Mengapa Gen Z (Lebih) Peduli Isu Lingkungan?

Mengapa Gen Z (Lebih) Peduli Isu Lingkungan?

Gen Z menjadi salah satu kategori sosial penting dari keseluruhan populasi Indonesia. Merujuk pada hasil Sensus Penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) 2020 lalu, jumlah Gen Z di Indonesia mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi yang berjumlah 270,2 juta jiwa.

Gen Z hidup di era ketika internet sudah mempengaruhi kehidupan dengan begitu masif. Era yang oleh Eric Schmidt dan Jared Cohen sebut sebagai The New Digital Age ini, kemajuan internet membuat hampir semua orang di muka bumi saling terkoneksi satu sama lain. Pengaruh internet yang begitu besar berdampak pada seluruh sendi kehidupan. Kini hampir semua orang berinteraksi dengan internet, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali tidak ada yang tak diperantarai oleh internet.

Gen Z tumbuh kembang di era demikian. Era tersebut pastinya berdampak pada karakter dan perilaku mereka. Roberta Katz dalam Gen Z Explained: The Art of Living in a Digital Age (2021), mengatakan bahwa Gen Z adalah orang yang melek teknologi karena mereka dibesarkan dalam era teknologi informasi. Mereka juga merupakan orang yang mampu mengendalikan diri sendiri, sangat peduli pada orang lain, berjuang untuk komunitas yang beragam, sangat kolaboratif, berjiwa sosial, menghargai fleksibilitas, kepemimpinan non-hierarki, dan peduli terhadap isu-isu yang diwariskan oleh generasi sebelumnya seperti perubahan iklim.

Gen Z dan Krisis Lingkungan

Gen Z selain dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, juga dikenal karena kecenderungan mereka yang sangat peduli terhadap permasalahan lingkungan, seperti global warming, polusi udara, banjir, dll. Kepedulian mereka terhadap persoalan lingkungan merupakan sesuatu yang wajar mengingat keadaan dunia tempat mereka hidup saat ini memang sedang dilanda krisis lingkungan parah. Dalam konteks pemanasan global misalnya, merujuk pada laporan Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC (2018), dikatakan bahwa suhu bumi telah meningkat lebih cepat dalam 2000 tahun terakhir.

Naiknya suhu bumi berdampak pada banyak hal, seperti suhu lautan yang terus menghangat dan semakin asam. Pegunungan dan gletser kutub yang akan terus mencair selama puluhan atau ratusan tahun. Mencairnya es di kutub ini membuat permukaan air laut naik. Kondisi demikian nantinya pasti mengancam daratan yang posisinya lebih rendah dari permukaan air laut. Selain itu, pemanasan global di masa mendatang bakal membuat temperatur bumi akan meningkat 1,5 derajat Celcius (1,5C) setiap tahunnya apabila tidak diambil tindakan nyata untuk mengatasinya.

Selain global warming, persoalan mengenai kualitas udara/polusi udara juga merupakan salah satu isu pelik banyak negara saat ini. Menurut IQAir, sebuah lembaga yang mengumpulkan data kualitas udara dari seluruh dunia, banyak negara yang paling tercemar di dunia tidak memenuhi pedoman yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) tentang standar kualitas udara. Indonesia adalah salah satu negara yang polusi udaranya termasuk tertinggi dunia. Hal itu bisa dirasakan langsung pada fenomena beberapa waktu belakangan di mana langit Jakarta diselubungi asap tebal polusi.

Selain itu, patut diperhatikan pula kalau Gen Z ini hidup di era ketika informasi tersebar luas dengan cepat. Mereka bisa mengakses berbagai informasi yang ada dengan mudah. Hal itu kemudian beririsan dengan informasi mengenai krisis lingkungan yang banyak terpublikasi di internet. Menurut Britt Wray, seorang peneliti di Stanford University’s Center for Innovation in Global Health, ada peningkatan besar dalam publikasi mengenai penelitian iklim dan kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir, yang itu menimbulkan kecemasan sekaligus kemarahan para Gen Z. Mereka marah karena merasa pemerintah tidak mengambil tindakan nyata untuk mengatasi situasi tersebut.

Berangkat dari kenyataan di atas, menjadi masuk akal apabila Gen Z kemudian peduli terhadap isu lingkungan. Gen Z tidak hidup di era generasi Baby Boomer dan X yang krisis lingkungan di kala itu belum sekompleks sekarang. Gen Z hidup ketika pemanasan global bukan lagi sekedar percakapan akademik di ruang kelas. Gen Z hidup ketika polusi udara memang nyata adanya seperti yang terjadi di langit Jakarta beberapa waktu ini. Gen Z hidup di saat pemanasan global berdampak pada permukaan air laut yang semakin tinggi dari daratan. Singkatnya Gen Z hidup dalam dunia yang penuh krisis lingkungan ke depannya. Dalam konteks demikian adalah keniscayaan apabila para Gen Z peduli terhadap lingkungan tempat mereka hidup. Justru aneh jika Gen Z malah tidak peduli dengan isu tersebut.

Krisis lingkungan dan perubahan gaya hidup

Krisis lingkungan yang melanda dunia berdampak pada perilaku, gaya hidup dan pemikiran para Gen Z dalam menjalani hidup. Riset yang dilakukan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Consulting berjudul, Gen Z-Lifestyle and Consumption Habits (2021), menemukan fakta bahwa para Gen Z merasa terganggu dengan krisis lingkungan yang sedang terjadi dan mereka sangat ingin berbuat sesuatu untuk menyelesaikannya. Salah satu bentuk langkah praktis yang Gen Z lakukan adalah dengan meneliti barang/produk yang bakal mereka beli, apakah berkontribusi terhadap krisis lingkungan atau tidak. Mereka juga mulai mengkritisi penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi dalam aktivitas keseharian.

Para Gen Z juga aktif menyuarakan keprihatinannya terhadap krisis lingkungan di media sosial. Riset yang dilakukan Pew Research Center berjudul Gen Z, Millennials Stand Out for Climate Change Activism, Social Media Engagement with Issue (2021), membuktikan hal itu. Dalam riset ini, dikatakan kalau 7 dari 10 Gen Z di Amerika Serikat (AS) yang ditanya mengenai keterlibatan mereka terhadap isu krisis lingkungan menjawab bahwa mereka aktif membicarakan isu tersebut lewat akun media sosialnya. Selain di media sosial, mereka juga tidak segan untuk bergabung dengan gerakan relawan dan protes dalam menyuarakan isu tentang krisis lingkungan. Hal itu bisa dilihat dari kemunculan aktivis-aktivis lingkungan dari kalangan Gen Z yang vokal terhadap isu tersebut.

Greta Thunberg adalah salah satu contoh terbaik dari hal di atas. Greta merupakan aktivis lingkungan asal Swedia yang bekerja mengampanyekan isu-isu terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Ia lahir tahun 2003 yang artinya ia masuk kategori Gen Z. Ia menjadi terkenal karena di usianya yang terhitung sangat muda, ia berani menyuarakan keprihatinannya di hadapan warga dunia terkait keadaan dunia yang semakin krisis. Model perjuangan ala Greta ini kini menjadi semacam tren di kalangan Gen Z dalam menyampaikan aspirasi politiknya. Mereka lebih individual dan tidak terafiliasi dengan lembaga-lembaga politik mainstream.

Model aktivisme politik semacam ini merupakan salah satu bentuk perilaku politik Gen Z yang cenderung berbeda dengan generasi sebelumnya. Riset membuktikan hal itu. Gen Z di AS dalam riset yang dilakukan Center for Generational Kinetics berjudul Gen Z’s Political and Civic Outlook (2016), dikatakan bahwa tingkat kepercayaan mereka terhadap pemerintah terbilang rendah, yaitu hanya mencapai sekitar 26%. Mereka cenderung skeptis dengan kekuasaan politik. Tapi bukan berarti Gen Z apolitis. Survei menunjukan bahwa lebih dari 60% Gen Z menganggap bahwa partisipasi politik tetap penting bagi perubahan sosial. Hanya saja bentuk partisipasinya ini berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti Baby Boomer dan X yang lebih melihat pemilu sebagai arena partisipasi politik sekaligus perubahan sosial. Gen Z memandang partisipasi politik tidak hanya dalam rupa pemilu semata. Bagi sebagian Gen Z pemilu dianggap tidak selalu berdampak langsung terhadap masalah yang ada. Data menunjukan bahwa hanya 47% Gen Z yang menganggap voting dalam pemilu dapat berdampak langsung. Itulah sebabnya tindakan politik Gen Z ini cenderung lebih individual dan tidak terikat dengan kekuatan politik dalam bentuk partai dan sejenisnya. Mereka lebih senang bergerak secara mandiri dan bicara sesuai preferensi politiknya. Walaupun konteks riset ini ada di AS, tapi data yang dihasilkan dapat jadi gambaran umum tentang perilaku politik Gen Z.

Krisis lingkungan yang sedemikian parah ini berdampak pula pada munculnya kecenderungan dari Gen Z yang kini mulai ragu untuk memiliki anak. Keraguan itu yang belakangan menjadi bahan bakar munculnya fenomena yang ramai disebut childfree. Dalam satu publikasi di tirto.id, diceritakan bahwa salah satu alasan seseorang memilih childfree, karena mereka khawatir dengan memiliki anak justru akan menambah beban populasi dunia yang nantinya berakibat pada krisis iklim yang semakin parah.

Krisis lingkungan bukan hanya menjadi permasalahan Gen Z semata, melainkan permasalahan bersama umat manusia saat ini. Untuk itu diperlukan tindakan serius guna menyikapi hal tersebut. Tindakan yang mampu menyentuh akar persoalan langsung, bukan tindakan reaksioner yang sifatnya tambal sulam atas situasi yang terjadi. Dalam konteks penyelesaian polusi udara di Jakarta misalnya, permasalahan itu tidak cukup diatasi hanya melalui kebijakan temporer dan kuratif semacam melakukan work from home (WFH) bagi para pekerja, merekayasa cuaca agar turun hujan, memakai masker, atau menggunakan penjernih udara. Menurut Ahmad Arif dalam opini di Kompas berjudul Politik Kotor Udara Jakarta (2023), yang dibutuhkan adalah kebijakan menyeluruh yang menyentuh akar masalah dan ditopang oleh komitmen politik yang kuat. Kasus pemerintah Beijing, China yang mengeluarkan kebijakan menutup PLTU karena menjadi penyebab polusi udara bisa menjadi contoh kebijakan yang bisa dikatakan menyentuh akar masalah. Pemerintah Indonesia apakah sanggup melakukan kebijakan semacam itu ke depannya akan sama-sama kita tunggu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor:
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo