Maulid Nabi merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia pada bulan Rabiul Awal. Tradisi ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang keteladanan dan ajaran-ajaran Nabi.
Di berbagai negara, peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembacaan syair pujian, pengajian, hingga kegiatan sosial yang mengajak umat untuk mempererat persaudaraan dan berbagi kebahagiaan.
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi memiliki ciri khas yang beragam dan mencerminkan kekayaan budaya serta kearifan lokal di tiap daerah. Tradisi ini sering kali dirayakan dengan acara yang meriah, seperti arak-arakan, kenduri, hingga pertunjukan kesenian Islami.
Selain itu, peringatan Maulid di Indonesia juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai keagamaan, memperkokoh rasa cinta kepada Rasulullah dan mempererat silaturahmi antarwarga. Selain juga peringatan Maulid memang selaras dengan nilai-nilai syariat dan hukum agama Islam.
Lantas, bagaimana pandangan ulama tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad?
1. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dalam kitab Mafahim Yajibu An-Tushahhah, halaman 309 menjelaskan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya merupakan kebiasaan yang baik dan dianjurkan dalam Islam. Meskipun tidak ada perintah langsung untuk merayakannya secara bersama-sama pada hari tertentu, namun setiap Muslim dianjurkan untuk selalu mengingat dan meneladani Rasulullah.
Lebih jauh lagi, kegiatan memperingati Maulid Nabi ini memiliki banyak manfaat bagi umat Islam, seperti mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan keimanan.
Kendati demikian, ada kesalahpahaman di kalangan sebagian orang yang menganggap bahwa peringatan Maulid Nabi hanya dilakukan pada satu malam saja dalam setahun. Padahal, faktanya, kata Sayyid Muhammad bin Alawi, di kota-kota suci seperti Makkah dan Madinah, kegiatan memperingati Maulid Nabi dilakukan hampir setiap hari sepanjang tahun. Ini menunjukkan betapa pentingnya sosok Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam sehingga beliau selalu dikenang dan dijadikan suri tauladan.
Untuk itu, kelompok yang mengatakan bahwa umat Islam hanya mengingat Nabi Muhammad SAW pada satu malam dalam setahun dan melupakannya di hari-hari lainnya, sesungguhnya telah berbohong. Faktanya, majelis-majelis Maulid Nabi diadakan hampir setiap malam di berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar kota suci. Ini membuktikan bahwa kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW sangat besar dan tidak terbatas pada waktu atau tempat tertentu.
Selain itu, ada juga yang beranggapan bahwa peringatan Maulid Nabi hanya dilakukan di Madinah. Padahal, kegiatan ini dilakukan di seluruh dunia oleh umat Islam. Orang yang berpendapat sebaliknya, mungkin tidak memiliki informasi yang cukup atau sengaja mengabaikan fakta yang ada. Kita berharap agar Allah SWT memberikan hidayah kepada mereka sehingga dapat memahami kebenaran tentang peringatan Maulid Nabi ini.
Simak penjelasan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki;
والحاصل أن الاجتماع لأجل المولد النبوي أمر عادي، ولكنه من العادات الخيرة الصالحة التي تشتمل على منافع كثيرة وفوائد تعود على الناس بفضل وفير؛ لأنها مطلوبة شرعًا بأفرادها. ومن التصورات الفاسدة التي تقع في أذهان بعض الناس أنهم يظنون أننا ندعو إلى الاحتفال بالمولد في ليلة مخصوصة دون سائر العام، وما ترى هذا المغفل أن الاجتماعات تعقد لأجل المولد النبوي في مكة والمدينة بشكل منقطع النظير في كل أيام العام،
Artinya: “Kesimpulannya, berkumpul untuk merayakan Maulid Nabi adalah suatu tradisi, namun termasuk dari kebiasaan baik yang mengandung banyak manfaat dan kebaikan yang melimpah bagi masyarakat, karena dianjurkan secara syar’i pada masing-masing pelaksanaannya. Salah satu kesalahpahaman yang terjadi di benak sebagian orang adalah mereka mengira bahwa kami menganjurkan perayaan Maulid pada malam tertentu saja, tanpa memperhatikan malam-malam lainnya sepanjang tahun. Apa yang tidak dipahami oleh orang yang kurang paham ini adalah bahwa pertemuan-pertemuan untuk memperingati Maulid Nabi diadakan di Mekkah dan Madinah sepanjang tahun secara luar biasa.” [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahhah, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1971], halaman 309].
2. Imam Suyuthi
Imam Suyuthi, sebagaimana dikutip Abu Bakar Syatha’ ad-Dimyati dalam kitab I’anah Thalibin, Jilid III, halaman 414, mengatakan bahwa Al-Hafizh As-Suyuthi dalam kitab Fatawa membahas tentang hukum perayaan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal. Apakah perayaan ini dipandang terpuji atau tercela menurut syariat? Apakah pelakunya akan mendapatkan pahala atau tidak?
Menurut, As-Suyuthi, perayaan Maulid Nabi termasuk perbuatan yang mulia, dan termasuk bid’ah hasanah. Pasalnya, Maulid Nabi merupakan penghormatan kepada Nabi dan ekspresi kegembiraan serta rasa syukur atas kelahirannya. Umat ISlam yang melakukan perayaan Maulid Nabi akan mendapatkan pahala atas perbuatan mereka.
Lebih jauh lagi, saat perayaan Maulid Nabi, biasanya melibatkan berkumpulnya orang-orang untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, mendengarkan kisah-kisah tentang awal perjalanan hidup Nabi Muhammad, dan kejadian-kejadian yang terjadi saat kelahirannya. Selain itu, acara ini biasanya diakhiri dengan jamuan makan bersama, dan semuanya dilakukan tanpa hal-hal yang berlebihan.
Perhatikan penjelasan Imam Suyuthi ini:
فائدة: في فتاوى الحافظ السيوطي في باب الوليمة (سئل) عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟ قال: (والجواب) عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي (ص) وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي (ص) وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف.
Artinya: "(Faidah) dalam Fatawa Al-Hafizh As-Suyuthi dalam Bab Walimah: Beliau ditanya tentang perayaan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, apa hukumnya menurut syariat? Apakah perbuatan itu terpuji atau tercela? Apakah pelakunya mendapat pahala atau tidak?
Ia [Imam Suyuthi] menjawab: Menurut saya, dasar dari perayaan Maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang, membaca sebagian ayat-ayat Al-Qur’an, meriwayatkan kisah-kisah yang berkaitan dengan permulaan urusan Nabi (saw) dan kejadian-kejadian yang terjadi saat kelahirannya, kemudian diadakan jamuan makanan yang dimakan bersama, dan mereka pulang tanpa adanya hal-hal yang berlebihan — itu termasuk bid’ah hasanah (perbuatan yang baik). Pelakunya akan mendapatkan pahala karena di dalamnya terdapat penghormatan terhadap Nabi SAW dan menampakkan kegembiraan serta rasa syukur atas kelahirannya yang mulia." [Abu Bakar Syatha’ ad-Dimyati, I’anah Thalibin, Jilid III, halaman 414].
3. Syekh Abdul Hamid Kudus
Syekh Abdul Hamid Kudus, dalam kitab Kanzun an-Najah wa al-Surur, halaman 132-133 menjelaskan bahwa perayaan Maulid Nabi dan berkumpulnya orang-orang untuk memperingatinya dipandang sebagai hal yang baik dan merupakan bid’ah hasanah, yakni inovasi yang baik.
Menurut Imam Abu Syamah, salah satu tokoh ulama terkemuka dan guru dari Imam Nawawi, peringatan Maulid yang dilakukan setiap tahun di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW mengandung banyak kebaikan. Dalam perayaan ini, orang-orang menyelenggarakan kegiatan seperti bersedekah, melakukan amal kebaikan, serta menampilkan berbagai bentuk hiasan dan kebahagiaan.
Selain sebagai bentuk kebaikan kepada fakir miskin, perayaan Maulid juga menjadi cara bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui peringatan ini, mereka mengekspresikan rasa penghormatan yang mendalam dan rasa cinta di hati mereka terhadap beliau. Hal ini juga menjadi bentuk penghormatan yang besar terhadap sosok Nabi Muhammad SAW.
Lebih dari itu, perayaan Maulid adalah wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang telah menciptakan dan mengutus Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dengan mengenang kelahiran Nabi, umat Islam diingatkan akan nikmat besar berupa kehadiran sosok yang membawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh umat manusia.
Simak penjelasan Syekh Abdul Hamid Kudus:
ثم إن عمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن ؛ فهو بدعة حسنة . قال الإمام أبو شامة شيخ النووي : ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يُفعَلُ كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله تعالى عليه وسلم : من الصدقات والمعروف ، وإظهار الزينة والشرور ؛ فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء.. مشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم ، وتعظيمه في قلب فاعل ذلك ، وشكر الله تعالى على ما مَنَّ به من إيجاد رسوله صلى الله تعالى عليه وسلم ، الذي أرسله رحمة للعالمين
Artinya: “Selanjutnya, perayaan Maulid dan berkumpulnya orang-orang untuk memperingatinya juga merupakan hal yang baik; hal itu adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Imam Abu Syamah, guru dari Imam Nawawi, berkata: ‘Dan salah satu hal terbaik yang diada-adakan di zaman kita adalah apa yang dilakukan setiap tahun pada hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad berupa sedekah, kebaikan, dan menampakkan hiasan serta kebahagiaan. Hal itu, selain merupakan perbuatan baik kepada fakir miskin, juga menunjukkan rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghormatan yang mendalam di hati orang yang melakukannya, dan sebagai wujud syukur kepada Allah Ta’ala atas karunia-Nya yang telah menciptakan Rasullullah yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam." [Syekh Abdul Hamid Kudus, Kanzun an-Najah wa al-Surur, halaman 132-133].
Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah tradisi yang baik dan dianjurkan dalam Islam. Sejatinya, kelahiran Nabi Muhammad SAW dan berbagai peristiwa penting dalam hidup Rasulullah adalah wujud penghormatan serta tanda syukur kepada Allah SWT. Meskipun bentuk perayaannya bisa berbeda-beda, esensi dari Maulid adalah memperkuat hubungan spiritual dengan Rasulullah dan meneladani akhlak serta ajaran dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor:


