Agama Menyapa Alam: Sebuah Harapan dari Gerakan Ekoteologi

Agama Menyapa Alam: Sebuah Harapan dari Gerakan Ekoteologi

Dunia hari ini sedang menghadapi krisis lingkungan yang semakin nyata. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam 175 tahun terakhir, dengan suhu global rata-rata naik sekitar +1,55 °C dibanding era pra-industri (WMO, UNFCCC). Bahkan, Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan kita sudah memasuki era global boiling, bukan sekadar global warming. Dampaknya sangat terasa: cuaca ekstrem, badai, banjir, gagal panen, hingga pencairan es kutub yang mengancam kehidupan jutaan manusia.

Di sisi lain, kerusakan hutan global 2024 mencapai rekor 30 juta hektare dengan emisi kebakaran 4,1 gigaton CO₂e (GFW, El País). Di Indonesia, pemerintah mencatat deforestasi bersih mencapai 175 ribu hektare hanya dalam satu tahun (Mongabay, The Jakarta Post). Krisis ini diperparah oleh polusi plastik yang diprediksi akan tiga kali lipat pada 2060 bila tidak ada regulasi global yang lebih kuat (UNEP, OECD). Paris agreement 2015 menargetkan, masing-masing negara maksimal menghasilkan 1,5 derajat celcius di atas level pra-industri.  Tapi, faktanya, pada tahun 2023, rata-rata temperatur global mencapai 1,8 derajat Celsius, dan diprediksi akan terus semakin panas.

Bumi semakin panas. Kehidupan semakin tidak nyaman. Berbagai kerusakan alam terus terjadi yang tentu saja berdampak bagi kehidupan manusia di dalamnya. Sekitar 90% terumbu karang di Bali mengalami pemutihan (bleaching). BRIN (2024) menyatakan bahwa wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan telah mengalami peningkatan kekeringan dan hujan ekstrem, sementara Kalimantan diproyeksikan menghadapi kekeringan berkepanjangan di masa depan. Sementara itu, BMKG dan Kemenkopolkam mengidentifikasi lima bencana dengan risiko tinggi di tahun 2025 akibat perubahan iklim, yakni banjir, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, serta badai tropis (dirangkum dari berbagai media)

Tidak hanya itu, perubahan iklim membuat cuaca semakin tidak menentu. Para pelaut semakin susah mencari ikan. Tidak sedikit diantaranya yang menjadi korban keganasan ombak. Es kutub terus mencair, membuat air laut terus naik. Sungai-sungai banyak yang mengering. Gagal panen dimana-mana, membuat harga beras dan sayuran semakin mahal. Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan orang di bumi meninggalkan tempat tinggalnya karena langganan banjir. Mencari tempat yang lebih tinggi dan nyaman.

Agama dan Ekologi: Perpaduan Kekuatan
Kerusakan lingkungan, lebih banyak disebabkan oleh perilaku manusia (anthropogenic climate change). Tesis ini sudah menjadi konsensus ilmiah global. Dalam situasi ini, agama memainkan peran besar sebagai motor perubahan sosial. Liobikiene (2016) menyebut bahwa 70% penduduk dunia adalah pemeluk agama. Gerakan penyelamatan lingkungan akan lebih kuat jika digerakkan dengan bahasa moral dan spiritual.

Selama ini, agama seringkali dituding hanya berkutat pada aspek mistis eskatologis. Terjebak pada doktrin fatalis yang tidak terkait dengan kehidupan real yang dialami masyarakat. Agama juga kerap dituding terjebak pada aspek identitas tanpa menghiraukan nilai universal. Kebenaran seseorang hanya diukur dari aspek identitas primordial, tanpa memperdulikan sama sekali kontribusinya bagi kehidupan. Padahal, sejak kelahirannya, semua agama, khususnya Islam, menyerukan umatnya untuk menebarkan kemaslahatan di muka bumi (QS. Al-Qashash (28): 77), termasuk menjaga dan merawat alam (QS. Hud (11): 61).

Di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi menjadikan ekoteologi sebagai program prioritas nasional. Menteri Agama, Prof. Nasarudin Umar sebagai inisiator, menunjukkan keseriusan dalam gerakan Ekoteologi. Ini terlihat pada terbitnya KMA Nomor 244 Tahun 2025 tentang Asta Program Prioritas, di mana penguatan ekoteologi masuk sebagai pilar utama. Kebijakan ini ditindaklanjuti dengan SE Sekjen Kemenag Nomor 182 Tahun 2025 yang menginstruksikan Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa di madrasah, pesantren, hingga kantor KUA.

Sebagai bagian dari Kemenag, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) juga menggelorakan kepedulian lingkungan melalui program KKN, program penelitian dan pengabdian masyarakat, hingga integrasi materi ekoteologi dalam perkuliahan. Pada kegiatan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) tanggal 20 Agustus 2025, UIN Gus Dur juga melakukan kegiatan penanaman pohon Matoa secara massal, sebagai simbol perduli lingkungan.

UIN Gus Dur tentu tidak sendiri. Berbagai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kemenag, tentu akan mengikuti gerakan ekoteologi yang menjadi salah satu program prioritasnya. Saat ini, terdapat 59 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan lebih dari 870 PTKIS tersebar di Indonesia. Untuk Tingkat sekolah, terdapat 87.397 Madrasah. 4.046 diantaranya berstatus Negeri, dan 83.351 adalah swasta. Sedangkan, jumlah pesantren dibawah naungan Kemenag, hingga Agustus 2024, mencapai 41.220 lembaga.

Kemenag, dan berbagai lembaga keislaman dibawah naungannya, melalui gerakan ekoteologi, secara bersama-sama, dapat membentuk struktur sosial baru (Giddens 1984) yang lebih ramah lingkungan. Proses ini tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Merubah cara pandang yang mengarah pada perilaku dan akhirnya membentuk kebiasaan, membutuhkan proses panjang. Pun dukungan bersama yang tidak terjebak pada aspek formalitas birokratis, tapi dilandasi oleh kesadaran kritis. 

Agama, sudah waktunya menunjukkan wajah teduhnya sebagai inspirator utama dalam menyelamatkan lingkungan. Melalui gerakan ekoteologi, kita bisa menjawab tudingan Nasr, yang mengatakan bahwa krisis ekologi berakar dari hilangnya kesadaran spiritual tentang kesucian alam (Nasr 1968). Sekaligus, kita bisa menjawab harapan Tucker, bahwa agama harus hadir sebagai kekuatan moral dan kultural dalam menyelamatkan bumi (Tucker 2003).


$data['detail']->authorKontri->kontri

Zaenal Mustakim
Rektor Universitas Islam Negeri KH Abdurrahman Wahid (UIN Pekalongan)


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo