Sejarah dimulai di STOVIA. Mereka masih muda. Di keseharian, mereka fasih berbahasa Belanda. Hidup dan belajar di Batavia membuat kaum muda dari pelbagai desa dan kota bergaul dalam beragam kepentingan. Di STOVIA, mereka belajar ilmu-ilmu modern dan mengangankan bakal menjadi dokter atau pegawai kesehatan di zaman “kemadjoean”. Mereka sibuk belajar dengan bahasa milik penjajah tapi tak kehilangan selera berbahasa ibu atau membesarkan bahasa Melayu.
Kesadaran ilmu-ilmu (modern) perlahan bertambah dengan ide-ide memajukan tanah jajahan. Mereka bermufakat membuat perkumpulan dengan pamrih berpihak atas nasib kaum terjajah dan adu siasat berhadapan pemerintah-kolonial Belanda. Pamrih-pamrih menggerakkan sejarah itu lekas berhadapan dengan selera kaum priyayi atau feodal. Janji dan angan membuat perubahan-perubahan di Hindia Belanda menimbulkan ketegangan dan sengketa setelah berhasil membentuk Boedi Oetomo: 20 Mei 1908.
Hasrat dibesarkan di STOVIA dengan alur kedokteran memiliki “kemuliaan” saat kaum muda mengetahui aib-aib dan kesengsaraan kaum terjajah. Mereka pun sadar kemunculan elite terpelajar dan pembesaran ide-ide politik. Di buku berjudul Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia (2005), AA Loedin menjelaskan: “Pendidikan kedokteran di Indonesia dimulai pada 1851 dengan didirikannya DokteR-Djawa School di Militair Hospitaal di Weltevreden. Pada 1989, nama sekolah diganti menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Karena istilan Inlander mempunyai konotasi negatif maka nama sekolah diganti lagi menjadi Chool tot Opleiding van Indische Artsen.”
Nama untuk sekolah bermasalah. Kaum terpelajar di STOVIA saat berani membentuk perkumpulan sadar tak mau memberi nama dalam bahasa Belanda. Mereka masih berpijak bahasa digunakan bumiputra: Boedi Oetomo.
Institusi dalam perintah dan ejawantah kepentingan kolonial atau modernitas ditanggapi kaum terpelajar berlatar Jawa dengan perkumpulan. Kerja-kerja ingin dibuktikan pun mengalami ketegangan dalam penggunaan bahasa: Jawa, Belanda, dan Melayu. Perkara bahasa digenapi dengan perselisihan arus pembentukan identitas dan sengketa ideologi.
Kita mengenang sosok pemberani tercatat di STOVIA dan Boedi Oetomo (babak awal). Sosok itu bernama Tjipto Mangoenkoesoemo. Ia berada di STOVIA dengan beragam keunikan. M Balfas (1952) mengisahkan: “Tidak bisa tidak, waktu di STOVIA djiwanja sudah mulai beragi, padanja sudah ada perpetjahan dengan dunia sekelilingnja. Dia sudah mulai suka berpidato… Pada masa itu, murid-murid STOVIA diwadjibkan mengenakan pakaian kebangsaannja (daerahnja) masing-masing. Tjipto memilih badju kromo sebagai badjunja. Dengan pakaia itu, agak dekil dan kumla, berambung gondrong jang kelihatan keluar dari songkoknja, sambil mengisap rokok kemenjan dan mata menentang hadirin – djuga guru-gurunja bangsa Belanda dilawan dengan matanja – ia memproklamasikan dirinja: aku adalah anak dari rakjat, anak si kromo.”
Tjipto Mangoenkoesoemo mula-mula turut memberi pujian dan tepuk tangan atas keberanian mendirikan Boedi Oetomo. Bentrok terjadi saat ia mengetahui kaum muda mudah “jinak” oleh kehadiran dan pengaruh kaum tua. Mimpi-mimpi perubahan dianggap bakal “lesu” akibat tokoh-tokoh (tua) dalam struktur pengurus Orde Baru. Pemerintah kolonial Belanda pun berusaha membuat dikte-dikte agar Boedi Oetomo tak bertumbuh menjadi radikal. Tjipto Mangoenkoesoemo menempuh jalan lain meski sempat dalam pergumulan bersama kaum terpelajar di STOVIA.
STOVIA itu tempat, ruang, dan titik sejarah menggeliat memuat perdebatan dan tuduhan-tuduhan. Terang atau “sinar” membentuk “kemadjoean” turut ditentukan STOVIA. Hans Pols dalam buku berjudul Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2019) menerangkan: “Dengan menggunakan alat intelektual yang mereka dapatkan selama pendidikan medis, para dokter dan pelajar kedokteran Hindia Belanda menjadi ahli diagnosis masyarakat kolonial. Mereka menganalisis proses evolusi sosial dan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menghambat atau mempercepatnya, dan mendiagnosis ancaman-ancaman terhadap kesehatan tubuh sosial kolonial sambil memikirkan cara untuk menetralisirnya. Namun, terlepas dari konsensus tentang peran sosiologis, mereka menunjukkan pandangan yang berbeda dan terkadang tidak sesuai mengenai penyakit masyarakat kolonial, arah gerakan nasionalis, dan masa depan Nusantara.” Penjelasan sejarah itu mengajak kita mengenali nama-nama dan kiprah. Kita sengaja tak memusatkan perhatian untuk tokoh bernama Soetomo.
Kita justru ingin mengingat STOVIA dan Tirto Adhi Soerjo. Ia melek ideologi tapi tampil moncer sebagai jurnalis dan pengarang cerita. Ia mula-mula bernama Djokomono, meninggalkan Rembang saat remaja. Ia menuju Betawi melanjutkan studi di STOVIA, awal abad XX. Pramoedya Ananta Toer (1985) memberi tafsir: “Dapat dibayangkan Djokomono tak melewatkan semua kesenangan. Ia seorang raden mas, yang pada masanya menduduki tingkat atas kebangsawanan yang diindahkan orang. Jarang seorang raden mas mau melanjutkan pelajaran ke sekolah dokter. Bahkan dapat dikatakan keluarbiasaan.” Di Betawi, Djokomono atau Tirto Adhi Soerjo mengalami perubahan-perubahan besar dalam selera bahasa, pemikiran, busana, bacaan, dan lain-lain.
Di cerita berjudul Busono (1912), Tirto Adhi Soerjo mengisahkan tokoh di STOVIA dalam urusan asmara dan pekerjaan (pers). Perkenalan awal di cerita: “Meski sudah keloear dari sekolah dokter, Boesono masih erat bergaoel dengan mereka. Di loearan ia beloem mendapat kawan, beloem banjak kenalan masih selaloe tertambat pada teman-teman sekolah dokter.”
STOVIA memunculkan kaum intelektual setelah belajar ilmu-ilmu modern. Mereka tak berjanji lulus untuk menjadi dokter. Para tokoh pernah belajar di STOVIA atau berhasil lulus kadang memilih pekerjaan berbeda, tak mengikuti alur kebijakan kesehatan atau kedokteran. Tirto Adhi Soerjo mengenalkan tokoh telah mendapat beragam ilmu dan pergaulan di STOVIA dengan bertumbuh menjadi jurnalis dan pengarang.
Kini, 20 Mei 2024, kita masih selalu mengingat Boedi Oetomo. Kita masih mungkin mengikutkan hal-hal berkaitan agar sejarah tak satu alur. Sejarah itu bergerak dari STOVIA. Tokoh-tokoh berkaitan STOVIA tak cuma Soetomo sebagai tokoh (penting) dalam pembentukan Boedi Oetomo. Kita jangan melupa halaman-halaman sejarah bercap “kebangkitan” mencantumkan nama Tjipto Mangoenkoesoemo (dokter) dan Tirto Adhi Soerjo (jurnalis). Mereka ikut menggerakkan ide-ide dan mencipta sejarah. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


