku Arab lainnya, menunjukkan visi kenegaraan Nabi yang menekankan penghargaan pada perbedaan, kesetaraan dan keadilan. Dokumen Piagam Madinah ini dianggap sebagai salah satu konstitusi tertulis pertama di dunia, menegaskan prinsip kebebasan beragama, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif (Hamidullah, 1975). Bagi para sejarawan Muslim klasik, seperti al-Tabari dalam Ta’rikh al-rusul wa al-muluk, Piagam Madinah menjadi bukti kebijaksanaan Nabi dalam mengatur masyarakat majemuk di Madinah (al-Tabari, 1989).
Selain itu, keagungan Nabi terlihat dari kelembutan dan kasih sayangnya kepada umat manusia. Bukan terbatas pada kaum muslimin saja. Hadis-hadis sahih menggambarkan Muhammad sebagai pribadi penuh empati. Ia memendekkan salat ketika mendengar bayi menangis, agar sang ibu tidak terbebani (al-Bukhari, Sahih, Kitab al-Adhan, no. 707). Karen Armstrong (2006), dalam biografinya Muhammad: A Prophet for Our Time, menekankan bahwa kelembutan inilah yang membuat Nabi mampu mengubah masyarakat Arab dari komunitas tribalistik kesukuan yang keras jadi peradaban yang menjunjung tinggi solidaritas sosial. Keagungan Nabi bukan semata pada mukjizat, melainkan pada keberhasilan historisnya membangun masyarakat berkeadilan dan penuh kasih.
Nah, setiap zaman tentu memiliki caranya sendiri dalam “memotret” tokoh besar dalam sejarah. Di Eropa, figur Nabi Muhammad tidak pernah hanya dipandang sebagai tokoh religius kaum muslimin, tetapi juga sebagai simbol yang merefleksikan kegelisahan intelektual. Gambaran tentang otoritas agama, rasionalitas, kolonialisme, hingga identitas modern. Karena itu, membaca jejak intelektual Barat tentang Nabi Muhammad sama artinya dengan memotret sejarah Eropa sendiri. Dari abad pertengahan yang dipenuhi polemik teologis, ke abad Pencerahan yang mengagungkan akal, kolonialisme yang sarat dominasi dan peperangan, hingga era global dan saat ini yang lebih pluralistik.
Sang Nabi sebagai “Heresiark”
Pada Abad Pertengahan atau dikenal Abad Kegelapan di Eropa, agama Kristen memainkan peran sentral dalam politik. Bahkan terkenal kredo, “tidak ada kebenaran yang berasal dari luar gereja”. Pada abad ini dikenal istilah heresiark, berarti “pemimpin ajaran sesat” (heresy = ajaran sesat, arch = pemimpin). Tokoh seperti Yohanes dari Damaskus (749 M) menulis tentang Islam sebagai heresy of the Ishmaelites, atau “ajaran sesat keturunan Ismail” (Sahas, 1972). Muhammad dilihat bukan sebagai nabi baru, melainkan tokoh yang menyimpangkan ajaran Kristen.
Petrus Venerabilis, seorang kepala biara Cluny pada abad ke-12, bahkan memprakarsai penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Latin. Namun, tujuannya bukan untuk memahami, melainkan menyanggah ajaran Islam. Bagi kalangan gereja Latin, mengenal Nabi berarti “mempersenjatai diri” untuk Perang Salib. Di sini kita melihat, pandangan Barat tidak berdiri netral. Muhammad adalah potret kekhawatiran internal mereka sendiri, soal otoritas gereja dan ancaman militer-politik Islam pada masa itu (Tolan, 2019).
Sang Nabi sebagai “Impostor” atau Pembaharu
Memasuki abad ke-16 dan ke-17, ketika Eropa diguncang Reformasi Protestan, figur Muhammad kembali digunakan sebagai metafora. Humphrey Prideaux, seorang pendeta Anglikan, menulis buku berjudul The True Nature of Imposture Fully Display’d in the Life of Mahomet (1697). Kata imposture berarti “penipuan besar”. Prideaux memosisikan Nabi sebagai “penipu agama” untuk menyindir Katolik, yang ia anggap sama-sama menipu umat (Prideaux, 1697).
Namun, tidak semua sejalan. Henry Stubbe, seorang pemikir rasionalis, justru menulis An Account of the Rise and Progress of Mahometanism (1671/1911). Ia menilai Islam lebih rasional daripada doktrin Trinitas dalam Kristen, dan melihat Muhammad dengan penuh kewaspadaan (Stubbe, 1911).
Kedua teks itu memperlihatkan paradoks. Satu sisi Nabi dijadikan simbol kebohongan, di sisi lain simbol pembaruan dan rasionalitas. Lagi-lagi, perdebatan ini bukan soal Muhammad sebagai tokoh sejarah Arab, melainkan soal pertarungan ide di Eropa sendiri.
Di abad ke-18, Eropa memasuki Abad Pencerahan. Sebuah gerakan intelektual yang menekankan akal (reason) di atas dogma yang kemudian hari mengubah pembacaan terhadap Nabi Muhammad dengan nuansa baru. Voltaire menulis drama Mahomet ou le fanatisme le Prophete (1741). Bagi Voltaire, Muhammad sebagai tokoh alegoris untuk mengkritik “fanatisme agama”. Dengan kekuatan personifikasi Muhammad, ia menyerang gereja Eropa (Voltaire, 1741).
Edward Gibbon dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire (1776–1789) memberi penilaian lebih seimbang. Ia menggambarkan Nabi sebagai pemimpin religius sekaligus politik yang berhasil membangun komunitas yang solid. Walau tetap skeptis, Gibbon menolak pandangan lama tentang Nabi sebagai penipu (Gibbon, 1788/1845). Era ini menandai lahirnya “pembacaan rasional” terhadap sejarah Nabi, di mana fakta sosial-politik dijadikan argumen ketimbang demonisasi (mempersetankan).
Sang Nabi sebagai Pahlawan
Romantisisme, gerakan budaya abad ke-19 yang menekankan emosi, ketulusan, dan “jiwa pahlawan”, membawa arah baru. Thomas Carlyle, dalam kuliah terkenalnya On Heroes, Hero-Worship and the Heroic in History (1840), menempatkan Nabi Muhammad sebagai “Hero as Prophet” (pahlawan sebagai nabi). Carlyle menolak pandangan bahwa Nabi seorang “impostor”. Baginya, ketulusan Muhammad adalah sumber kekuatan dakwahnya (Carlyle, 1840). Pujian Carlyle membuka pintu simpati baru di kalangan Eropa dan Amerika. Namun, itu tetap refleksi kebutuhan zaman yang mencari figur teladan di tengah dunia yang dianggap makin materialistis.
Abad ke-19 dikenal dengan era Orientalisme, yaitu kajian tentang dunia Timur oleh sarjana Barat, yang sering berkelindan dengan kolonialisme. William Muir, seorang orientalis Skotlandia, menulis Life of Mahomet (1858–61). Ia membagi fase Mekah (spiritual keagamaan) dan Madinah (ekspansi politik), lalu menilai Nabi “menyimpang” setelah Hijrah. Kesan bias moral Protestan terasa kuat (Muir, 1858).
Aloys Sprenger (1851) mencoba pendekatan filologis, menelaah kritis sumber-sumber yang berasal dari Arab dan dunia Islam. Namun, bias kolonial tetap melekat. Muhammad sering dinilai dengan standar moral Eropa abad ke-19. Karya-karya ini membentuk persepsi populer di Barat selama puluhan tahun. Nabi adalah pemimpin kuat, tetapi penuh kontradiksi moral.
Pasca Perang Dunia II, pendekatan semakin beragam. W. Montgomery Watt dalam Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956) menggambarkan Nabi sebagai sosok tulus sekaligus negarawan. Watt menolak label “penipu” dan justru menekankan kemampuan Nabi mengatasi politik suku Arab (Watt, 1953/1956/1961). Maxime Rodinson, seorang sejarawan Marxis terkemuka, menulis Muhammad (1961/1971). Ia membaca Nabi dari kacamata materialis, bahwa Islam lahir dari perubahan ekonomi-sosial di Mekah. Bagi Rodinson, wahyu tak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi pedagang Quraisy (Rodinson, 1971). Dan, Annemarie Schimmel, sarjana Jerman, menulis And Muhammad is His Messenger (1985). Ia menyoroti bagaimana umat Islam mengekspresikan kecintaan (mahabbah) kepada Nabi dalam puisi, seni, dan penyerahan diri. Schimmel membawa “wajah lembut” Nabi ke dunia Barat (Schimmel, 1985). Tiga arus ini menunjukkan pergeseran fokus. Dari otentisitas moral Nabi, ke konteks sosial-ekonomi, lalu ke penghayatan spiritual.
Gelombang revisionis kemudian datang. Para sarjana mulai meragukan sumber-sumber yang sebelumnya digunakan sebagai rujukan. Akhir 1970-an muncul “mazhab revisionis” yang mengguncang fondasi studi Islam. John Wansbrough dalam Quranic Studies (1977) berargumen bahwa Al-Qur’an adalah produk redaksi panjang selama beberapa abad, bukan teks yang selesai di zaman Nabi (Wansbrough, 1977). Patricia Crone dan Michael Cook menulis Hagarism (1977), mencoba menulis sejarah Islam awal hanya dari sumber non-Muslim. Hasilnya sangat radikal, mereka menggambarkan Nabi sebagai bagian dari gerakan Yahudi-Arab, bukan pusat tunggal Islam.
Meski banyak pandangan revisionis kini mendapat resistensi dan kritik keras bahkan kecaman, namun pengaruhnya cukup besar. Para sarjana mulai menelaah hadis dan sirah (sejarah) dengan metode alternatif, misalnya analisis sanad (rantai periwayatan) dan matan (isi teks).
Abad ke-21 menemukan sintesis baru. Hari ini, kajian Barat tentang Islam lebih kaya dan majemuk. Fred Donner dalam Muhammad and the Believers (2010) berargumen bahwa gerakan awal Nabi bukan hanya “Islam”, melainkan komunitas ahli kitab yang juga beriman terhadap Tuhan, mereka mencakup Yahudi dan Kristen monoteis percaya kewahyuan Muhammad (Donner, 2010). Angelika Neuwirth dalam The Qur’an and Late Antiquity (2019) menempatkan Al-Qur’an dalam konteks budaya Late Antiquity, yaitu fase evolusi dan perpecahan Kekaisaran Romawi yang meninggalkan pengaruh budaya Yunani Kuno dan beralih ke bentuk-bentuk seni dan simbolisme yang lebih religius. Era ini merupakan periode transisi dari dunia Romawi ke Islam, penuh interaksi dengan tradisi Yahudi dan Kristen (Neuwirth, 2019). Jonathan A.C. Brown lewat Muhammad: A Very Short Introduction (2011) menjembatani antara riset akademik dan tradisi Muslim, menyajikan Nabi sebagai figur historis dan teladan spiritual (Brown, 2011).
Kecia Ali (lahir 1972) seorang sarjana Islam asal Amerika yang fokus pada studi yurisprudensi Islam, etika, gender, dan penulisan biografi, dalam bukunya The Lives of Muhammad (2014) menekankan bahwa tidak ada “satu biografi” Nabi, melainkan banyak wajah “kehidupan” yang ditulis sesuai kepentingan zamannya, baik oleh Muslim maupun non-Muslim (Ali, 2014). Pendekatan Kecia Ali ini lebih rendah hati. Alih-alih mencari “kebenaran definitif” tentang Nabi, mereka mengakui pluralitas wajah Muhammad di sepanjang sejarah penulisan.
“Muhammad” adalah Gambaran Barat Itu Sendiri
Dari kisah heresiark hingga epos kepahlawan, dari impostor alias penipu besar hingga negarawan, wajah Nabi Muhammad di Barat lebih sering menggambarkan pergulatan mereka sendiri ketimbang realitas sejarah Arab abad ke-7. Tulisan ini hanya mencermati bagian menonjol dan dianggap penting, belum sepenuhnya menggambarkan dinamika perdebatan intelektual di Barat tentang penggambaran Nabi Muhammad. Namun, studi modern membuka ruang dialog baru. Dengan pendekatan lintas disiplin, arkeologi, filologi, sejarah sosial, hingga kajian sastra. Figur Nabi kini bisa dibaca lebih berimbang dan adil. Tidak lagi semata cermin ketakutan, melainkan juga jendela membangun pengertian.
Bagi pembaca Indonesia, agaknya penting menelusuri jejak pandangan Barat ini bukan hanya mencari validasi. Justru sebaliknya. Pendekatan mengenali “Muhammad” yang selama ini dilakukan mengajarkan bahwa setiap bangsa, setiap zaman, punya “Muhammad” versinya sendiri. Dan, tidak kalah penting adalah bagaimana kita, sebagai umat dan bangsa yang hidup bersama semua agama dan kebudayaannya mampu menyusun narasi kita sendiri. Lebih jujur, tajam, simpatik, dan berakar pada konteks sejarah peradaban bangsa kita.
Daftar pustaka
- al-Bukhari, M. ibn Ismail. (n.d.). Sahih al-Bukhari.
- Ali, K. (2014). The lives of Muhammad. Harvard University Press.
- al-Tabari. (1989). The history of al-Tabari (Ta’rikh al-rusul wa al-muluk) (Vol. 7). State University of New York Press.
- Armstrong, K. (2006). Muhammad: A Prophet for our time. HarperCollins.
- Brown, J. A. C. (2011). Muhammad: A very short introduction. Oxford University Press.
- Carlyle, T. (1840/1841). On heroes, hero-worship, and the heroic in history. Project Gutenberg.
- Crone, P., & Cook, M. (1977). Hagarism: The making of the Islamic world. Cambridge University Press.
- Donner, F. M. (2010). Muhammad and the believers: At the origins of Islam. Belknap/Harvard University Press.
- Gibbon, E. (1788/1845). The history of the decline and fall of the Roman Empire. CCEL/Gutenberg editions.
- Hamidullah, M. (1975). The first written constitution in the world: An important document of the time of the Holy Prophet. Sh. Muhammad Ashraf.
- Muir, W. (1858–1861). The life of Mahomet and history of Islam to the era of the Hegira. London.
- Neuwirth, A. (2019). The Qur’an and Late Antiquity: A shared heritage. Oxford University Press.
- Prideaux, H. (1697). The true nature of imposture fully display’d in the life of Mahomet. London.
- Rodinson, M. (1971). Muhammad (A. Carter, Trans.). Pantheon. (French original 1961).
- Sahas, D. J. (1972). John of Damascus on Islam: The “Heresy of the Ishmaelites”. Brill.
- Schimmel, A. (1985). And Muhammad is His Messenger: The veneration of the Prophet in Islamic piety. University of North Carolina Press.
- Stubbe, H. (1911). An account of the rise and progress of Mahometanism. Luzac. (MS. c. 1671).
- Tolan, J. (2019). Faces of Muhammad: Western perceptions of the Prophet of Islam from the Middle Ages to today. Princeton University Press.
- Voltaire. (1741). Mahomet ou le fanatisme la Prophete. Paris.
- Wansbrough, J. (1977). Quranic studies: Sources and methods of scriptural interpretation. Oxford University Press.
- Watt, W. M. (1953/1956/1961). Muhammad at Mecca; Muhammad at Medina; Muhammad: Prophet and statesman. Oxford University Press.
Abi S Nugroho
Pengurus Lakpesdam PBNU
Editor:


