Nusron Wahid Bukan Jin....

Nusron Wahid Bukan Jin....

SEMALAM saya menonton film Aladin. Ia punya kawan jin lampu (Genie of The Lamp) bernama Mustafa, yang keluar kalau lampunya dielus-elus. Mustafa sakti benar, cukup menjentikkan jari, lalu "cling...," barang ini dan itu segera muncul. Di lain cerita ia bisa menghilang, hanya sekedipan mata, kemudian "cling...," bisa berubah bentuk menyerupai apa dan siapa saja.

Dengan kemampuan seperti itu, sangat muskil manusia melawannya. Jakfar saja, dukun sakti musuhnya Aladin pada akhirnya kalah. Beruntungnya dalam cerita Jin Mustafa ini tergolong lelembut yang baik, bahkan cenderung kocak, setia mengabdi dan sangat patuh pada tuannya: Si Aladin.

Dalam kisah 1001 Malam kemudian dikembangkan ke dalam berbagai versi wiracerita, konon Mustafa hanya kalah oleh sesama jin bernama Lahab. Kedua jin ini musuh bebuyutan, lawan tanding setara. Ending perseteruan keduanya berakhir damai dan tenang.

Dari i'tibar cerita perseteruan dua jin ini, maka benarlah nasihat para cerdik pandai, bahwa dalam perang dikenal konsep peer competitor atau lawan yang setara, sama-sama kuat sehingga sulit menang salah satunya. Konsep ini diadaptasi dalam siasat perang konvensional, untuk mengalahkan musuh kuat maka harus dibenturkan dengan musuh kuat pula: preman lawan setara dengan sesama preman, kekuatan bisnis dilawan secara bisnis, perang politik dilawan secara politik, melawan pendekar diatasi dengan pendekar, melawan jin ya harus dengan jin. Dalam konteks inilah kecakapan siasat perang simetri itu menjadi kunci dalam palagan perang.

Dari cerita Jin Mustafa itu mari melompat ke narasi peristiwa yang ramai akhir-akhir ini, ketika gaduh berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap pimpinan PT Summarecon dan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian ATR BPN, menteri yang dinakhodai Nusron Wahid. Bahkan empat tersangka di antaranya, kasak-kusuk di luaran mereka itu kaki tangan Nusron, meskipun secara hukum belum ada bukti.

Konon, setelah OTT tersebut banyak wartawan mencari Nusron, namun kesulitan dalam beberapa hari. Bahkan ada lelucon yang mengatakan Nusron menghilang, sulit dihubungi, sampai-sampai akun media sosialnya juga dikunci. Padahal saat itu, konfirmasi kepada Nusron penting mengingat jabatannya sebagai menteri. Ia bukan tukang bubur mau haji yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Apalagi, informasi secara pesat menyebut kasus OTT melibatkan sejumlah nama tersangka orang dekatnya.

Tapi bukan Nusron namanya kalau enggak melempar lelucon. Kocaknya, saat tiba waktunya ia nongol di depan media, secara enteng saja menjawab pertanyaan media dengan gurauan. Ketika ditanya ke mana saja kok menghilang beberapa hari ini, ia menjawab, "Masak kita menghilang kayak jin, ya..?" yang dinukil banyak media.

Begitulah dia, selalu memiliki jawaban yang mengejutkan sekaligus jenaka. Saya mengikuti jawaban Nusron itu, jujur sulit menahan tawa. Saya sampai menghayal, membayangkan Nusron Wahid seperti Mustafa yang keluar dari lampu ajaib. Saya membayangkan beberapa hari ini Nusron naik permadani terbang keliling khayangan mencari suaka ke alam malaikat atau dewa-dewa. Saya membayangkan juga dia "cling...: menghilang kemudian menyamar entah ke mana, menyaru menjadi siapa pun di dunia antah berantah sana.

Nusron memang diliputi banyak cerita. Bagi manusia-manusia politik, diksi yang sering saya dengar, bahwa Nusron memang "piawai". Banyak kawan aktivis muda mengagumi sepakterjangnya. Sampai ada yang menjulukinya real pendekar politik. Dalam situasi paling genting apapun, kartunya selalu hidup. Tiba-tiba "cling...," nempel di sana, nempel di sini, bisa berperan di mana saja, menjadi apa saja. Ia misalnya, nyaris tidak pernah kalah dalam pertarungan legislatif, punya posisi kuat di partai, tiba-tiba menjadi menteri, terakhir dalam keberisikan Muktamar ke-35 NU, nama Nusron tetaplah kuat di sentral permainan utama. Luar biasa.

Akan tetapi, dalam setiap epos pergerakan, kecerdikan atau kepiawaian seseorang itu tidak bebas nilai, tidak berada di ruang hampa. Cerdik bagi sebagian orang memiliki perbedaan yang sangat tipis dengan licik, tergantung siapa yang menafsirinya. Ia akan selalu ada yang memuji, namun pada saat yang sama akan selalu ada yang membenci. Dalam satu waktu dia bisa jadi punya banyak kawan, tapi sekaligus menciptakan banyak lawan (musuh).

Maka silogisme berpikirnya, ketika saya bilang Nusron itu cerdik, artinya ada juga orang lain yang berpikiran licik. Ketika hari ini saya memuji Nusron, bisa jadi di tempat lain ada yang mencaci. Begitu pula ketika saya bilang Nusron itu sekarang hebat punya banyak kawan koalisi, maka bisa jadi musuhnya tidak kalah banyak pula. Dan dari segala hal yang bersifat antitesa Nusron itu, jangan-jangan ada yang kecerdikan atau kepiawaiannya setara (simetris).

Pada akhirnya, tulisan pendek tentang Nusron Bukan Jin ... ini saya tutup dengan petuah lama, bahwa kecerdikan itu bukan segala-galanya. Bahwa "orang bodoh memang kalah dengan orang cerdik, tapi orang cerdik pada akhirnya bisa saja kalah sama orang baik, orang bijak yang sabar." Jadi yang harus diwaspadai Nusron sekarang bukan lawan yang cerdik, tapi ledakan amarah orang-orang baik yang menyabarkan diri. Karena kemarahan orang sabar itu berarti alert yang teramat berbahaya.

Kecuali, seperti imajinasi saya di atas tadi, Nusron bisa berubah menjadi jin. "Cling....," melenyapkan diri dari peredaran, atau menjentikkan jari membuat lawan-lawannya menghilang. Tapi karena Nusron bukan jin, ia bisa memilih menjadi sebaik Aladin.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo