Waktu yang Berbisik: Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Waktu yang Berbisik: Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Setiap 2 Mei, ketika Hari Pendidikan Nasional menyapa, Indonesia seolah menahan napas, mendengar bisikan Ki Hajar Dewantara—suara yang lembut namun bergema, mengingatkan bahwa pendidikan adalah nyala yang membakar jiwa merdeka. Di tepi Sungai Kahayan, di rimba Kalimantan atau di celah-celah kota yang berderu, sebuah pertanyaan mengalir seperti angin: bagaimana waktu membentuk pendidikan, dan bagaimana pendidikan membentuk waktu? 

Petra Mikulan dan Nathalie Sinclair, dalam Time and Education: Time Pedagogy Against Oppression (2023), menawarkan jawaban nan puitis: waktu bukan sekadar deretan detik yang berlalu, tetapi rimba relasional yang bernyanyi, menghubungkan manusia, pengetahuan, dan alam dalam simfoni kehidupan. Dalam esai ini, saya menenun pemikiran mereka dengan dongeng rakyat Dayak Ngaju “Siuk Bimbim dan Siuk Bambam,” cerita dua bersaudara yang menjaga harmoni alam, untuk merenungkan Hari Pendidikan Nasional.

Senandung Rimba

Suatu malam di sebuah desa di Kalimantan Tengah, saya duduk di beranda rumah panjang Dayak Ngaju, diterangi lampu minyak yang berkedip. Seorang tetua, dengan suara yang mengalir seperti sungai, menceritakan dongeng Siuk Bimbim dan Siuk Bambam. Dalam cerita ini, dua bersaudara menjelajahi rimba, belajar dari burung enggang, desau daun, dan arus air untuk menjaga keseimbangan alam. Mereka tidak membawa jam, hanya hati yang terbuka, mendengar nyanyian rimba yang menghubungkan mereka dengan leluhur. Bagi Dayak Ngaju, waktu adalah rimba yang bernyanyi—tidak terburu, tak terikat, tetapi penuh makna, mengalir melintasi generasi dalam harmoni abadi.

Pemikiran Petra Mikulan dan Nathalie Sinclair tentang waktu selaras dengan kepekaan ini. Mengadopsi konsep “waktu sebagai becoming” dari Gilles Deleuze, mereka melihat waktu sebagai lanskap relasional, terjalin dari pertemuan antara siswa, guru, pengetahuan, dan dunia. Dalam pendidikan, waktu bukan sekadar jadwal yang mengatur, tetapi nyanyian yang lahir dari dialog antara hati dan alam—seperti alunan karungut yang mengisi malam di tepi Sungai Kahayan.

Akan tetapi, pendidikan formal di Indonesia sering kali memotong nyanyian ini. Kurikulum yang kaku, ujian standar, dan tekanan untuk “mengejar kemajuan” mencerminkan paradigma waktu linear Barat yang dikritik oleh Mikulan dan Sinclair. Saya teringat seorang guru di Barito Utara, matanya penuh kerinduan saat berkata, “Saya ingin mengajak siswa mendengar cerita Siuk Bimbim dan Siuk Bambam di bawah pepohonan rimbun, tapi kami hanya punya waktu untuk menghafal rumus.” Waktu, dalam kelasnya, telah menjadi sangkar, bukan daun yang melayang. Hari Pendidikan Nasional, yang merayakan visi Ki Hajar tentang pendidikan yang memanusiakan, adalah panggilan untuk membuka sangkar itu dan mendengar kembali nyanyian rimba.

Mikulan dan Sinclair membedakan dua wajah waktu: chronos, waktu kronologis yang terukur, dan kairos, momen kualitatif di mana keajaiban pembelajaran tercipta. Di Indonesia, chronos adalah penguasa tidak terbantahkan dalam pendidikan formal. Jadwal pelajaran yang ketat, target kurikulum, dan asesmen berbasis waktu menciptakan ritme mekanis yang memadamkan imajinasi. Saya pernah mengunjungi sebuah SMA di Palangka Raya, di mana siswa menghabiskan malam mereka di bimbel, mengerjakan soal ujian dengan wajah pucat. “Kami tidak punya waktu untuk cerita,” kata seorang siswa, nadanya kosong laksana hutan belantara yang kehilangan burung.

Dongeng Siuk Bimbim dan Siuk Bambam menawarkan perspektif yang menentang tirani chronos. Dalam cerita ini, kedua bersaudara belajar dari alam melalui momen-momen kepekaan—mengamati jejak burung, mendengar desau angin, atau menyanyikan karungut di tepi sungai. Mereka tidak diikat oleh tenggat waktu, tetapi oleh ritme alam yang mengajarkan keseimbangan dan kebersamaan. Hal ihwal ini adalah kairos dalam wujudnya yang paling murni: waktu yang tidak diukur oleh efisiensi, tetapi oleh makna yang lahir dari hubungan dengan dunia. Ketika Siuk Bimbim dan Siuk Bambam akhirnya memafhumi cara menjaga rimba, itu bukan karena mereka “menyelesaikan tugas,” tetapi karena mereka telah menari dalam nyanyian alam.

Hari Pendidikan Nasional, yang menggemakan prinsip “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” adalah undangan untuk menghidupkan kairos. Ki Hajar memaknai bahwa pendidikan adalah aliran sungai, bukan mesin yang berdetak. Dalam konteks Dayak Ngaju, ini berarti mengajarkan siswa untuk mendengar nyanyian rimba—melalui dongeng seperti Siuk Bimbim dan Siuk Bambam, melalui tarian kanjan, atau melalui praktik adat seperti manugal. Pendidikan seperti ini tidak hanya membangun pengetahuan, tetapi juga jiwa yang terhubung dengan alam, leluhur, dan komunitas.

