Islam sebagai salah satu agama besar dunia, pertama kali muncul di Mekkah, pada 610 Masehi. Agama yang dibawa kanjeng Nabi Muhammad SAW ini awalnya hanya dianut oleh sebagian kecil orang, dan cuma berpengaruh di jazirah Arab saja. Namun seiring berjalannya waktu, penganut Islam justru membesar, dan pengaruhnya meluas ke berbagai wilayah lain di luar Arab. Menurut Fazlur Rahman dalam Islam: Sejarah Pemikian dan Peradaban (1979), meluasnya pengaruh Islam terjadi hanya dalam waktu satu abad saja dengan menguasai wilayah yang membentang luas dari Spanyol di Barat, melintang ke Asia Tengah hingga sungai Indus di Timur.
Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests: Penaklukan Terbesar dalam Sejarah Islam yang Mengubah Dunia (2010), mengungkapkan bahwa kecepatan perluasan pengaruh Islam yang sedemikian luar biasa ini hanya bisa ditandingi oleh Alexander Agung dan Genghis Khan. Islam yang mulanya berupa komunitas kecil, bertransformasi menjadi peradaban besar yang sangat maju di dunia.
Kemajuan ini mencapai puncaknya pada abad 8-12 Masehi. Di bawah penguasaan Kesultanan Bani Abbasiyah, peradaban Islam merengguk kedigdayaan di berbagai bidang seperti ekonomi, militer, seni budaya, dan ilmu pengetahuan. Islam menjadi mercusuar dunia. Setelah menggapai kemajuan selama hampir empat abad, peradaban Islam perlahan-lahan mengalami kemunduran pada abad 12-14 Masehi. Ketika peradaban Islam meredup, peradaban Barat justru sebaliknya. Mereka malah sedang memasuki era pembaharuan pemikiran besar-besaran. Pembaharuan inilah yang nantinya menjadi ujung kekuatan mengambil alih kemajuan peradaban dunia dari tangan umat muslim.
Teori kemunduran Islam
Menurut Ahmed T. Kuru dalam Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2021), setidaknya ada dua pendekatan teoritis utama sebagai upaya menjelaskan mengapa peradaban Islam mengalami kemunduran. Pertama, pendekatan esensialis yang menunjuk Islam sebagai sumber utama masalah-masalah muslim masa kini. Islam di sini maksudnya ialah ada ajaran/nilai dalam Islam yang tidak cocok dengan kemajuan. Kedua, pendekatan pasca-kolonial atau antikolonial yang menyoroti kolonialisasi Barat atas negara-negara muslim sebagai penyebab masalah-masalah kontemporer pada masyarakat muslim.
Kedua pendekatan ini menurut Kuru problematis. Pasalnya, apabila dikatakan bahwa peradaban Islam mundur karena ada nilai-nilai esensial dalam internal Islam yang membuat dirinya tertinggal dengan peradaban Barat, pada kenyataannya sejarah mencatat bahwa di abad 8-12 Masehi peradaban muslim membuktikan pencapaian ilmu pengetahuan dan ekonomi yang unggul yang menandakan Islam sebenarnya bisa maju. Selain itu, jika dikatakan bahwa ekspansi Barat terhadap negeri muslim sebagai penyebab kemunduran Islam, faktanya sebelum umat Islam diserang oleh Barat, Islam telah mengalami kemunduran dalam sisi politik dan ekonomi. Umat Islam telah terpecah ke banyak faksi dan aliran. Serangan militer Barat kepada Islam sebenarnya adalah pamungkas dari kompleksitas masalah di tubuh umat Islam sendiri.
Dalam buku yang sama, Kuru selanjutnya berpendapat bahwa Islam mengalami kemunduran karena ada semacam aliansi antara ulama konservatif dengan penguasa yang membuat peradaban Islam tidak lagi bisa berkembang. Menurut Kuru, peradaban Islam bisa menggapai kemajuan dalam berbagai bidang di masa jayanya disebabkan ada kebebasan berpikir di kalangan umat Islam. Kebebasan ini tercipta karena kelas pedagang yang menjadi penyokong kelas intelektual tidak direpresi oleh khalifah. Para pedagang diberi kebebasan untuk beraktifitas sekaligus berpikir mengenai ilmu pengetahuan. Ketika kebebasan berpikir ini dibatasi oleh penguasa, hal itu berdampak pada kemandekan berpikir di tubuh umat Islam yang ujungnya memicu kemunduran peradaban Islam secara keseluruhan.
Hilangnya nalar
Tesis Ahmed Kuru ini tidak berbeda jauh dengan argumentasi Mustafa Akyol dalam Reopening Muslim Minds (2022). Dalam buku tersebut, Akyol menjelaskan panjang lebar tentang penyebab mengapa peradaban Islam tertinggal dari peradaban Barat. Perbedaan mendasar antara pendapat Kuru dan Akyol terletak pada titik tolak analisa mereka yang berlainan. Kuru fokus pada relasi struktural antara khalifah dan ulama konservatif yang menyebabkan peradaban Islam mundur. Akyol fokus pada bagaimana peradaban Islam kehilangan warisan nalar yang pernah membuat mereka dikenal sebagai peradaban besar pada abad-abad sebelumnya.
Mustafa Akyol menyebut bahwa peradaban Islam hari ini kehilangan kemampuan untuk mempergunakan nalar dalam menafsirkan dan mempraktikkan ajaran Islam. Padahal, nalar ini adalah pondasi penting yang membuat peradaban Islam berhasil mencapai kemajuan besar di abad 8-12 Masehi. Kenapa nalar dalam beragama ini bisa hilang? Akyol menjawab hal tersebut dengan mengajak kita untuk kembali melihat perdebatan antara dua kelompok teologis besar dalam sejarah peradaban Islam, yaitu Ahl Al-Ra’y dan Ahl Al-Hadist. Menurut Akyol, perdebatan keduanya berperan besar terhadap jalannya sejarah peradaban Islam hingga saat ini.
Ahl Al-Ra’y adalah kelompok pemikir yang menitikberatkan pada akal atau nalar dalam menafsirkan teks-teks Al-Quran dan pengambilan hukum. Kelompok ini umumnya berpusat di Bashrah dan Kuffah, Irak. Di antara mereka yang terkenal ialah Abu Hanifah yang para pengikutnya membentuk mazhab fiqih Hanafi. Di kemudian hari kelompok Ahl Al-Ra’y lebih sering disematkan pada Mu’tazilah walaupun sebenarnya tidak demikian. Sedangkan Ahl Al-Hadist ialah mereka yang menitikberatkan penafsiran teks-teks kitab suci dan pengambilan hukum pada dasar-dasar tekstual dalam rupa Al-Quran dan hadist Nabi. Mereka cenderung mengesampingkan peran akal dalam memahami teks Al-Quran dan hadist. Karenanya kelompok ini dikenal sebagai Ahl Al-Hadist. Salah satu ulama terkenal dari kelompok ini adalah Ahmad bin Hanbal yang nantinya menjadi mazhab fiqih Hanbali.
Kedua kelompok ini saling bersaing di masanya dengan pendekatan dan dasar argumentasi masing-masing. Menurut Akyol, tiap kelompok tersebut tidak bakal dapat berpengaruh kuat apabila tidak disokong oleh khalifah. Karena itu eksistensi keduanya sangat bergantung pada dukungan penguasa. Ada kalanya kelompok Ahl Al-Ra’y yang berkuasa karena khalifah yang memimpin mendukungnya. Tapi kadang justru Ahl Al-Hadist yang mendominasi intelektualisme negara ketika ada khalifah yang mendukungnya.
Saat satu kelompok ini berkuasa, hal itu akan berdampak pada intelektualisme yang berkembang di masyarakat. Ketika Ahl Al-Ra’y yang pro terhadap nalar berkuasa atas sokongan khalifah, yang terjadi adalah terciptanya kebebasan berpikir di kalangan kaum muslimin untuk menafsirkan ajaran agama. Tapi ketika Ahl Al-Hadist yang berkuasa, hal itu juga berdampak pada dinamika pemikiran kaum muslimin. Yang berkembang di era ini ialah pendekatan tekstual dalam memaknai ajaran Islam. Nalar atau akal dikesampingkan dalam proses beragama. Di era ketika Ahl Al-Ra’y berkuasa, peradaban Islam mencapai kejayaan dengan lahirnya para pemikir muslim yang berpengaruh besar terhadap pengetahuan dunia macam Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, dll.
Di tengah kemajuan tersebut, sejarah kemudian mencatat bahwa Ahl Al-Ra’y sebagai kelompok yang mengedepankan akal pengaruhnya kalah dengan Ahl Al-Hadist. Kekalahan ini bukan semata kekalahan intelektual, melainkan juga kekalahan politis karena tiap kelompok didukung oleh kekuatan politik.
Kekalahan itulah yang disebut Ahmed Kuru sebagai aliansi antara ulama konservatif dengan penguasa. Ulama konservatif di sini maksudnya ialah para Ahl Al-Hadist yang dalam perjalanan sejarah menjadi arus pemikiran dominan hingga sekarang.
Kalahnya nalar dalam pertarungan pemikiran dengan Ahl Al-Hadist menjadi jawaban atas pertanyaan kenapa nalar dalam beragama cenderung hilang dalam internal umat Islam. Jawabannya tak lain karena warisan tentang bagaimana beragama dengan mengedepankan nalar dibabat habis oleh Ahl Al-Hadist. Hal demikian yang nantinya berkontribusi besar terhadap kemandekan berpikir yang akhirnya melahirkan corak keberagaman yang konservatif.
Dampak kalahnya nalar ini kemudian membuat peradaban Islam tidak bisa lagi melahirkan pemikir-pemikir besar sekaliber Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, dll. Intelektual semacam itu justru lahir dari rahim peradaban Barat yang malah mencapai kemajuan karena mengembangkan nalar dalam kehidupan kesehariannya. Padahal dasar kemajuan barat itu dalam sejarahnya pernah berkembang pesat dalam sejarah dan ajaran Islam. Peradaban Islam mundur karena warisan untuk menggunakan nalar berhenti berkembang akibat konservatisme beragama di kalangan umat Islam.
Efek dari itu semua saat ini dirasakan bersama oleh umat Islam. Peradaban Islam kalah bersaing dengan peradaban Barat. Banyak negeri muslim yang masih terbelenggu perang saudara dan didera kemiskinan. Peradaban Islam tidak lagi menjadi penyuplai ilmuwan terkemuka dunia. Kenyataan itu menjadi sesuatu yang miris berkaca pada sejarah bahwa peradaban Islam pada masanya pernah menjadi mercusuar dunia.
Upaya besar untuk keluar dari belenggu kemunduran bukanlah dengan perang angkat senjata melawan peradaban Barat, atau berusaha mendirikan khilafah layaknya dinasti Abbasiyah dan berbagai dinasti lain, melainkan dengan mencoba meninjau ulang warisan intelektual yang dulu pernah menjadi pondasi dari semua kejayaan Islam. Jika ini terjadi, bukan tidak mungkin kisah kejayaan peradaban Islam masa lalu yang kini tak ubahnya sebuah dongeng bisa terwujud kembali.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor:


