Di buku-buku sejarah, kita biasa terpukau dengan kejadian-kejadian bertokoh Soekarno. Sejak masa 1920-an, ia tampil sebagai penggerak, pengisah, dan pembentuk sejarah. Pada masa berkuasa, Soekarno sangat sadar konsekuensi-konsekuensi sejarah untuk revolusi dan kemuliaan Indonesia di mata dunia. Ia pun terus membesarkan sejarah!
Pada 28 Oktober 1959, Soekarno berpidato tentang kepentingan membuat peringatan “besar-besaran” merujuk Sumpah Pemuda: “… dihadiri menteri-menteri daripada Kabinet Kerdja, tidak kurang daripada 20 menteri.” Acara itu diadakan di Surabaya, memastikan Soekarno tak main-main dengan sejarah dan siasat mencipta dampak politik. Para menteri diajak turut hadir dalam acara akbar, menghendaki pujian di mata kaum muda mengikuti acara. Pidato itu makin penting saat Soekarno memberi sapaan kepada Duta Besar Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sejarah diperingati dengan nalar kolosal.
Soekarno menerangkan kejadian 1928. Ia memberi tafsir mengenai akibat-akibat Sumpah Pemuda. Soekarno bukan guru sejarah tapi dengan mudah membuat ribuan orang mengangguk setuju dan paham. Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, kita mengingat Indonesia dengan kecamuk revolusi dan perselisihan ideologi. Soekarno dituduh dekat dengan kaum kiri. Pidato memuat ingatan disampaikan Soekarno: “Tatkala Bapak Semaoen dari Partai Komunis Indonesia djuga mengatakan bahwa bangsa Indonesia dari sabang sampai ke Merauke adalah satu bangsa, tidakkah apa jang mereka katakan itu sama serupa dengan isi Sumpah Pemuda?” Kita wajib menaruh kalimat dalam babak sejarah sedang ruwet dan ramai di Indonesia masa lalu. Peringatan itu memerlukan penghormatan atas pemikiran Semaoen.
Sumpah Pemuda mendapat pembesaran makna dalam agenda sejarah dan kekuasaan bertokoh Soekarno. Pidato menjadi pokok. Peringatan hari bersejarah bakal mencipta kesan-kesan dengan pidato. Kita mengetahui pidato-pidato Soekarno biasa disempurnakan wajah-wajah kagum dan tepuk tangan.
Sejarah tak dibiarkan sekadar diajarkan di sekolah. Sejarah dilanggengkan dengan penulisan buku-buku. Rezim Soekarno mementingkan buku-buku agar sejarah mengesahkan revolusi. Pada 1963, terbit buku berjudul Sedjarah Perdjuangan Pemuda Indonesia. Buku mengikuti kemauan dan kepentingan pemerintah. Buku diterbitkan kementerian dan Balai Pustaka. Di halaman awal, dipasang kutipan Soekarno: “Hanja bangsa jang dapat memetik peladjaran dari masa jang silam, dan tjakap mempergunakan pengalaman-pengalamannja dalam menghadapi masa depan, dapatlah bangsa itu mendjadi bangsa jang besar.”
Kita membaca kejadian-kejadian yang berpengaruh pada Sumpah Pemuda. Sejarah tak terpisah. Di halaman 51, kita membaca keterangan: “Sebagai akibat penindasan, tekanan, dan provokasi jang dilantjarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, maka meletuslah pemberontakan rakjat Indonesia pada bulan November 1926 di Djawa, dan pada bulan Djanuari 1927 di Sumatera. Meningkatnja perdjuangan rakjat Indonesia ini sudah tentu mempunjai gema dan pengaruhnja terhadap organisasi pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia makin mendjadi matang dalam politik dan organisasi, mereka mengemukakan tuntutannja makin terang, jaitu Indonesia merdeka.” Kita membaca urutan: 1926, 1927, dan 1928.
Kembali mengikuti pidato Soekarno (1959). Di hadapan kaum muda, ia mengingatkan: “Tatkala bapakmu dan kakakmu Bung Karno ini pada tahun 1926 djuga berkata bahwa kita sekalian adalah putera tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, tidakkah apa jang dikatakan oleh Bung Karno itu sama dengan apa jang dikatakan pada tahun 1928?” Soekarno menaruh diri di arus sejarah berpusat 1928. Kita diminta memberi pujian dan pengakuan atas gagasan Soekarno (1926) mendahului Sumpah Pemuda.
Pada 1926, sejarah ditandai dengan Kongres Pemuda I. Keith Foulcher (2000) justru mementingkan nama M. Yamin. Sosok penggubah sastra itu dianggap berani dan tepat dalam pengajuan bahasa demi “persatuan”. Ia menginginkan bahasa “Melajoe” sebagai dasar pengembangan masa depan Indonesia. Peran besar berlanjut saat Kongres Pemuda II (1928). Yamin menjadi pemikir dan penentu keputusan-keputusan bakal bersejarah. Di pidato 1959, Soekarno tak mengucap atau mengingat M Yamin.
Dua tokoh penting dalam melanggengkan makna dan pengaruh Sumpah Pemuda: Soekarno dan M Yamin. Mereka pernah bareng dalam menggugah sejarah. Kongres Bahasa Indonesia II (1954) di Medan menjadi titik penting jalinan Soekarno dan M Yamin. Pembukaan kongres pada 28 Oktober 1954. Tanggal itu bersejarah. Pemberian makna saat Indonesia merdeka, mengingat lagi sumpah mengenai Bahasa Indonesia dan pesona lagu gubahan WR Soepratman: “Indonesia Raya.” Keith Foulcher menjelaskan: “Dapat dicermati bahwa Yamin dan Soekarno sedang membangun sebuah simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi bangsa dan negara.” Sumpah Pemuda menjadi terlalu penting dalam sejarah dan pembentukan masa depan Indonesia.
Pada 1959, Soekarno kentara sangat memerlukan permufakatan agar jutaan orang bereferensi Sumpah Pemuda demi kemenangan revolusi Indonesia. Soekarno berkata: “Oleh karena isi daripada Sumpah Pemuda adalah satu sjarat jang mutlak, maka kita harus meresapi diri kita dengan isi Sumpah Pemuda itu sedalam-dalamnja. Saja berkata sjarat mutlak. Ja, sjarat mutlak. Sudah barang tentu kita mengadakan peringatan Sumpah pemuda ini untuk mempertebal kesadaran nasional kita. Sebab sekarang ini kesadaran nasional kita itu kadang-kadang sudah ndlewer, ada jang njeleweng, ada jang sudah mendjadi kintel, ada jang sudah mendjadi tempe: sudah tidak sebagai didalam alam romantiknja gerakan nasional sebelum kita mengadakan proklamasi tahun 1945, jang semua kita itu tebal kita punja kesadaran nasional.” Sejarah memang diinginkan mutlak dan tebal demi Indonesia mulia.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


