Fatherless Behavior pada Anak Perempuan: Pengertian dan Pandangan Islam

Fatherless Behavior pada Anak Perempuan: Pengertian dan Pandangan Islam

Arina.id - Belakangan publik mengetahui bahwa namanya adalah Silvi. Saat pergelaran Synchronize Fest 2024 hari ketiga di Gambir, ia terlihat menengadahkan tangannya, kepalanya mendongak keatas, melihat bibirnya, nampak ia menyenandungkan “Ya Rabbi bil Musthafa” berulang-ulang. Malam itu, Minggu, 6 Oktober 2024, Silvi memang sedang menyaksikan penampilan Hadad Alwi dan Sulis yang bertajuk “Cinta Rasul”.

Potongan video yang menampakkan Silvi kemudian beredar luas di berbagai platform media sosial. Sebagaimana lazimnya, netizen Indonesia yang memiliki kemampuan detektif "tingkat dewa" kemudian berhasil mengidentifikasi siapa sosok perempuan yang begitu khusyu’ bershalawat di tengah festival itu.

18 Oktober 2024, melalui unggahan video di akun Youtube miliknya, Abi Hadad Alwi kemudian berhasil mengundang Silvi dan mengajaknya berbincang. Kali ini, penampilan Silvi sudah jauh berbeda dibanding saat festival. Ia kini mengenakan gamis dan jilbab syar’i. Saat ditanya oleh Abi mengenai apa yang terjadi pada dirinya di malam itu, Silvi menjawab bahwa latar belakangnya ialah seorang perempuan yang kehilangan sosok Ayah.

Ia menjelaskan bahwa malam itu, saat Abi dan Ka Sulis menyanyikan lagu “Rindu Muhammadku”, bibirnya bergumam “Ya Rabbi bil Musthafa”, hatinya berucap “Ya Allah, Ya Rasululullah, tuntun aku”, tangannya menengadah seolah menggapai uluran tangan Sang Nabi, dan tentu saja air mata deras mengalir.

Mendengar hal itu, Abi lantas bertanya “Maukah Silvi menganggap Abi sebagai ayah?”. Abi juga menegaskan bahwa Rasulullah pasti menjadi ayah Silvi. 

Publik lantas berspekulasi bahwa Silvi terkena apa yang oleh sebagian pakar disebut sebagai “Fatherless Behavior”, yakni semacam kondisi psikologi negatif yang terjadi pada seorang anak akibat kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.     

Apa itu Fatherless Behavior?

Fatherless behavior merujuk pada perilaku atau kondisi psikologis yang berkembang pada individu, khususnya anak perempuan, akibat kurangnya kehadiran atau peran ayah dalam kehidupan mereka. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti perceraian, kematian, ketidakhadiran fisik, atau ketidakpedulian emosional dari seorang ayah.

Ismalandari Ismail, dkk (2024) dalam jurnalnya yang berjudul The Influence of Fatherless on Aggression Behavior in Adolescents menyebutkan bahwa seorang anak yang tumbuh dari masa kecil hingga remaja dengan kondisi tanpa peran seorang ayah akan menunjukkan perilaku agresif akibat ketidakstabilan psikologis yang terjadi seiring dengan kealpaan seorang ayah. Ayah memainkan peran penting dalam perkembangan emosional, psikologis, dan sosial seorang anak.

Sementara Nurbani, R. M. (2019) dalam jurnal berjudul Komunikasi Antarpribadi dengan Lawan Jenis pada Perempuan Fatherless menyebutkan bahwa ketidakstabilan psikologis yang terjadi pada anak fatherless lebih banyak ditemukan kasusnya pada anak perempuan. Kondisi fatherless itu sendiri bukan hanya terjadi pada seorang anak yatim yang ayahnya meninggal, namun juga pada unreilable father (ayah hadir secara fisik namun tidak menjalani perannya) dan abusive father (ayah yang kerap melakukan kekerasan).

Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran ayah yang penuh kasih dan perhatian pada seorang anak, terlebih anak perempuan dapat membentuk rasa percaya diri, stabilitas emosional, dan pandangan positif anak terhadap hubungan interpersonal. Sebaliknya, ketiadaan sosok ayah sering kali memengaruhi anak perempuan dalam berbagai aspek, seperti:

  1. Kesulitan membangun hubungan sehat. Anak perempuan yang tidak memiliki kehadiran ayah cenderung merasa tidak yakin atau rentan dalam menjalin hubungan romantis di masa depan.
  2. Masalah identitas diri. Kehilangan figur ayah dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kemampuan anak untuk memahami nilai-nilai hidup.
  3. Perilaku berisiko. Sebagian anak perempuan mungkin mencari pengakuan atau kasih sayang dari orang lain dengan cara yang kurang sehat.

Pandangan Islam tentang Fatherless Behavior

Dalam Islam, keluarga dianggap sebagai institusi yang sangat penting. Seorang ayah memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan memenuhi kebutuhan emosional serta finansial keluarganya. Al-Qur'an dan hadits memberikan panduan yang jelas tentang kewajiban seorang ayah untuk hadir dan mendukung keluarganya.

Dalam Islam, sosok seorang ayah sangat vital karena ia adalah seorang pemimpin keluarga yang bertanggung jawab atas nafkah istri dan anak-anaknya. Nafkah yang dimaksud ialah jaminan finansial bagi mereka sekaligus jaminan kenyamanan spiritual dan religius. Maka dalam hal ini, seorang ayah diwajibkan untuk mendidik anak-anaknya dalam iman dan akhlak.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menunjukkan pentingnya peran ayah dalam memastikan keluarganya berada dalam jalan yang benar dan terlindungi dari bahaya, baik di dunia maupun di akhirat. Termasuk dalam hal ini adalah jaminan kenyamanan psikologis para anggota keluarga.

Ketidakhadiran ayah tidak hanya berdampak pada perkembangan anak secara psikologis, tetapi juga pada pendidikan iman dan akhlak. Ayah yang lalai dalam menjalankan perannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ 

Artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pentingnya sosok ayah dalam Islam, terlebih bagi perkembangan anak perempuan, hingga Islam memberikan aturan bahwa jika ayah asli seorang anak perempuan telah wafat, maka tanggung jawab kemudian dialihkan pada kakek, saudara lelaki, hingga paman dan seterusnya. Para ulama fikih menyebut hal ini sebagai “konsep perwalian”.

Imam Abu Suja dalam Matan al-Ghâyah wa Taqrîb (Surabaya: Al-Hidayah, 2000), hal. 31, menjelaskannya sebagai berikut:

 وأولى الولاة الأب ثم الجد أبو الأب ثم الأخ للأب والأم ثم الأخ للأب ثم ابن الأخ للأب والأم ثم ابن الأخ للأب ثم العم ثم ابنه على هذا الترتيب فإذا عدمت العصبات ف…الحاكم 

Artinya: “Wali paling utama ialah ayah, kakek (ayahnya ayah), saudara lelaki seayah seibu (kandung), saudara lelaki seayah, anak lelaki saudara lelaki seayah seibu (kandung), anak lelaki saudara lelaki seayah, paman dari pihak ayah, dan anak lelaki paman dari pihak ayah. Demikianlah urutannya. Apabila tidak ada waris ‘ashabah, maka…hakim.”

Perlu diperhatikan bahwa fatherless behavior pada anak perempuan merupakan fenomena yang tidak hanya berdampak pada aspek emosional dan sosial, tetapi juga spiritual. Islam menempatkan pentingnya peran ayah sebagai pembimbing dan pelindung keluarga. Ketika seorang ayah tidak mampu menjalankan perannya, Islam memberikan solusi berupa penguatan keluarga besar dan tanggung jawab kolektif dalam membesarkan anak. Dengan pendekatan ini, anak perempuan yang kehilangan sosok ayah tetap dapat tumbuh dengan baik secara emosional, sosial, dan spiritual. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo