Tawaran pekerjaan yang menantang tapi juga gila. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) meminta Sven-Goran Eriksson – yang sukses mengantar Lazio menjadi juara Liga Italia pada 2000, untuk menangani tim nasional Inggris yang kehilangan pelatih selepas Kevin Keegan mengundurkan diri.
Bukan pekerjaan mudah, tentu saja. Inggris kala itu, yang tengah merintis jalan ke Korea dan Jepang di Piala Dunia 2002, memulai hasil yang buruk. Kalah di pertandingan perdana oleh Jerman di stadion Wembley, lalu kemudian mereka pun hanya main imbang tanpa gol melawan Finlandia.
Jelas ini bukan langkah awal yang baik. Namun, nyatanya Eriksson – pria asal Swedia itu berani mengambil tantangan tersebut. Pekerjaan ekstra berat. Bukan saja kans untuk lolos lumayan berat tapi dia juga menjadi orang asing pertama yang menjadi pelatih Inggris.
Tak perlu waktu yang lama. Media Inggris yang dikenal ganas langsung menyerang Eriksson. Meski saat itu, dia menjadi manajer yang paling disegani di Eropa toh serangan datang bertubi-tubi padanya.
Media di sana menyebut FA telah salah memilih pelatih yang berasal dari negeri yang orang-orang lebih suka bermain ski. Lebih kejam lagi mereka menuliskan Eriksson adalah pilihan yang mengerikan sekaligus menyedihkan.
Eriksson memilih tenang dan tidak meladeni. Sepanjang anak buahnya bermain di lapangan, dia hanya diam di pinggir lapangan. Di balik kacamatanya, otaknya berputar menyusun strategi.
Hasilnya, dia berhasil memimpin Inggris meraih kemenangan 3-0 atas Spanyol dalam laga persahabatan di Villa Park, London, Februari 2001. Puncaknya terjadi pada tujuh bulan kemudian. Pasukannya yang terdiri dari Michael Owen, David Beckham, menang besar atas Jerman, dengan skor telak 5-1.
Kemenangan yang bukan saja menjadi pembalas kekalahan sebelumnya di Wembley tapi juga membuka pintu lebar-lebar menuju Piala Dunia 2002. Lebih dari itu, skor telak ini membuat publik Inggris jatuh cinta padanya. Media pun berbalik memuji. Guardian menulis dengan kegembiraan yang tiada terkira. Penunjukan Eriksson disebut sangat jenius.
Langkah Inggris pun kian terbuka setelah bermain imbang dengan Yunani di stadion Old Trafford, Manchester, pada Oktober 2001. Tim yang berjuluk The Three Lions ini pun meraih tiket ke Piala Dunia 2002 meninggalkan Albania, Finlandia, Jerman, dan Yunani.
Hari-hari yang benar istimewa bagi Eriksson. Mereka terbang ke Jepang bersama dengan para pemain terbaik Inggris di masanya. Beckham dan kawan-kawan kala itu disebut sebagai generasi emas sepak bola negeri itu. Harapan pun diselempangkan pada Eriksson untuk berbuat banyak di Piala Dunia.
***
Karier kepelatihan Eriksson dimulai tak lama setelah pensiun sebagai pemain. Setelah dua musim melatih klub Swedia, Degerfors, klub besar IFK Göteborg menunjuknya sebagai pelatih. Namun tak banyak orang yang tahu Eriksson yang kala itu masih berusia 30 tahun.
Namun ia tidak gentar. Di kepalanya hanya kemenangan dan kemenangan. Berhasil. Selain mengantar Göteborg meraih gelar juara Swedia, dia juga memberikan gelar Piala UEFA untuk klubnya pada 1982.
Keberhasilannya itu yang membuatnya mendapatkan pekerjaan menangani klub besar, Benfica, Portugal. Dasar bertangan dingin, di sana dia berhasil mempersembahkan dua gelar liga dan mencapai final Piala UEFA lainnya pada tahun 1983.
Perjalanan kariernya kemudian berlabuh di berbagai klub Italia. Roma dan Fiorentina adalah klub pertamanya di negeri itu. Sayang prestasinya kurang bagus. Barulah setelah dia sempat kembali ke Benfica, pada 1994 namanya mulai mendapat perhatian di Liga Italia.
Pada 1994, dia berlabuh di Sampdoria. Dia menghadiahi klub barunya itu dengan gelar juara Coppa Italia. Puncak karirnya di Italia terjadi pada 2000. Kala menangani Lazio, dia memberi scudetto. Gelar ini merupakan balasan dari Eriksson pada presiden klub yang kaya raya, Sergio Cragnotti. Si Bos relatif sering mengangguk setuju terhadap keinginannya dalam membeli pemain.
Sukses di Lazio itu pula yang membuatnya masuk dalam deretan pelatih bergengsi. Terlebih setelah menangani tim Inggris. Hasilnya tidaklah buruk. Dia mengantar The Three Lions ke tiga kejuaraan bergengsi dengan pencapaian yang lebih baik dari pelatih sebelumnya.
Di Piala Dunia 2002. Langkah mereka hanya terhenti di babak perempat final, setelah didepak Brasil yang kemudian menjadi juara. Di Stadion Shizouka, Beckham Cs kalah 1-2. Meski tersingkir, toh Eriksson menerbitkan harapan besar pada publik sepak bola Inggris.
Di kejuaraan Piala Eropa 2004, di Portugal, Inggris terhenti di babak perempat final. Pun dengan yang terjadi di Piala Dunia 2006 di Jerman. Mereka harus pulang setelah kandas di tangan Portugal.
Kritik, dan juga cercaan menyembur padanya. Eriksson dianggap gagal membuat prestasi besar bagi Inggris. Eriksson menjalani hari-hari yang berat. Dia tak hanya menghadapi tim lawan di lapangan dia juga harus banyak bersabar dengan serbuan media. Ibaratnya, selain tim lawan di lapangan dia harus menghadapi “musuh” lainnya.
Kehidupan pribadinya pun diobrak-abrik. Termasuk skandal percintaan terlarangnya dengan presenter televisi, dan sama-sama dari Swedia, Ulrika Jonsson. Kabar ini digoreng bahkan ketika Eriksson tengah mempersiapkan timnya ke Piala Dunia 2002.
Ulah media Inggris pun tak pernah berhenti. Puncaknya terjadi pada awal 2006. Kala itu, awak dari sebuah media menyamar menjadi seorang syekh yang mengaku akan membeli klub Aston Villa. Eriksson yang polos tak menyadari dengan jebakan itu.
Dalam pembicaraan dengan syekh palsu itu – yang direkam secara diam-diam, Eriksson mengungkapkan berbagai rencana. Termasuk menerima pekerjaan bila syekh itu jadi membeli klub Aston Villa.
Inggris pun heboh. Hasil pembicaraan itu membuat federasi sepak bola Inggris tak bisa mempertahankan posisinya. Dosa Eriksson dianggap besar. Saat masih menjabat manajer, tak seorang pun boleh melirik-lirik klub lain.
Putusan pun jatuh: Eriksson dipecat seusai Piala Dunia 2006, terlepas apa pun hasil Inggris di sana. Setelah lima tahun, dia pun mengakhiri perjalanan yang penuh dengan drama selama menangani Tim Inggris.
"Yang tidak adil bukanlah wartawan sepak bola tapi pers lainnya. Mereka tidak bisa membedakan kehidupan pribadi dan profesional seseorang. Ketika semua itu tercampur, akan berakibat buruk, bahkan sangat buruk," katanya tentang ulah para awak media di sana.
Perjalanan karir Eriksson selanjutnya seolah redup. Dia berkelana dari berbagai klub. Seperti Manchester City dia sempat mampir di Leicester, lalu ke Meksiko, dan terakhir melawat ke negeri tetangga, Filipina, pada 2019.
***
Mereka adalah legenda dari masing-masing klub. Di kubu The Reds, Liverpool ada Steven Gerrard, Fernando Torres, Jerzy Dudek, Maxi Rodriguez, Djibril Cisse, Dirk Kuyt, dan Sami Hyypia. Sedangkan dari Ajax, selain Edgard Davids ada juga pemain yang pernah membela Tottenham Hotspur, Rafael van der Vaart.
Pada akhir Maret 2024 silam para legenda itu bertanding dalam pertandingan amal, di Anfield, kandang Liverpool. Sven Goran Eriksson ada di sana. Dia mendapat tugas istimewa sebagai manajer tim legenda Liverpool. “Ini adalah hari yang indah,” katanya.
Laga ini memang dibuat khusus untuk Eriksson. Sejak kecil, dia memang menjadi penggemar Liverpool dan memiliki keinginan besar untuk menangani klub kesayangannya itu. Namun, hingga memutuskan untuk pensiun dari dunia kepelatihan kesempatan itu tak pernah datang.
LFC Foundation, yayasan milik klub Liverpool, pun mewujudkan mimpinya itu. Semua itu bukan tanpa sebab. Pada awal tahun ini, Eriksson mengumumkan tentang keadaan tubuhnya yang didiagnosis menderita kanker pankreas stadium akhir.
Tim dokter memprediksi hidupnya tak lebih dari setahun lagi. Itu sebabnya, dia mengundurkan diri dari pekerjaan terakhirnya, sebagai direktur olahraga di Karlstad, Swedia, Februari lalu.
Bukanlah hari-hari yang menyenangkan. Itu sebabnya, orang-orang terdekat terutama keluarga berupaya menghibur Eriksson. Di Stadion Anfield, Eriksson benar-benar bahagia. Liverpool Legends menang 4-2. Eriksson mendapat sambutan meriah dari publik Anfield sepanjang laga.
Sambutan meriah itu menjadi yang terakhir dalam hidupnya. Senin pagi, atau sore waktu Jakarta, Eriksson berpulang pada usia 76 tahun. Bo Gustavsson, perwakilannya, rekannya itu tutup usia dengan disaksikan keluarganya.
Para pemain Inggris yang pernah bermain di bawah asuhannya tentu saja merasa kehilangan. Wayne Rooney yang mendapat debut internasionalnya pada 2003, menyebut Eriksson sebagai "pria istimewa". "Terima kasih atas kenangan dan semua bantuan serta saran Anda,” tulisnya di akun X.
Michael Owen, yang menjadi pahlawan hat-trick dalam kemenangan telak 5-1 atas Jerman di Munich pada tahun 2001 menggambarkan pemain Swedia itu sebagai “salah satu yang terbaik”. “Dia adalah salah satu yang terbaik dan akan dirindukan oleh semua orang di dunia sepak bola,” tulis Owen.
Manchester City yang mempekerjakannya sebagai manajer, pada musim 2007/08, menyatakan rasa duka yang mendalam. Klub ini menyatakan akan memasang bendera setengah tiang untuk menghormatinya.
Sedangkan dari Italia, manajer Inter Milan Simone Inzaghi berterima kasih kepada Eriksson yang ikut mempengaruhi perjalanan kariernya. “Sven adalah pria yang hebat, contoh kehidupan bagi semua orang,” katanya.
Melewati hari-hari terakhir, seperti diprediksi tim dokternya takkan lebih dari setahun, bukan persoalan yang mudah. Namun Eriksson menjalaninya dengan keikhlasan.
Seperti yang terlihat dalam film dokumenter tentang kehidupannya, 'Sven'. "Terima kasih atas segalanya, pelatih, pemain, penonton, ini luar biasa. Jaga dirimu dan hidupmu. Jalani saja. Selamat tinggal.”
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


