Keroncong adalah salah satu genre musik yang lahir dari persilangan budaya barat dan timur. Di Indonesia jenis musik ini mulai dikenal di Batavia. Keroncong, dalam ragam perdebatan, dan selalu mengundang perhatian yang didominasi oleh pertanyaan tentang asal-usul. Keroncong, meskipun ini spekulatif dapat dikatakan manifestasi dari perkembangan musik Fado Portugis yang sebelumnya mendapat pengaruh kuat dari genre musik bangsa Moor (Arab) kala menguasai jalur perdangangan di Lisbon, Portugis.
Awalnya, jenis musik fado diperkenalkan oleh bangsa Portugis sebagai sarana hiburan bagi para budak Portugis yang berasal dari Afrika Utara dan India. Para budak berkesempatan memainkan alat musik berkolaborasi bersama tuannya, memainkan sejenis musik kerakyatan Portugis yang disebut Fado. Demikian pula para budak yang berasal dari Maluku berkesempatan memainkan instrumen musik dengan mengadopsi gaya fado. Dari sinilah kisah tentang keroncong dimulai pada akhir abad ke-16.
Dari catatan sejarah menyebutkan bahwa musik fado sendiri masuk ke Indonesia sekitar tahun 1512. Jenis musik ini pertama kali masuk bersamaan dengan ekspedisi global ke-3 Portugis pimpinan Afonso de Albuquerque saat datang ke Malaka, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Maluku.
Portugis bersikeras menguasai Malaka karena wilayah tersebut memiliki kedudukan strategis dan peluang ekonomi potensial sebagai poros dagang dari India hingga China. Menaklukkan Malaka pada saat itu sama dengan menguasai perdagangan rempah-rempah Asia dan Eropa. Terlebih, jika mampu menguasai pelabuhan penting di Selat Malaka, maka ambisi Portugis memonopoli perdagangan akan terwujud mengingat selat ini merupakan jalur laut utama yang menghubungkan wilayah Nusantara dengan dunia luar.
Alfonso de Albuquerque tiba di Maluku bersama rombongan dengan membawa musik yang diberi nama Fado. Kata fado sendiri berasal dari bahasa latin, fatum, yang memiliki makna fate atau nasib. Fatum dapat pula berarti vates yang berarti menggubah lagu. Akar kata inilah yang kemudian mendasari konsep Fadista, sebutan untuk orang yang menyanyikan fado.
Banyak perdebatan mengenai akar muasal musik fado. Beberapa sumber menyebut, guitarra (gitar khas Portugis dengan dua belas senar) yang lazim digunakan untuk mengiringi fado, berasal dari alat petik Afrika Utara, tepatnya pengaruh orang Moor dari Afrika Utara yang Islami, yang masuk ke Portugal sejak abad ke-8 hingga 13 M. Lalu terdapat pula penelusuran musikalitas yang menemukan kemiripan fado dengan ritme lundu dan fofa yang dibawa oleh imigran Brazil ke Portugal pada tahun 1800an. Sementara kisah lain mengatakan, fado dikembangkan dari ratapan sunyi dan kerinduan para pelaut Portugis.
Meskipun memiliki beragam versi tentang muasalnya, fado merupakan ekspresi musik yang lahir di jalanan kota Lisbon, Portugal, dan berkembang menjadi soundscape tersendiri. Lila Ellen Gray, dalam Fado Resounding: Affective Politics and Urban Life, mengutip pandangan masyarakat Lisbon sebagai berikut, “Fado berasal dari Lisbon; fado dinyanyikan dengan jiwa Portugis (alma); fado adalah milik kita dan tentang kerinduan (saudade), mengungkapkan apa yang hilang dan mungkin tidak akan pernah ditemukan”.
Tumbuh dan Riwayatnya
Kekuasaan Portugis yang surut kemudian kekuasannya benar-benar digantikan oleh Belanda, tidak membuat musik yang biasa dimainkan hilang. Para budak asal Maluku yang tinggal di Kampung Tugu (Jakarta Utara), yang terlanjur terbiasa memainkan jenis musik fado, bersama keturunannya terus memainkan jenis musik ini. Dari waktu ke waktu musik ini selalu mengalami perubahan, hingga pada akhirnya pada abad ke-19, fado mengalami transformasi yang kemudian disebut dengan nama keroncong.
Gerry Ardian, dalam Keroncong, Musik Asli Indonesia dengan Segala Perkembangannya, menyebut keroncong sendiri secara kultur diketahui lahir tahun 1880. Dari awal masuknya fado di abad ke-16 tidak serta merta membuat musik tersebut merupakan musik keroncong. Kehadiran fado merupakan “akar” dari munculnya keroncong. Hanya sekadar “akar” yang mempengaruhi munculnya musik keroncong.
Musik Keroncong baru benar-benar hadir dan dikenal sebagai identitas musik dari Indonesia karena alat musik yang digunakannya adalah alat musik yang kental kaitannya dengan budaya Indonesia, seperti rebab, suling bambu dan juga set gamelan. Sejak saat itu, musik keroncong pun mulai banyak dikenal di seluruh dataran Indonesia, hingga pada akhirnya mulai kembali redup sekitar tahun 1960-an.
Salah satu penyebab redupnya musik keroncong, kata Gerry Ardian, karena mulai mendominasinya kultur musik populer di dunia seperti pop dan juga rok. Munculnya The Battle, di awal 1964, menjadi salah satu faktor cepatnya persebaran musik populer ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. The Beatles telah menjadi bintang internasional dan telah mencapai tingkat kesuksesan kritis dan komersial yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam perjalanannya, musik keroncong pernah mengalami masa keemasan dan sangat populer di kalangan anak muda pada masa revolusi. Oleh karenanya pada masa ini lagu-lagu perjuangan banyak yang dimainkan dengan gaya keroncong. Keroncong bahkan mendunia dengan munculnya Gesang dengan karya master piece-nya yaitu Bengawan Solo. Penyanyi Waljinah, Sundari Sukoco yang sangat terkenal dan banyak lagi yang lain merupakan bukti bahwa musik keroncong pernah berjaya. Lebih dari itu dengan munculnya Piagam Pelestarian Pusaka 2003, jelas bahwa keroncong adalah salah satu pusaka yang harus dilestarikan.
Namun demikian, nasib bertolak belakang dengan realitas kekinian. Musik keroncong saat ini hampir tidak pernah menampakkan eksistensinya baik lewat penciptaan lagu maupun pementasan. Jika dahulu keroncong bisa dijumpai di tempat-tempat hajatan seperti pernikahan, syukuran, kini hampir tidak dilakukan lagi. Dalam hal ini keberadaan keroncong terdesak oleh orgen tunggal yang lebih mampu melayani berbagai jenis musik mulai dari pop, dangdut, campur sari dan keroncong. Dari sisi efisiensi orgen tunggal jauh lebih praktis, karena hanya dengan membawa satu instrumen dapat memberi pelayanan banyak hal. Sebaliknya dengan keroncong, banyak instrumen dan banyak orang yang terlibat tetapi masih mempunyai keterbatasan dalam memainkan jenis lagu. Keterbatasan ini merupakan hambatan dalam pengembangan musik keroncong pinggiran.
Hal itu sesungguhnya telah menggelitik beberapa seniman musik untuk berusaha membangkitkan kembali musik keroncong dengan caranya sendiri. Tokoh musiknya Ina Raesuki mengajak pemusik pop Dian HP dan Riza Ahamad (jazz) untuk memainkan keroncong dalam album Keroncong Tenggara. Erwin Gutawa pernah mengawinkan Chrisye dengan penyanyi langgam Waldjinah dalam lagu Semusim pada tahun 1999. Ada pula perpaduan antara musik keroncong dan dangdut yang disebut cangdut dengan lagu Dinda Bestari, Telamaya, Dewi Murni, dan Gambang Semarang. Keroncong disco reggea Hetty Koes Endang dalam album Tenda Biru dan Kau Tercipta Bukan Untukku. Ada lagi Ismet Yanuar yang memperkenalkan Keroncong Beat. Terbaru, Angin Pujaan dan Hujan Pusakata dalam Simphony Kerontjong Moeda Orchestra feat Pusakata.
Di kalangan anak-anak muda terdapat upaya untuk melestarikan keroncong. Salah satunya adalah munculnya lagu Kroncong Protol yang dibawakan oleh Bondan Prakoso dan Fade2Black yang memadukan unsur keroncong dengan musik hip-hop.
Komunitas musik pop menganggap hal tersebut sebagai terobosan yang cerdas karena mencoba mengangkat pamor musik keroncong kembali ke permukaan. Upaya Bondan menghadirkan keroncong dalam industri sebenarnya juga merupakan upaya untuk mempertahankan keroncong. Namun demikian, langkah mereka terhenti karena sebagian kalangan menganggap apa yang dilakukan Bondan dan kawan-kawannya menghina pakem keroncong yang sakral. Upaya Bondan dianggap merusak tradisi keroncong, dan musiknya dinilai bukan sebagai musik keroncong hanya karena masuknya instrumen musik yang sebelumnya tidak biasa ada, atau aransemen musiknya dianggap bukan aransemen keroncong. Padahal, keroncong sebagai suatu bentuk kesenian, perkembangannya telah mengalami perjalanan yang sangat panjang, bahkan yang disebut sebaga keroncong asli pun tidak lebih merupakan sebuah perkembangan dari yang ada sebelumnya.
Editor:


