Arina.id - Abu Bakar sangat populer di kalangan suku Quraisy karena selain dikenal sebagai sahabat Rasulullah yang setia, ia juga sosok sahabat yang memiliki pengaruh besar. Beliau merupakan khalifah pertama sepeninggal Rasulullah SAW dan menjabat selama 2 tahun setengah (11-13 H/632-634 H).
Dalam kitab Siyar Nubala juz 28/7 disebutkan:
اسمه عبد الله - ويقال عتيق بن أبي قحافة عثمان بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم بن مرة بن كعب بن لؤي القرشي التيمي رضي الله عنه
Artinya: "Namanya adalah Abdullah, sebagian mengatakan Atiq bin Abi Quhafah Usman bin Amir bin Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taiym bin Murrah bin Ka'b bin Luay al-Qurasyi al-Taiymi."
وعن عائشة ، قالت : اسمه الذي سماه أهله به " عبد الله " ولكن غلب عليه عتيق
Artinya: "Menurut Aisyah, nama yang diberikan oleh keluarga adalah Abdullah, akan tetapi yang masyhur adalah Atiq."
Mengapa dinamakan Atiq? Ibnu Main menjelaskan:
وقال ابن معين : لقبه عتيق ؛ لأن وجهه كان جميلا ، وكذا قال الليث بن سعد .
Artinya: "Ibnu Main mengatakan, julukan Abu Bakar adalah Atiq karena wajahnya tampan. Lais bin Sa'd juga berpendapat demikian. Adzzahabi mengatakan, atiq maksudnya bebas dari neraka (atiqun minannar)."
Nama Abu Bakar juga diungkap dalam kitab Tarikh Khulafa:
التعريف بأبي بكر هو عبد الله بن عثمان بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب، ويلتقي بنسبه مع النبي في مرة
Artinya: "Abu Bakar adalah Abdullah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib. Pada kakek bernama Murrah, nasab Abu Bakar bertemu dengan nasab Rasulullah SAW." (Lihat Tarikh Khulafa’ Rasyidin, 1/13).
Perlu diketahui bahwa nama Abu Bakar adalah nama panggilan (kunyah) yang diberikan oleh Rasulullah. Bukan sebab memiliki anak bernama Bakar. Ibnu Qayim menjelaskan:
قال ابن القيم في تحفة المودود: ويجوز تكنية الرجل الذي له أولاد بغير أولاده، ولم يكن لأبي بكر ابن اسمه بكر، ولا لعمر ابن اسمه حفص، ولا لأبي ذر ابن المنذر ابن اسمه ذر، ولا لخالد ابن اسمه سليمان، وكان يكنى أبا سليمان، وكذلك أبو سلمة، وهو أكثر من أن يحصى فلا يلزم من جواز التكنية أن يكون له ولد ولا أن يكنى باسم ذلك الولد. اهـ
Artinya: "Ibnu Qayim dalam Tuhfatul Maudud berkata: boleh memberikan nama panggilan (kunyah) pada seseorang yang punya anak dengan bukan nama anaknya, misalnya Abu Bakar tidak punya anak bernama Bakar, Umar tidak punya anak bernama Hafs, Abu Dzar tidak punya anak bernama Dzar, dst. Jadi nama panggilan itu tidak harus mempunyai anak yang namanya disebutkan dalam panggilan."
Pada zaman Jahiliyah, Abu Bakar dikenal dengan nama Abdul Ka’bah. Namun setelah memeluk agama Islam, namanya menjadi Abdullah bin Abu Quhafah. Sedangkan nama yang sangat dikenal adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Gelar “ash-Shiddiq” disematkan berkat kejujuran serta keyakinan kuatnya terhadap Rasulullah (Lihat: Husain bin Muhammad, Tarikh al-Khamis, juz II, halaman 181)
Kesetiaan Abu Bakar kepada Nabi Muhammad
Perjuangan sahabat Abu Bakar dalam membela Nabi Muhammad saat menyebarkan agama Islam patut menjadi teladan. Seperti pembelaannya terhadap Nabi Muhammad yang dituduh sebagai pembohong terkait Isra’ Mi’raj. Begitu juga kesetiaannya menemani Nabi Muhammad saat hijrah dan bersembunyi di Gua Tsur.
Al-Nawawi dalam kitab Tahdzibul Asma juz 2/181 mengatakan:
وكانت له فى الإسلام مواقف رفيعة، منها قصته يوم ليلة الإسراء وثباته، وجوابه للكفار فى ذلك، وهجرته مع رسول الله - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وترك عياله وأطفاله، وملازمته فى الغار وسائر الطريق، ثم كلامه يوم بدر، ويوم الحديبية حتى اشتبه الأمر على غيره فى تأخر دخول مكة، ثم بكاؤه حين قال رسول الله - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “إن عبدًا خيره الله بين الدنيا وبين ما عند الله ... ”.
Artinya: "Abu Bakar menempati posisi mulia dalam Islam. Kemuliaan ini di antaranya disebabkan keteguhan Abu Bakar mempercayai tentang Isra' Mi'raj dan menjawab kritikan pedas kaum kafir, menemani hijrah Rasulullah, meninggalkan keluarga dan anaknya, bertempat bersama Rasulullah di dalam gua dan setia selama di perjalanan, pidatonya di perang badar, perang hudaibiyah sehingga dicurigai oleh lainnya terakhir masuk Makkah, kemudian menangis tatkala Rasulullah khutbah terakhir, sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara diberi apa pun yang dia inginkan dari kemewahan duniawi dan antara apa pun di sisi Allah.."
ثم ثباته فى وفاة رسول الله - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وخطبته الناس وتسكينهم
Artinya: "Kemudian kesetiaannya di saat Rasulullah meninggal dan ceramahnya di hadapan umat Islam serta mampu menenangkan mereka."
Oleh karena itu, tidak heran jika kesetiaan, persahabatan, dan pengorbanan sahabat Abu Bakar dituturkan Rasulullah:
إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي مَالِهِ وَصُحْبَتِهِ أَبُو بَكْرٍ. وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا. وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ. لَا تُبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ خوخة إلا خوخة أبي بكر
Artinya: "Orang yang paling aku percaya hartanya dan paling aku percaya persahabatannya adalah Abu Bakar. Kalaulah aku harus mempunyai teman dekat, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai teman dekat. Namun persaudaraan Islam berarti bahwa tidak boleh ada satu jendela pun yang tersisa di masjid, kecuali jendela Abu Bakar." (Muslim, 4/1854, Jami' Saghir 1/3770).
Beberapa keterangan ini menggambarkan betapa besar kesetiaan dan kecintaan Abu Bakar terhadap Nabi Muhammad. Pun demikian, betapa kuat ikatan dan istimewanya persahabatan Nabi Muhammad dengan Abu Bakar.
Tentu ini menjadi kisah teladan tentang kesetiaan dan kepercayaan, selain itu juga menjadi inspirasi serta motivasi bagi umat Islam agar memiliki perasaan cinta yang kuat kepada Rasulullah, dan tangguh menghadapi segala macam rintangan dalam menegakkan ajaran Islam layaknya Abu Bakar yang senantiasa setia berjuang di samping Rasulullah.
Makam Abu bakar dan Sahabat
Mengacu itinerary (rencana perjalanan) calon jemaah haji gelombang pertama, biasanya diarahkan langsung menuju masjid Nabawi di Madinah. Di kota Nabi ini para calon jemaah haji memanfaatkan waktu untuk sholat Arbain, berziarah ke makam Nabi dan para sahabat Nabi, utamanya sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab yang berada di dalam masjid.
Sedangkan makam sahabat Utsman bin Affan dan sahabat lainnya, juga istri-istri Nabi berada di makam Baqi'. Minus makam sahabat Ali bin Abi Thalib.
Seperti diketahui bersama lokasi makam khulafaurrasyidin berpencar. Abu Bakar dan Umar bin Khatab masih satu lokasi dengan Nabi Muhammad, sedangkan sahabat Usman di makam Baqi'.
Membincangkan karakteristik masing-masing para sahabat Nabi, terlebih khulafaurrasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Talib sangat menarik untuk diteladani.
Keistimewaan para sahabat disebutkan dalam salah satu riwayat:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَشَرَةٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِي الْجَنَّةٍ أَنَا فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي الْجَنَّةِ ثُمَّ سَكَتَ سَعِيدٌ فَقَالُوا مَنِ الْعَاشِرُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ
Artinya: "Diriwayatkan dari Sa’id bin Zain bin Amr bin Nufail, Rasulullah SAW bersabda, “Ada sepuluh orang dari kaum Quraisy yang akan berada di surga. Aku di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, az-Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqash di surga,” Sa’id pun berhenti sejenak, hingga para sahabat yang menyimak bertanya, “Siapa yang kesepuluhnya?” Sa’id pun menjawab, “Aku.” (Lihat: Musnad al-Humaidi, [Damaskus: Darus-Saqa], 1996, juz I, halaman 197). Wallahu a'lam bish shawab.
Editor:


