Tips Mendidik Anak menurut Imam Al-Haddad, Orang Tua Wajib Tahu!

Tips Mendidik Anak menurut Imam Al-Haddad, Orang Tua Wajib Tahu!

Arina.id - Keberadaan seorang anak dalam kehidupan rumah tangga layaknya lilin di tengah kegelapan malam. Menerangi sekaligus menemani dalam gelap gulitanya lika-liku kehidupan. Suara tangis dan rengekan khas anak kecil tak akan dianggap sebagai suara bising oleh orangtunya. Ia adalah melodi sekaligus penyempurna keharmonisan sebuah rumah tangga.

Anak juga bisa dijadikan ladang investasi pahala jariyah, penerus estafet perjuangan orang tuanya dalam menjalankan kebaikan. Disisi lain ia juga bisa menjadi bumerang bila tak dididik dengan benar sehingga tumbuh menjadi insan yang buruk dan brutal merugikan orang yang ada disekitarnya. Sebab dosa jariyah akibat kesalahan dalam mendidik anak akan mengalir kepada orang tuanya.

Salah satu hadits populer terkait anak sebagai ladang investasi amal jariyah adalah riwayat dari Imam Muslim berikut:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ  – رواه مسلم 

Artinya: ”Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya.” (H.R. Imam Muslim)

Tips Mendidik Anak Ala Imam Al-Haddad

Mengingat anak merupakan aset penting, baik bagi orangtuanya maupun lingkungan sekitar, Imam Al Hadad memberi beberapa nasihat dalam mendidik anak agar tumbuh sebagai pribadi yang berkualitas, bermanfaat bagi orang tua pun juga masyarakat sekitarnya.

Imam Al Hadad yang mempunya nama lengkap Habib Abdullah bin ‘Alawi Al Haddad dalam kitabnya Sabilul Iddikar menjelaskan beberapa tips dalam mendidik anak agar tumbuh sebagai pribadi yang dapat menjaga hubungan vertikal (hubungan dengan Tuhan) yakni saleh agama dan hubungan horizontal (hubungan dengan sesama makhluk tuhan) atau saleh dalam bersosial.

Ia menjelaskan:

وَعَلَيْهِمَا أَنْ يَغْرِسَا فِي قَلْبِهِ تَعْظِيمَ شَعَائِرِ ٱلدِّينِ، وَحُرُمَاتِ ٱللَّهِ، وَمَحَبَّةَ ٱلْخَيْرِ، وَمَحَبَّةَ ٱلْعَمَلِ بِهِ، وَمَحَبَّةَ أَهْلِهِ، وَيُرَغِّبَاهُ فِيهِ، وَيَحُثَّاهُ عَلَيْهِ، وَيُبَغِّضَا إِلَيْهِ ٱلشَّرَّ وَٱلْعَمَلَ بِهِ، وَيُبَغِّضَا إِلَيْهِ أَهْلَهُ وَٱلْعَامِلِينَ بِهِ، وَأَنْ لَا يَزْرَعَا فِي قَلْبِهِ حُبَّ ٱلدُّنْيَا وَشَهَوَاتِهَا، وَٱلْمَيْلَ إِلَى ٱلتَّنَعُّمِ بِهَا، وَلَا يُعِينَاهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ، وَلَا يُسَاعِدَاهُ عَلَيْهِ، وَلَا يُسْعِفَاهُ بِهِ، فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنَ ٱلْإِسَاءَةِ إِلَيْهِ وَٱلْعُدُولِ بِهِ عَنْ شَاكِلَةِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ

Artinya: “Kedua orang tua harus menanamkan dalam hati anak mereka rasa penghormatan terhadap syiar agama, menjaga larangan Allah, mencintai kebaikan, mencintai amal saleh, serta mencintai orang-orang yang berbuat baik. Orangtua juga harus membangkitkan minat anak terhadap kebaikan, mendorongnya untuk mengamalkannya, serta menanamkan kebencian terhadap keburukan dan perbuatan dosa. Selain itu, mereka harus membuat anak membenci orang-orang yang melakukan kejahatan serta tidak menanamkan kecintaan terhadap dunia, hawa nafsu, dan kesenangan berlebih. Orang tua juga dilarang membantu atau mendukung anak dalam hal tersebut, karena itu termasuk bentuk kezaliman terhadap anak dan dapat menjauhkannya dari jalan kebenaran.”

Imam Al Hadad mewanti-wanti agar tips ini diterapkan dalam mendidik anak sejak sedini mungkin. Ketika anak menginjak umur 7 tahun, orang tua mulai memerintah anak agar melaksanakan kewajiban syariat Islam sesuai kemampuannya, mulai dari sholat, puasa dan lain lain. Saat usia 10 tahun, orang tua berhak memberi sanksi kepada anak agar ia jera ketika lalai dengan tanggung jawab dan kewajibannya menjalankan syariat Islam. 

Lebih lanjut, ketika anak beranjak baligh, orang tua harus menjaga pergaulan anak, agar ia tumbuh di lingkungan yang baik sebab lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan karakter sang anak.

Yang terpenting adalah menanamkan dan mempraktikkan hal-hal baik kepada anak sejak dini agar mereka terbiasa. Kebiasaan baik yang konsisten hingga dewasa berawal dari kebiasaan baik yang diterapkan sejak usia dini. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk lebih intensif dalam mendidik anak sejak kecil, serta terus mengawasi dan memastikan anak tumbuh dengan kebiasaan yang baik hingga dewasa.

وَيَرْسُخَ فِيهِ تَعَوُّدُ ٱلْعَادَاتِ ٱلْحَسَنَةِ، فَيَتَيْسَّرَ عَلَيْهِ ٱلْعَمَلُ بِذَٰلِكَ فِي كِبَرِهِ؛ فَإِنَّ ٱلْخَيْرَ عَادَةٌ، وَأَكْثَرُ وَظَائِفِ هَٰذَا ٱلْحِينِ مِنْ هَٰذَا ٱلْعُمْرِ، يَتَعَلَّقُ ٱلْقِيَامُ بِهَا بِٱلْآبَاءِ وَٱلْأَوْلِيَاءِ.

Artinya:”Dengan begitu, anak akan terbiasa dengan perbuatan yang baik, dan ini akan memudahkan mereka untuk terus melakukannya ketika mereka dewasa. Karena kebaikan adalah kebiasaan, dan sebagian besar tugas pendidikan pada usia ini adalah tanggung jawab orang tua dan wali untuk memastikan anak-anak mereka tumbuh dengan baik.” (Sabilul Iddikar, halaman 33)

Orangtua yang konsisten dan sabar dalam mendidik anaknya dengan baik, sejatinya ia tak sedang mementingkan keuntungan dirinya saja tapi juga orang lain. Pendidikan yang baik akan melahirkan generasi yang berkualitas dan pastinya selain memberi manfaat kepada orang tuanya ia juga bermanfaat kepada masyarakat sekitarnya. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo