Arina.id - Belakangan ini, berbagai olahraga viral seperti gym, lari, dan paddle ramai memenuhi beranda media sosial. Banyak anak muda yang mengunggah aktivitas mereka saat mengangkat beban di gym, membagikan hasil lari melalui aplikasi Strava, hingga memamerkan gaya serius saat bermain paddle lengkap dengan selebrasi unik.
Olahraga memang menjadi tren gaya hidup sehat yang positif. Namun, ternyata aktivitas fisik seperti gym, lari, dan paddle tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga bisa menjadi ladang pahala jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar sesuai syariat Islam. Bagaimana caranya? Simak penjelasan lengkapnya!
Niat: Kunci penentu nilai pahala amal ibadah
Niat dalam Islam memiliki posisi yang sangat penting. Dari niatlah kualitas amal seseorang dinilai, dan melalui niat pula seseorang memperoleh pahala atas ibadahnya. Jika amal perbuatan tidak sesuai dengan niat yang benar, maka amal itu akan sia-sia, layaknya jasad tanpa ruh.
Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda
إِنَّمَا ٱلْأَعْمَالُ بِٱلنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مَا نَوَىٰ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُۥ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ، فَهِجْرَتُهُۥ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُۥ لِدُنْيَا يُصِيبُهَآ، أَوِ ٱمْرَأَةٍ يَنكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُۥ إِلَىٰ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِۦ.
Artinya: "Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia peroleh atau karena seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari Muslim)
Dari hadits ini, para ulama menekankan pentingnya berhati-hati dalam masalah niat. Sebab, perbuatan yang tampak seperti ibadah sekalipun, jika niatnya salah, tidak akan bernilai pahala di sisi Allah. Contohnya, seseorang yang bersedekah namun niatnya hanya ingin dipuji oleh orang lain.
Sebaliknya, perbuatan yang terlihat mubah dan bukan ritual ibadah dapat menjadi berpahala jika diniatkan dengan benar. Misalnya, makan dan minum dengan niat agar kuat beribadah, atau bekerja untuk menafkahi keluarga. (Al Fiqh Al Islamy Wa Adillatuhu, juz 1 hal.224)
Niat-Niat Baik Saat Olahraga Agar Bernilai Ibadah
Niat dapat mengubah sebuah amal menjadi ibadah, atau sebaliknya, menjadikannya tidak bernilai ibadah sama sekali. Saat melakukan olahraga, ada beberapa niat yang bisa kita tanamkan agar aktivitas tersebut bernilai ibadah di sisi Allah.
Pertama, niat menjaga kesehatan untuk beribadah lebih optimal. Tidak dapat dipungkiri, ketika tubuh tidak lagi fit, berbagai aktivitas sehari-hari akan terganggu. Pekerjaan menjadi terhambat, bahkan kewajiban ibadah seperti sholat pun tidak dapat dilakukan dengan sempurna.
Jika kita berolahraga dengan niat agar tubuh tetap fit dan sehat, tentu hal ini bernilai ibadah. Sebab, pekerjaan menjadi lancar, nafkah keluarga tercukupi, dan ibadah dapat dilakukan dengan lebih optimal.
Kedua, niat bersyukur atas nikmat tubuh yang diberikan Allah. Dengan berolahraga, secara tidak langsung kita menunjukkan rasa syukur kepada Allah. Sebab, olahraga adalah salah satu cara merawat dan menjaga anugerah tubuh yang telah diberikan-Nya.
Ibarat orangtua yang memberikan ponsel kepada anaknya, lalu sang anak menggunakannya untuk hal-hal positif dan merawatnya dengan baik, tentu orang tua akan merasa senang dan mungkin suatu saat akan memberinya lebih banyak kebaikan. Begitu pula dengan Allah, jika kita mensyukuri nikmat-Nya, maka Dia akan menambah nikmat tersebut.
لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim ayat 7)
Ketiga, niat silaturahmi. Saat berolahraga, terutama dalam event-event besar seperti lari maraton dan sejenisnya, kita memiliki kesempatan untuk bersilaturahmi. Di sana, kita akan bertemu banyak orang baru, berkenalan, saling mendukung, serta berbagi cerita tentang kesehatan dan progres olahraga masing-masing. Dari situ, terjalinlah ikatan silaturahmi yang membawa banyak kebaikan.
Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ. فَقَالَ تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
Artinya: ”Dari Abu Ayyub, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah:“Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Maka beliau bersabda: “Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR. Imam Bukhari)
Adab dan Batasan dalam Olahraga Agar Sesuai Syariat
Setelah niatnya benar dalam berolahraga, hal penting berikutnya adalah menjaga adab saat berolahraga. Misalnya, menutup aurat dengan baik, menghindari riya’ atau pamer, mematuhi aturan yang berlaku, serta tidak melalaikan kewajiban lain seperti tanggung jawab mengurus keluarga atau menyelesaikan pekerjaan.
Sebab, meskipun niatnya sudah benar, jika dalam praktiknya tidak sesuai syariat, seperti membuka aurat atau melalaikan kewajiban, maka nilai ibadah dari olahraga tersebut bisa hilang, bahkan berujung pada dosa. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor:


