6 Bentuk Ghibah yang Diperbolehkan dalam Islam

6 Bentuk Ghibah yang Diperbolehkan dalam Islam

Dalam kehidupan sehari hari, membicarakan orang lain seringkali dilakukan setiap orang dan sering menjadi kebiasaan. Kadang, orang tidak sadar bila yang yang dibicarakan bisa masuk ke ranah ghibah yang dalam agama islam merupakan hal yang dilarang. 

Namun ada beberapa situasi di mana ghibah bisa diperbolehkan, bahkan halal hukumnya. Lantas bentuk ghibah apa yang diperbolehkan oleh agama Islam?

Dalam Al-Qur'an, Allah swt telah memberi peringatan kepada hambanya agar menjauhi perbuatan ghibah, sebab hal tersebut sama halnya mereka memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati.

-يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬ -١٢

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sekalian berghibah( menggunjing) satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu sekalian yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.” [QS: 49 (al Hujurat) ayat 12.]

Ghibah menurut hadits Rasulullah saw adalah membicarakan keburukan orang lain atau sesuatu yang tidak disukainya. Semisal membicarakan si A adalah seseorang yang pintar namun ia jarang mandi untuk menarik perhatian orang lain. Namun si A tidak suka untuk dikenali seperti itu. Sebagaimana penjelasan Rasulullah saw berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Artinya: "Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bertanya: “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah saw bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?' Beliau berkata: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya." (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Darimi)

Kendatipun hukum asal dari ghibah adalah haram namun ada beberapa situasi hukum ghibah berubah menjadi diperbolehkan bahkan wajib. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Is’ad Ar Rafiq karya Syaikh Muhammad Bin Salim Bin Said Babisil As Syafi’i juz 2 halaman 72 berikut:

ثُمَّ إِنَّ الْأَصْلَ فِيْهَا الْحُرْمَةُ وَ قَدْ تَجِبُ أَوْ تُبَاحُ لِغَرَضِ شَرْعِيَّ لَا يَتَوَصَّلُ إِلَيْهِ إِلَّا بِهَا وَيَنْحَصِرُ فِي سِتَّةِ أَبْوَابٍ: الْأَوَّلُ الْمُتَظَلَّمُ فَلَمِنْ ظُلِمَ أَنْ يَشْكُو لِمَنْ يُظَنُّ أَنَّ لَهُ قُدْرَةٌ عَلَى إِزَالَةِ ظُلْمِهِ أَوْ تَخْفِيفِهِ الثَّانِي الْإِسْتِعَانَةُ عَلَى تَغْيِيرِ مُنْكَرِ يَذْكُرُهُ لِمَنْ يُظَنُّ قُدْرَتَهُ عَلَى إِزَالَتِهِ بِنَحْوِ فُلَانِيُّ عَمِلَ كَذَا فَأَزْجَرَهُ بِقَصْدِ التَّوَصُّلِ لإِزَالَةِ الْمُنْكَرِ وَ إِلَّا كَانَ غِيْبَةٌ مُحَرَّمَةٌ مَا لَمْ يَكُنْ جَاهِلًا . الثَّالِثُ الإِسْتِفْتَاءُ بِأَنْ يَقُوْلَ لِمُفْتٍ: ظَلَمَنِي فُلَانُ بِكَذا فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ وَ مَا طَرِيقِي فِي خَلَاصِي مِنْهُ أَوْ تَحْصِيلُ حَتَّي أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ. وَ الْأَفْضَلِ أَنْ يُبْهِمَهُ فَيَقُولُ مَا تَقُوْلُ فِي شَخْصٍ أَوْ زَوْجٍ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ كَذَا وَ إِنَّمَا جَازَ التَّصْرِيْحُ بِاسْمِهِ لِأَنَّ الْمُفْتِيَ قَدْ يُدْرِكُ مِنْ تَعْيِينِهِ مُعَنَّى لَا يُدْرِكُهُ مِنْ إِبْهَام لرَّابِعُ تَحْذِيرُ الْمُسْلِمِينَ وَ نُصْحُهُمْ كَجَرْحِ الرُّوَاةِ وَ الشُّهُودِ وَالْمُصَنَّفِينَ وَالْمُتَصَدِّينَ لِافْتَاءِ أَوْ عِلْمٍ أَوْ قِرَاءَةِ مَعَ عَدَمٍ أَهْلِيَّةٍ أَوْ مَعَ نَحْوِ فِسْقٍ أَوْ بِدْعَةٍ وَ هُمْ دُعَاةٌ إِلَيْهَا وَلَوْ سِرًّا فَتَجُوْزُ إِجْمَاعًا بَلْ تَجِبُ وَ كَأَنْ يُشِيْرَ وَ إِنْ لَمْ يَسْتَشِرْ عَلَى مُرِيدِ تَزَوُّجٍ أَوْ مُخَالَطَةٍ لِغَيْرِهِ فِي أَمْرٍ دِينِي أَوْ دُنْيَوِيٌّ وَ قَدْ عُلِمَ فِي ذَلِكَ الْغَيْرِ قَبِيحًا مُنْفَرًا كَفِسْقٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ طَمْعِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ كَفَقْرٍ فِي الزَّوْجِ بِتَرْكِ تَزَوجِهِ الْخَامِسُ أَنْ يَتَجَاهَرَ بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كَالْمَكَاسِيْنَ وَ شَرَبَةِ الْخَمْرِ ظَاهِرًا وَذِي الْوِلايَاتِ الْبَاطِلَةِ. فَيَجُوزُ ذِكْرُهُمْ بِمَا تَجَاهَرُوْا بِهِ دُوْنَ غَيْرِهِ فَيَحْرُمُ ذِكْرُهُمْ بِعَيْبٍ آخَرَ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ لَهُ سَبَبُ آخَرُ مِمَّا مَرَّ السَّادِسُ التَّعْرِيفُ بِنَحْو لَقَبٍ كَالْأَعْمَشِ وَ الصُّمَّ وَ الْأَقْرَعِ وَالْأَعْوَرِ فَيَجُوزُ وَإِنْ أَمْكَنَ تَعْرِيفُهُ بِغَيْرِهِ. وَ تَعْرِيفُهُ بِهِ عَلَى جِهَةِ التَّعْرِيفِ لَا التَّنْفِيْصِ وَالْأَوْلَى بِغَيْرِه

Dari teks ini setidaknya ada 6 bentuk ghibah yang diperbolehkan;

  1. Ghibahnya orang yang terdzalimi, ia mengadukan orang yang mendzaliminya kepada orang yang mampu menghilangkan/meringankan kedzaliman tersebut seperti aparat polisi dan lain-lain.
  2. Ghibah yang digunakan sebagai sarana untuk mengubah atau menghilangkan kemungkaran. Semisal si A mengadu kepada polisi bahwa si B melakukan kejahatan kepada orang di sekitar lapangan bola.
  3. Ghibah dalam rangka mencari fatwa. Misalnya si A memiliki masalah sengketa dengan si B kemudian si A bertanya kepada tokoh ulama di desanya apakah si A boleh menuntut atau membalas si B. Namun dalam bertanya hendaknya si A menyamarkan identitas si B jika hal tersebut tidak diperlukan. Namun bila harus menyebutkan secara jelas identitas si B maka hal tersebut diperbolehkan. 
  4. Ghibah dalam rangka memberi peringatan kepada kaum muslimin agar terhindar dari keburukan. Semisal si A adalah tokoh ulama didesanya, suatu hari ada si B datang ke desanya si A. si B terkenal merupakan ulama gadungan yang radikal. Lantas si A membicarakan si B saat pengajian yang dipimpinnya bahwa membuat masalah si B merupakan ulama gadungan yang tak patut dijadikan sebagai panutan. Bahkan ghibah yang demikian diwajibkan agar umat tidak terjerumus dalam kesesatan.
  5. Membicarakan keburukan orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan atau perbuatan bid’ah tanpa ditutup tutupi.
  6. Menyebutkan keburukan orang lain dengan tujuan mendefinisikan orang tersebut agar mudah dikenali.

Demikian penjelasan terkait 6 bentuk ghibah yang diperbolehkan dalam islam semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bissawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo