Penting Diperhatikan, Ini 5 Etika Minta Maaf dalam Islam

Penting Diperhatikan, Ini 5 Etika Minta Maaf dalam Islam

Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Saling memaafkan merupakan kunci untuk meraih ketenangan hati. Dengan rasa tulus meminta serta memaafkan, beban di hati akan terasa lebih ringan dan membawa kedamaian. Dalam Islam, saling meminta dan memberi maaf merupakan kewajiban bagi setiap individu. Entah kesalahan yang disengaja maupun tidak, baik berupa ucapan maupun perbuatan, kita semua dituntut untuk saling memaafkan.

Keikhlasan dalam memaafkan sangatlah penting. Pasalnya, bila seseorang telah meminta maaf namun masih menyimpan rasa dendam di hatinya maka permintaan maaf tersebut belum dianggap tulus. Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti keteguhan iman. Allah begitu memuliakan orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain.

Bahkan, Allah telah menyediakan pahala yang berlimpah bagi mereka. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

فَمَن عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah.” (Q.S. Asy-Syura: 40)

Disamping itu, sikap memaafkan merupakan akhlak mulia yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik). Beliau menunjukkan kepada kita akan pentingnya memaafkan. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Aisyah RA pernah ditanya terkait watak pribadi Rasulullah, lantas ia menjelaskan:

كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَلَا سَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يُجَازِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَـكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

Artinya: “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: Beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan.” (H.R. Ibn Hibban) 

Karena akhlaknya yang mulia, Nabi Muhammad SAW tidak hanya dikagumi oleh sahabat-sahabatnya tetapi juga disegani oleh musuh-musuhnya. Bahkan, banyak orang yang awalnya membenci kemudian menjadi pengikut setianya. 

Hal ini membuktikan betapa luhurnya akhlak beliau. Nabi tidak pernah membalas kebencian dengan kebencian, melainkan dengan sikap kasih sayang dan memaafkan. Berikut ini sejumlah etika yang perlu diterapkan saat meminta maaf akibat melakukan suatu kesalahan menurut Islam:

1. Mengakui kesalahan dan menyesal

Tatkala kita menyadari suatu kesalahan, maka langkah awal yang mesti dilakukan ialah mengakui kesalahan tersebut serta menyesali perbuatannya diiringi dengan permohonan maaf yang tulus. Kesadaran akan suatu kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan. Permintaan maaf secara tulus dapat memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Sedekah itu tidak mengurangi harta dan tidaklah Allah menambahkan pada hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan mengangkat derajatnya.” (H.R. Muslim)

Imam Ibn Iyadh (wafat 544 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa di samping akan mendulang pahala, orang yang dikenal sebagai sosok pemaaf dan mau meminta maaf juga akan dihormati serta bertambah kemuliaannya:

وَقَوْلُهُ: مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا: فِيهِ أَيْضًا وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: ظَاهِرُهُ أَنْ مَنْ عُرِفَ بِالصَّفْحِ وَالْعَفْوِ سَادَ وَعَظُمَ فِي الْقُلُوبِ وَزَادَ عِزَّهُ. الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ أَجْرُهُ عَلَى ذَلِكَ فِي الْآخِرَةِ وَعِزَّتُهُ هُنَاكَ

Artinya: “Dan perkataan: Tidaklah Allah menambahkan pada hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan: Di dalamnya juga terdapat dua makna. Pertama, tampaknya bahwa siapa pun yang dikenal dengan sifat memaafkan dan pengampunan akan dihormati dan dibesarkan dalam hati, serta menambah kemuliaannya. Kedua, pahala untuknya atas hal itu di akhirat dan kemuliaannya di sana.” (Abu Al-Fadl Iyadh bin Musa, Ikmal Al-Muallim Bi Fawaid Muslim [Mesir: Dar Al-Wafa], vol. 8, h. 59)

Adapun perihal menyesali perbuatan yang telah dilakukan, Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya menuturkan:

أَنْ يُقْلِعَ... وَيَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا

Artinya: “(Di antara etika meminta maaf akibat kesalahan) adalah dengan menghentikan serta menyesali perbuatan tersebut.” (Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarh An-Nawawi Ala Muslim [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi], vol. 2, h. 45)

2. Berjanji untuk tidak mengulanginya kembali

Setelah mengakui melakukan suatu kesalahan, etika selanjutnya ialah berjanji untuk tidak mengulangi lagi hal yang sama. Langkah ini dapat menunjukkan bahwa kita telah berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terkait hal ini, Imam An-Nawawi dalam kitabnya menyebutkan:

وَأَنْ يَعْزَمَ عَزْمًا جَازِمًا أَنْ لَا يَعُوْدَ إِلَى مِثْلِهَا أَبَدًا

Artinya: “Dan berjanji dengan tegas untuk tidak mengulang kembali kepada perbuatan yang sama selamanya.” (Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarh An-Nawawi Ala Muslim [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi], vol. 17, h. 25)

3. Mengembalikan hak yang pernah diambil

Salah satu etika dalam meminta maaf adalah mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya secara tidak sah. Jika kesalahan yang dilakukan itu melibatkan materi, maka mengembalikan hak tersebut merupakan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Etika ini sejalan dengan pendapat Imam An-Nawawi yang menegaskan:

فَإِنْ كَانَتِ الْمَعْصِيَةُ تَتَعَلَّقُ بِآدَمِيٍّ فَلَهَا شَرْطٌ رَابِعٌ وَهُوَ رَدُّ الظُّلَامَةِ إِلَى صَاحِبِهَا أَوْ تَحْصِيلُ الْبَرَاءَةِ مِنْهُ

Artinya: “Jika kesalahan tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ada syarat keempat yaitu mengembalikan hak yang dizalimi kepada pemiliknya atau mendapatkan pembebasan dari pihak tersebut.” (Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarh An-Nawawi Ala Muslim [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi], vol. 17, h. 25)

4. Meredam amarah

Merasa marah ketika menyadari berbuat kesalahan adalah reaksi yang umum terjadi pada diri manusia. Perasaan demikian bisa muncul karena rasa bersalah, kecewa, atau takut terhadap konsekuensi dari kesalahan tersebut. Dengan memaafkan, kita memilih kedamaian hati daripada terjebak oleh rasa amarah dan dendam. Selain itu, Allah akan memberi balasan agung kepada hamba-Nya yang mampu meredam amarah.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يُنَفِّذُهُ دَعَاهُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرُهُ فِيْ أَيِّ الْحُوْرِ شَاءَ

Artinya: “Barangsiapa yang menahan amarah sedang dia mampu melampiaskan, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat hingga dia disuruh memilih bidadari mana saja yang dia sukai.” (H.R. Ahmad)

5. Mendoakan orang yang memaafkan

Rasa tidak enak hati yang muncul akibat melakukan kesalahan pada orang lain adalah hal yang lumrah. Sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maaf yang tulus, etika berikutnya adalah mendoakan orang yang telah memaafkannya. Doa ini menjadi ungkapan sekaligus harapan agar kesalahan yang telah dilakukan dapat dimaafkan serta mengembalikan hubungan agar bisa terjalin dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا مَا تُكَافِئُوْنَهُ فَادْعُوْا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوْهُ 

Artinya: “Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut sudah bisa membalas dengan serupa atas kebaikannya.” (H.R. Abu Dawud)

Demikian uraian mengenai 5 etika meminta maaf dalam Islam yang harus dipahami. Memang, memaafkan tidak serta-merta menghilangkan rasa amarah. Namun, di sanalah keislaman seseorang benar-benar diuji. Dengan memaafkan, kita berusaha meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo