Orang Bodoh Lebih Bahaya dari Orang Jahat? Ini Kajian Islam dan Teori Cipolla

Orang Bodoh Lebih Bahaya dari Orang Jahat? Ini Kajian Islam dan Teori Cipolla

Arina.id - Jika disodorkan pertanyaan manakah yang lebih berbahaya antara orang jahat atau orang bodoh? Dapat dipastikan banyak dari kita yang menjawab orang jahatlah yang lebih berbahaya. Sebab dibenak pikiran kita seperti sudah terpogram secara otomatis bahwa orang jahat identik dengan tindakan kriminal, penipuan, korupsi, atau kekerasan yang disengaja.

Berbeda dengan orang bodoh. Acapkali kita mengasosiasikannya sebagai sosok yang polos, lucu, dan tentunya tidak berbahaya. Bahkan, banyak dari kita sering memaklumi dengan berkata, ”Nggak apa-apa, toh kamu juga nggak tahu.”

Realitanya justru orang bodohlah yang lebih berbahaya daripada orang jahat. Lantas bagaimana bisa orang bodoh lebih berbahaya dari pada orang jahat? Simak penjelasannya!

Islam Mengecam Kebodohan

Dalam literatur Islam, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk menghilangkan kebodohan dengan cara belajar dan menuntut ilmu. Allah akan mengangkat derajat orang yang memiliki ilmu ini dengan derjat yang tinggi. Sebagaimana firmannya dalam Surat Al Mujadilah ayat 11 berikut:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: ”Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Menurut ulama, alasan mengapa Allah meningggikan derajat orang yang berilmu, karena ia akan memberi manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Berbeda dengan orang yang bodoh alih-alih memberi manfaat, ia justru malah merugikan dirinya pun juga orang lain kendatipun ia berniat baik. 

Misalnya orang bodoh yang menyebarkan informasi tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Meskipun niatnya baik, seperti ingin berbagi agar orang lain waspada, namun tindakan ini tidak dibenarkan dalam Islam. Allah memerintahkan kita untuk memverifikasi kebenaran berita (tabayyun) agar tidak menimbulkan fitnah atau kerusakan seperti dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat: 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu."

Dampaknya, informasi yang salah (hoaks) bisa menyebabkan kepanikan, permusuhan, atau bahkan membahayakan orang lain.

وَالْجَاهِلُ وَاقِعٌ فِي تَرْكِ الطَّاعَاتِ وَفِعْلِ الْمَعَاصِي، شَاءَ أَمْ أَبَى، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيُّ شَيْءٍ الطَّاعَةُ الَّتِي أَمَرَهُ اللهُ بِفِعْلِهَا، وَلَا أَيُّ شَيْءٍ الْمَعْصِيَةُ الَّتِي نَهَاهُ اللهُ عَنِ ارْتِكَابِهَا، وَلَا يَخْرُجُ مِنْ ظُلُمَاتِ الْجَهْلِ إِلَّا بِنُورِ الْعِلْمِ.

Artinya: ”Orang yang bodoh pasti ia akan meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, baik ia suka atau tidak. Sebab, ia tidak tahu apa itu ketaatan yang diperintahkan oleh Allah untuk dilaksanakan, dan tidak tahu pula apa itu kemaksiatan yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan. Seseorang tidak akan bisa keluar dari kegelapan kebodohan kecuali dengan cahaya ilmu.” (Al Manhaj As Sawi Syarah Ushul Tarqiqah Ali Ba’alawi, [Jakarta; Dar ‘Ilmi Wad Da’wah,2017] halaman 77)

Kebodohan Versi Carlo M. Cipolla 

Dalam Buku Makanya Mikir! Seorang penulis Italia bernama Carlo M. Cipolla menjabarkan bahwa orang bodoh lebih berbahaya daripada orang jahat. Ia mula-mula menjelaskannya dengan mengkategorikan orang menjadi 4 kategori:

  1. Orang cerdas; orang yang keputusannya menguntungkan diri sendiri dan orang lain
  2. Orang tak beradaya; orang yang keputusannya merugikan diri sendiri tapi menguntungkan orang lain, 
  3. Orang jahat; orang yang keputusannya menguntungkan diri sendiri, tapi merugikan orang lain
  4. Orang bodoh: orang yang keputusannya merugikan diri sendiri dan orang lain.

Menurutnya, alasan kenapa orang bodoh lebih berbahaya daripada orang jahat adalah karena orang jahat (yang tidak bodoh) lebih bisa diprediksi. Ketika tujuan sudah jelas yakni menguntungkan diri sendiri, orang jahat akan bisa diprediksi langkah langkahnya. Ia akan memilih pilihan rasional yang mendekatkannya ke tujuan. Hal ini membuat pencegahan kejahatan lebih bisa dilakukan.

Misalnya, kita ingin mencegah perampokan (orang jahat), pencegahannya relatif lebih mudah karena kita bisa memprediksi tujuannya, seperti mengambil benda berharga, sehingga kita bisa membuat langkah pencegahan seperti lemari penyimpanan khusus.

Namun, orang bodoh sulit diprediksi karena meskipun tujuannya jelas, misalnya ingin menguntungkan dirinya, langkah-langkah yang diambil seringkali tidak masuk akal dan tidak sejalan dengan tujuannya. Akibatnya, tindakannya justru merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Karena tindakannya tidak bisa diprediksi, sulit bagi kita untuk mendesain sistem pencegahan yang efektif.

Oleh karena itu kadang kala tindakan merugikan yang dilakukan orang lain kepada kita, mungkin bukan karena ia bermaksud jahat, tapi memang akibat dari kebodohannya saja. Contoh, seorang sahabat yang berbohong dan menyembunyikan fakta bahwa pacar kamu selingkuh untuk menjaga perasaan kamu. Ketika kamu tahu perselingkuhan itu kamu akan marah ke sahabatmu, namun realitanya padahal sahabatmu ingin menjaga perasaan kamu agar kamu tidak sakit hati. Mungkin ia hanya menggunakan standar dirinya, yang pernah diselingkuhi dan merasa sangat sakit, sehingga ia memutuskan untuk menyembunyikan masalah itu demi menjaga perasaanmu. Namun, ternyata tindakannya itu salah.

Dengan demikian jangan meremehkan kebodohan, sebab kebodohan lebih berbahaya daripada kejahatan. Namun kita tentu juga harus menghindari perbuatan-perbuatan jahat. Jangan-jangan, masalah yang kerap kali terjadi di kehidupan kita baik di ranah pribadi, keluarga, masyarakat, atau bahkan dunia, bukan karena kejahatan melainkan kebodohan. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo