Kecuali di Tokyo dia telah hadir di tujuh Olimpiade.
Di tengah langkah kaki orang Paris yang selalu tergopoh-gopoh, penampilannya sungguh mengundang perhatian. Dengan mengenakan topi bak ember dengan patung Menara Eiffel dan mengibarkan bendera dari berbagai negara tuan rumah, sosok perempuan ini tak heran bisa menghentikan langkah siapa pun yang melihatnya.
Jurus berikutnya, selain membuat melongo tak sedikit dari mereka yang kemudian menghampiri dan meminta berfoto bersama. Sekali jepretan, mereka yang berfoto bersama telah terbang di media sosial bersama tagar #TheOlympicSuperFan. “Mereka menyebut saya dengan julukan itu,” katanya.
Perempuan yang berpakaian unik itu, sudah tidak muda lagi -- usianya 66 tahun, adalah Vivianne Robinson. Toh begitu dia sangat energetik. Dia terbang dari California, Amerika Serikat untuk melakoni perjalanannya yang ketujuh hadir di pesta olahraga empat tahunan itu.
Berbagai pernik yang ada di bajunya, yang dipenuhi berbagai maskot dari beberapa Olimpiade sebelumnya menjadi potret panjang perjalanannya itu. "Saya ada di London, Athena, Sydney, Rio dan sekarang saya di Paris," ujarnya.
Selama sebulan berada di Paris, dia pun dipastikan akan sibuk. Di tangannya, dia sudah ada 38 tiket di berbagai pertandingan. Termasuk dua tiket yang harganya tidak murah, yakni acara pembukaan dan penutupan. Untuk pembukaan, dia merogoh uang hingga 1.600 dolar AS atau sekitar Rp 26 juta untuk sebuah kursi premium di jembatan di atas Sungai Seine.
"Saat pembukaan itu hujan turun deras. Masalahnya saya tidak bisa melihat apa pun. Mereka hanya punya layar televisi besar. Sedikit mengecewakan,” katanya.
Toh begitu di Olimpiade dia tetap menemukan banyak kegembiraan. Suasana kosmopolitan yang unik di tiap lokasi Olimpiade adalah musababnya. Saat itu pula dia bertemu banyak orang dan saling bertukar pin dengan komunitas penggemar sejati.
Itu juga membedakannya dengan suporter sepak bola. Misalnya dengan Clóvis Acosta Fernandes misalnya, suporter fanatik asal Brasil ini tercatat menonton langsung sekitar 60 pertandingan tim negerinya.
Itu sebabnya Fernandes yang selalu hadir di Piala Dunia terhitung sejak di Italia, pada 1990, dijuluki sebagai pemain ke-12 Selecao -- julukan tim Brasil. Fernandes yang wafat pada 2015 memang hadir untuk memberikan dukungan pada negerinya.
Sedangkan Robinson tak peduli dengan hasil yang diraihnya oleh negaranya dalam perolehan medali. "Bersyukur sih kalau AS bisa banyak medali. Tapi itu tidak penting," katanya.
Yang jelas dia tidak pernah merasa rugi mengeluarkan uang yang teramat banyak. Untuk perjalanan ke Paris, setidaknya dia menganggarkan uang sebesar 10 ribu dolar AS atau sekitar Rp 163 juta.
Uang sebanyak itu dia kumpulkan dari uang pensiunannya, sebesar 700 dolar AS ditambah dengan gaji sebagai kasir di toko kelontong sebesar 1.000 dolar AS. Sedikit demi sedikit dia menyisihkannya untuk keberangkatannya ke Olimpiade. Dengan cara itu, kecuali di Tokyo saat pandemi, sejak Olimpiade Atlanta 1996 -- Vivianne selalu hadir.
Kegilaannya pada Olimpiade bermula saat pesta olahraga itu digelar di Los Angeles, kampung halamannya, empat puluh tahun silam. Ketika itu sang ibu, yang menjadi volunteer perhelatan itu. Salah satu tugasnya, "Dia membawa pers untuk mewawancarai para atlet," kata Robinson.
Hadir di lokasi tetapi tanpa tiket dengan harga yang mahal, membuat Vivianne meminta sang mommy untuk mengumpulkan pin dari para atlet dari berbagai negara. Dari situlah dia pun memiliki keinginan untuk mengumpulkan lebih banyak koleksi berbau Olimpiade.
"Sekarang Ibu berusia 90 tahun. Dia tidak bisa bepergian kemana-mana. Saya mencoba memposting foto dan video sebanyak yang saya punya, jadi dia tahu saya sedang bersenang-senang!” kata Vivianne.
Ongkos bersenang-senang yang tidak murah. Tagihan kartu kredit yang sangat besar menantinya saat pulang. Tapi menurutnya harga yang pantas dibayar. “Anda tidak bisa berada di tempat yang lebih baik di dunia ini, hanya dikelilingi oleh para atlet, turis, monumen, dan kegembiraan Olimpiade,” katanya.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


