Pemilihan Umum 2024 tinggal menghitung bulan. Jika tidak ada aral melintang, atau peristiwa besar yang mengaburkan rencana, maka pada Rabu, 14 Februari 2024, akan menjadi hari di mana masyarakat Indonesia bakal memilih anggota badan legislatif, sekaligus di waktu dan tempat yang sama juga memilih presiden periode 2024-2029.
Pemilu 2024 menjadi pemilu keenam yang dilaksanakan setelah Indonesia keluar dari cengkraman otoritarianisme orde baru. Kualitas demokrasi Indonesia ke depan, bakal ditentukan dari bagaimana kita menjaga warisan demokrasi yang telah sama-sama diupayakan selama ini.
Pemilu 2024 merupakan pemilu yang bisa dikatakan unik. Pasalnya, pada pemilu tahun depan bakal didominasi oleh para pemilih muda yang bisa dibilang masih ‘hijau’ dalam keikutsertaan pemilu. Pemilih muda yang dimaksud ialah generasi Z (Gen Z) atau penduduk yang lahir pada kurun 1997-2012.
Jumlah Gen Z, merujuk pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencapai 46.800.161 pemilih, atau 22,85% dari total DPT Pemilu 2024. Sedangkan sebanyak 66.822.389 atau 33,60% pemilih dari generasi milenial (penduduk yang lahir dalam kurun 1981-1996). Jumlah Gen Z dan milenial apabila diakumulasikan berjumlah lebih dari 113 juta pemilih, atau mencapai setengah dari jumlah DPT 204.807.222 pemilih.
Selain itu, ada kelompok pemilih dari generasi X yang menyusul di urutan berikutnya yaitu sebanyak 57.486.482 atau 28,07% dari total pemilih. Generasi X adalah orang kelahiran 1965 hingga 1979. Sisanya berasal dari kelompok generasi pre-boomer, atau orang yang lahir sebelum tahun 1944 dengan total sebanyak 3.570.850 atau 1,74% pemilih.

Menurut hasil survei opini publik dari Lembaga Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dengan tema, Orientasi Sosial dan Politik Pemilih Muda (Generasi Z dan Milenial) Menjelang Pemilu 2024 (2022), dikatakan jumlah Gen Z dan milenial yang signifikan ini membuat mereka menjadi target potensial bagi para politisi dan partai politik yang bertarung dalam pemilu 2024. Semua elemen yang terlibat dalam pemilu 2024 berlomba-lomba menarik simpati dari para pemilih muda ini. Siapa yang bisa menyedot suara dari dua generasi ini dalam pemilu mendatang, bisa dikatakan akan memuluskan jalan untuk memenangkan pertarungan.
Posisi Gen Z dalam pemilu 2024 menarik dicermati. Selain karena faktor jumlah mereka yang terbilang besar dari total keseluruhan pemilih, kenyataan bahwa sebagian besar Gen Z adalah pemilih yang baru pertama kali menyalurkan hak pilihnya dalam pemilu nanti, menjadi sesuatu yang menarik diperhatikan. Alasannya, pengalaman memilih untuk pertama kali ini akan membuat sikap dan aspirasi politik Gen Z cenderung sulit dibaca dan dipetakan karena tidak ada data terkait partisipasi politik mereka. Para politisi perlu memutar otak untuk membaca bagaimana karakteristik politik mereka.
Gen Z dan pemilu
Orang-orang yang masuk kategori Gen Z tumbuh kembang ketika Indonesia memasuki era reformasi setelah 32 tahun dibelenggu kekuasaan orde baru. Gen Z juga hidup ketika penetrasi internet sudah semakin masif dalam hidup keseharian. Merujuk survei Alvara Research Center pada tahun 2022 menyebutkan 98,8 persen Gen Z sudah terkoneksi dengan internet, sebagian besar dari mereka akses internet lebih dari 7 jam dalam satu hari. Hal ini tentu berbeda dengan generasi sebelum mereka, seperti milenial dan baby boomer yang sempat menyaksikan bagaimana orde baru berkuasa, serta pernah merasakan bagaimana pertumbuhan internet sebelum menjadi semasif seperti sekarang. Ihwal tersebut pastinya juga berdampak pada perilaku dan pemikiran Gen Z dalam memandang politik secara umum dan pemilu secara khusus.
Hasil survei Litbang Kompas Januari 2023 lalu bisa dijadikan acuan sederhana untuk melihat bagaimana Gen Z melihat pemilu 2024. Dalam survei tersebut, Kompas mencatat bahwa ada tiga kecenderungan Gen Z dalam memandang pemilu yang akan datang. Pertama, Gen Z tercatat cukup antusias untuk menggunakan hak pilih mereka dalam pemilu 2024. Tercatat sekitar 67,8 persen Gen Z menyatakan bakal menggunakan hak pilihnya dalam pemilu mendatang. Kedua, Gen Z sebagian besar lebih fokus pada pemilihan presiden daripada pemilihan legislatif. Ketiga, Gen Z cenderung tidak ingin menjadi bagian dari kelompok yang secara terbuka menyatakan akan golput.
Temuan Kompas ini secara tidak langsung membantah pendapat dari mereka yang cenderung sinis dan beranggapan bahwa para pemilih muda cenderung apolitis. Pandangan semacam ini biasanya dilontarkan oleh mereka yang lebih tua dari Gen Z. Dengan survei Kompas, menjadi jelas bahwa Gen Z tidaklah anti terhadap politik. Mereka justru antusias dan siap terlibat dalam proses politik. Persoalannya kemudian adalah politik seperti apa yang diimajinasikan oleh para Gen Z? Apakah politik konvensional seperti yang selama ini dipraktikan? Atau justru ada bentuk inspirasi politik lain dari Gen Z yang berbeda dengan kelompok sosial lain?
Gen Z dan orientasi politik
Usia yang muda dan pengalaman politik yang tidak seberapa dibandingkan generasi sebelumnya, membuat preferensi politik Gen Z pun cenderung tidak sama dengan generasi pendahulunya. Kalaupun ada kesamaan, itupun hanya terjadi antara Gen Z dengan milenial yang memang secara rentang usia terbilang dekat.
Lalu bagaimana preferensi politik Gen Z? Menurut temuan dalam riset CSIS (2022), Gen Z tertarik pada isu-isu yang berkaitan dengan kebijakan domestik dan global, seperti isu kesehatan, krisis lingkungan dan energi, lapangan kerja, kesejahteraan, korupsi, serta demokratisasi. Para Gen Z menyukai pemimpin yang bersih dan berintegritas serta mampu menjawab berbagai persoalan krusial yang menjadi ketertarikan mereka. Gen Z cenderung sama dengan milenial karena sama-sama masih percaya dengan institusi negara sebagai jalan mencapai kebaikan bersama.
Data CSIS ini apabila dikomparasikan dengan data tentang Gen Z dari berbagai belahan dunia lain ternyata ada kesamaan. Dalam riset yang dipublikasi oleh Center for Information & Research on Civic Learning and Engagement (CIRCLE) Tufts University, berjudul Gen Z, Aware of its Power, Wants to Have Impact on a Wide Range of Issues (2022), Gen Z di Amerika Serikat (AS) dilaporkan tetap percaya akan pentingnya pemilu dan kekuasaan. Menurut para responden, pemilu adalah cara untuk menyampaikan pendapat mengenai masa depan negara. Gen Z menyadari kalau suara mereka adalah alat untuk memberi dampak terhadap keadaan negara. Dalam riset tersebut juga terungkap bahwa isu yang menjadi perhatian para Gen Z ini ialah mengenai lapangan kerja, layanan kesehatan, dan perubahan iklim.
Apa yang terjadi di AS ternyata ditemui pula di Eropa. Menurut Joseph de Weck dan Niall Ferguson dalam satu artikel yang dimuat The Atlantic, berjudul European Millennials Are Not Like Their American Counterparts (2019), ada kecenderungan di anak-anak muda Eropa yang berasal dari Gen milenial dan Z untuk semakin kritis terhadap pelayanan publik, diskriminasi rasial, dan perubahan iklim. Joseph dan Niall mendasari argumentasinya pada data pemilih muda di berbagai negara besar Eropa, di mana mereka condong memilih calon atau partai yang mampu membawa agenda politik di atas.
Kenyataan demikian menjadi bukti bahwa tren politik Gen Z di berbagai dunia bisa dibilang memiliki kesamaan dengan segala variannya, yaitu sama-sama concern pada isu perubahan iklim, kesejahteraan, kesehatan, pelayanan publik hingga rasisme. Dari semua isu tersebut, satu kesamaan kunci mengenai Gen Z di banyak negara ialah posisi mereka yang rupanya masih mempercayai negara sebagai instrumen penting pemecah masalah.
Pelajaran penting dari ini semua, para politis apabila ingin merebut hati Gen Z sebaiknya berhenti mengglorifikasi isu usang yang tidak relevan lagi bagi fokus politik mereka, seperti isu kebangkitan komunis apabila calon A terpilih atau isu tentang kekuasaan asing yang akan mencengkram Indonesia jika calon B terpilih. Isu semacam itu menurut riset, sulit untuk bisa menarik perhatian para pemilih muda ini. Gen Z relatif kritis terhadap berbagai informasi yang beredar karena dibesarkan ketika akses informasi sudah sangat mudah didapatkan. Mereka bisa mencari kontra informasi dari narasi yang disampaikan para politisi. Apabila narasi yang dikampanyekan tidak sesuai kenyataan, para anak muda ini akan dengan mudah membantahnya. Mulailah menarik simpati dengan membawa gagasan yang berbasis program kerja berkaitan berbagai isu yang menjadi ketertarikan mereka. Jika ini dilakukan, suara gen Z yang signifikan dalam pemilu 2024 nanti bukan tidak mungkin akan mudah untuk digapai.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor: Muhammad Zunus