Mikulan dan Sinclair memperingatkan ihwal “temporal colonization,” di mana waktu pendidikan diatur oleh kepentingan eksternal seperti pasar global atau standar internasional. Di Indonesia, kolonisasi ini terlihat dalam tekanan untuk mengejar peringkat PISA, mengadopsi model STEM Barat, atau mempersiapkan siswa untuk “bersaing” di ekonomi global. Kurikulum sering kali mengabaikan khazanah lokal, seperti dongeng Siuk Bimbim dan Siuk Bambam, demi pengetahuan yang dianggap “modern.”

Saya teringat percakapan dengan seorang tetua Dayak Ngaju di suatu desa. Dengan suara yang bergetar, dia berkata, “Anak-anak kami diajarkan tentang kota dan teknologi, tapi mereka lupa cara berbicara dengan rimba.” Perihal ini adalah cerminan dari “temporal dissonance” yang diuraikan oleh Mikulan dan Sinclair: ketidaksesuaian antara waktu global yang seragam dan waktu lokal yang bernyanyi. Pendidikan yang memaksakan ritme Barat tidak hanya mencuri waktu, tetapi juga roh budaya yang telah menjaga komunitas Dayak Ngaju selama berabad-abad.

Dongeng Siuk Bimbim dan Siuk Bambam adalah nyanyian perlawanan terhadap kolonisasi ini. Cerita ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir dari kepekaan, bukan kecepatan; dari hubungan, bukan kompetisi. Hari Pendidikan Nasional harus menjadi panggilan untuk memasukkan khazanah ini ke dalam pendidikan—mengajarkan ekologi melalui kearifan rimba, sejarah melalui nyanyian karungut, atau etika melalui nilai-nilai Huma Betang. Dengan begitu, kita tidak hanya melawan kolonisasi waktu, tetapi juga menegaskan bahwa pengetahuan Nusantara adalah simfoni kemanusiaan yang setara dengan pengetahuan Barat.

Mikulan dan Sinclair mengusulkan “relational temporality,” di mana waktu dalam pendidikan dilihat sebagai jaringan hubungan yang menghubungkan manusia, pengetahuan, dan lingkungan. Dalam khazanah Dayak Ngaju, konsep ini terwujud dalam cara komunitas menari di bawah kanopi rimba. Saya pernah menyaksikan sebuah upacara Tiwah, di mana anak-anak belajar tentang siklus kehidupan dari tetua mereka, sambil menari mengikuti irama gong dan desau daun. Pembelajaran ini tidak diatur oleh jadwal, tetapi oleh ritme kebersamaan—tawa, cerita, dan keheningan yang penuh makna. Ini adalah kairos yang bernyanyi, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu aliran.

Pendekatan relasional ini bisa menjadi mercusuar bagi pendidikan Indonesia. Bayangkan sebuah sekolah di mana siswa belajar matematika melalui pola ukiran Dayak, sains melalui pengamatan burung enggang, atau sastra melalui dongeng Siuk Bimbim dan Siuk Bambam. Guru bertindak sebagai tetua, memandu tanpa mengikat, memberi ruang bagi siswa untuk menemukan momen kairos—ketika pengetahuan menjadi nyanyian yang hidup di hati. Hari Pendidikan Nasional adalah kesempatan untuk mewujudkan visi ini, mengintegrasikan kearifan Dayak Ngaju dan budaya lokal lainnya ke dalam kurikulum, sehingga pendidikan menjadi tarian di rimba, bukan baris tentara yang kaku.

Namun, tantangan nyata menghadang: ketimpangan akses, beban administrasi guru, dan tekanan birokrasi. Untuk mengatasinya, kita perlu keberanian sistemik—memberi guru kebebasan untuk bereksperimen, mengurangi ketergantungan pada ujian standar, dan memastikan bahwa setiap anak, dari tepi Sungai Kahayan hingga puncak Jaya, memiliki kesempatan untuk menari dalam ritme mereka sendiri.

Bisikan Rimba

Di sebuah senja di tepi Sungai Kahayan, seorang remaja Dayak Ngaju yang sedang mengukir kayu menjadi bentuk burung enggang. “Kalau saya ukir,” ujarnya, “saya merasa rimba berbisik kepada saya, dan leluhur mendengar.” Kata-katanya, semenjana tapi penuh roh, menggema dalam pemikiran Mikulan dan Sinclair tentang waktu sebagai becoming. Dalam konteks Dayak Ngaju, waktu adalah rimba yang bernyanyi—mengalir seperti air, meliuk seperti tarian, menghubungkan kita dengan alam dan leluhur.

Akan tetapi, nyanyian ini sering tenggelam oleh deru chronos—sistem pendidikan yang mengutamakan hasil di atas proses, angka di atas makna. Hari Pendidikan Nasional adalah panggilan untuk mendengar kembali bisikan rimba. Kita perlu pendidikan yang merayakan dongeng seperti Siuk Bimbim dan Siuk Bambam, yang menghormati ritme rimba dan kebersamaan, dan yang memberi ruang bagi kairos—momen ketika seorang anak merasa hidup, terhubung, dan bermakna.

Mikulan dan Sinclair mengajarkan bahwa waktu adalah kanvas tempat pendidikan dilukis. Di Indonesia, kanvas ini adalah Sungai Kahayan, nyanyian Dayak Ngaju, dan bisikan leluhur yang mengalir di rimba. Dengan merangkul waktu relasional dan menolak kolonisasi temporal, kita dapat menciptakan pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan siswa untuk masa depan, tetapi juga menghidupkan nyanyian masa kini. Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan—itu adalah janji untuk menjaga rimba tetap bernyanyi, dan membiarkan waktu berbisik dalam pendidikan yang memerdekakan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo