Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dihadapkan pada berbagai pilihan dan keputusan yang dapat memengaruhi arah hidup kita. Dalam memilih, terkadang kita mengalami kesulitan sehingga harus berpikir lama dan meminta pendapat orang lain. Namun itu pun terkadang tidak membuahkan hasil alias tidak bisa menentukan pilihan mana yang terbaik.
Terkait dengan hal ini, Islam memberikan satu ibadah khusus yang ditujukan sebagai ikhtiar langit dalam memecah kebuntuan dan rasa bimbang dalam memilih. Ibadah tersebut berupa sholat yang diberi nama Sholat Istikharah. Sholat ini menjadi suatu sarana untuk memohon petunjuk dan bimbingan Allah swt dalam mengambil keputusan penting.
Dengan melakukan sholat istikharah, seorang Muslim menunjukkan ketergantungannya kepada Allah dalam segala aspek kehidupan, mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui segala hal, dan berharap mendapatkan petunjuk-Nya untuk memilih jalan terbaik.
Sholat istikharah sendiri tidak hanya sekadar serangkaian gerakan fisik, tetapi juga merupakan ungkapan ketulusan hati dalam mencari petunjuk dari Allah. Dalam sholat ini, seorang Muslim memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk yang terbaik sesuai dengan kehendak-Nya.
Untuk memahami lebih mendalam ibadah ini, perlu pemahaman mendalam jugsa tentang tata cara, langkah-langkah pelaksanaannya, serta makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami lebih dalam tentang sholat istikharah, diharapkan pembaca dapat merasakan manfaat spiritual dan kebijaksanaan yang dapat diperoleh melalui koneksi yang lebih erat dengan Sang Pencipta.
Tata Cara Sholat istikharah
Sholat istikharah dilakukan sebanyak dua rakaat yang diawali dengan niat dengan lafal sebagai berikut:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatal istikhârati rak’ataini lillâhi ta’âlâ.
Artinya, “Aku berniat sholat sunnah istikharah dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Dalam Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali disebutkan bahwa pada rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Kafirun. Kemudian pada rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas
Setelah melaksanakan sholat, kita dianjurkan untuk berdoa dan menyebutkan permohonan kita. Doa yang dianjurkan adalah doa yang bersumber dari salah satu hadits Nabi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Jabir bin ‘Abdillah dengan redaksi sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِيْ وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ وَعَـاجِلِهِ وَآجِـلِهِ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَبَارِكْ لِي فِيهِ ثُمَّ يَسِّرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِيْ وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِـلِهِ فَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ أَيْنَـــمَا كَانَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidina muḫamamdin, Alḫamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Allâhumma innî astakhîruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa lâ aqdiru, wa ta’lamu wa lâ a’lamu, wa anta ‘allâmul ghuyûb. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hâdzal amra khairun lî fî dînî wa dun-yâya wa ‘âqibati amrî ‘âjilihi wa âjilihi faqdurhu lî wa bârik lî fîhi tsumma yassirhu lî. Wa in kunta ta’lamu anna hâdzal amra syarrun lî fî dînî wa dun-yâya wa ‘âqibati amrî ‘âjilihi wa âjilihi fashrifnî ‘anhu washrfhu ‘annî waqdur liyal khaira haitsu kâna ainamâ kânû innaka ‘alâ kulli syai-in qadîr. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidina muḫamamdin, walḫamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.
Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah dengan pengetahuan-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan sementara aku tidak mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam bagi agamaku, kehidupanku, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka takdirkanlah hal tersebut untukku. Mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, akhir urusanku, diniaku, dan akhiratku, maka palingkanlah aku darinya dan palingkanlah dia dariku. Takdirkanlah yang terbaik untukku apa pun keadaannya. Sesungguhnya engkau Yang Maha Bisa atas segala sesuatu.”
Adapun dasar anjuran sholat istikharah adalah sebuah hadits riwayat Imam al-Bukhari, Jabir bin Abdillah yang disebutkan Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
Artinya, “Rasulullah saw mengajari kami (para sahabat) untuk salat istikharah ketika menghadapi setiap persoalan, sebagaimana beliau mengajari kami semua surat dari Al-Quran. Beliau bersabda, ‘Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah sholat sunnah dua rakaat ...”’ (HR Imam al-Bukhari). (An-Nawawi, al-Azdkar, 1997: 137)
Dengan sepenuh hati mengerjakan sholat istikharah, Insyaallah Allah akan memberikan petunjuk mana yang terbaik yang harus kita pilih. Semisal tentang pekerjaan mana yang harus kita pilih saat kita ternyata diterima di dua lembaga atau perusahaan dan bingung untuk memilih. Ataupun pilihan berat lainnya yang terkadang dihadapi dalam kehidupan.
Editor:


