Tinggi badan Baron Pierre de Coubertin tak lebih dari megabintang Argentina, Lionel Messi. Tubuhnya mungil, hanya setinggi 161 centimeter, atau lebih pendek dari rata-rata tinggi pria dewasa Eropa. Namun Coubertin mengubah dirinya menjadi “raksasa” menjelang berakhirnya abad ke-19, setelah perjuangan besarnya menghidupkan kembali ritual olahraga legendaris umat manusia: Olimpiade.
Pada 23 Juni 1894, malam kedelapan atau terakhir dari rentetan rapat Kongres Olimpiade internasional di Paris, Coubertin mengucap fasih sambil bersulang dengan rekan-rekannya:
“Saya mengangkat gelas ini untuk gagasan Olimpiade, yang telah melintasi kabut zaman bagaikan sinar matahari yang kuasa dan kembali menerangi ambang abad ke-20 dengan impian dan harapan yang menggembirakan.”
Coubertin yang berusia 31 tahun kala itu merasa telah mencapai hal yang mustahil. Ia berhasil mewujudkan imajinasinya untuk menghidupkan kembali Olimpiade yang kali terakhir digelar di tahun 394.
Sepekan setelah rapat kongres, Coubertin mengajak tunangannya yang cantik dan kaya, Marie Rothan makan mewah di Le Pré Catelan, di Bois de Boulogne, dengan penuh kebanggaan meraih bayangan takdirnya untuk menjangkau masa depan tanpa akhir melalui siklus empat tahunan, menyatukan dunia dalam persahabatan dan perdamaian dunia di bawah bendera Olimpiade. Dia pun membayangkan parade besar terjadi di ibu kota, satu persatu setiap negara menjadi tuan rumah, yang dimulai di Athena pada 1896 dan kembali ke kampung halamannya di Paris pada 1900.
Memang benar, pada malam ketika Coubertin menjadi bapak gerakan Olimpiade modern, masa depan bersinar dengan penuh harapan. Namun seperti dekade yang lalu, kepemimpinannya dalam Olimpiade akan dipenuhi dengan pertentangan sengit, kecemburuan, dan perjuangan tanpa akhir yang akan menguras keuangannya dan menimbulkan kerugian pribadi. Namun demikian, didorong oleh “paksaan batin” yang tidak dapat ia tolak, ia bertahan, mengatasi setiap tantangan bersama kelompok rekan-rekan heroik internasional yang terus berkembang, dan pada akhirnya mewariskan kepada dunia perayaan kemanusiaan terbesarnya.
Baron Pierre de Coubertin dan Olimpiade Modern
Pierre de Fredy, atau lebih familiar dipanggil Baron de Coubertin lahir dari keluarga aristokrat di Paris, pada 1 Januari 1863. Ia adalah anak terakhir dari empat bersaudara pasangan Charles Louis Fredy, perwira militer dan politisi berpengaruh dalam lembar sejarah Perancis. Ibu Coubertin, Marie-Marcelle Gigault de Crisenoy adalah putri seorang Marquess yang terhormat. Coubertin menikmati masa kecilnya yang memesona. Ia memiliki minat besar terhadap sastra, sejarah, sosiologi, dan pendidikan. Di waktu luang, ia terbiasa mendayung di danau sekitar rumahnya, bermain tenis, dan bersepeda.
Keluarga Coubertin memiliki kebiasaan berlibur ke empat rumah milik keluarganya saat pergantian musim. Pada musim semi, keluarga Coubertin akan menghabiskan waktu di sebuah vila di koloni seniman Étretat di Selat Inggris; musim panas dilewati di Château de Mirville, 20 mil ke pedalaman Normanda, yang merupakan bagian dari mahar ibunya. Lalu pada musim gugur, mereka melakukan perjalanan ke selatan, ke rumah milik pihak ayah Château de Coubertin, di lembah Saint-Remy Chevreuse- tidak jauh dari Istana Versailles – sebelum kembali ke townhouse lima lantai mereka di rue Oudinot. Sebuah distrik yang dipenuhi dengan arsitektur menakjubkan dan sejarah yang menggugah. Kubah emas Invalides dan Champs de Mars, tempat Menara Eiffel berdiri, yang berjarak hanya beberapa blok jauhnya.
Pada tahun ketujuh kehidupan Coubertin, perang Perancis-Prusia (Jerman) menghancurkan masa kecilnya yang indah. Bocah itu mengalami trauma ketika pasukan penyerang memasuki Château de Mirville. Mereka meledakkan jembatan kereta api terdekat yang menghubungkan Le Havre ke Paris. Perang tersebut meruntuhkan Kekaisaran Kedua dan memunculkan Republik Ketiga, menumpas kaum revolusioner, membakar Istana Tuileries, Istana Kehakiman, Hotel de Ville dan banyak rumah bangsawan. Sebanyak 20.000 nyawa hilang dalam “Pekan Berdarah” itu. Pada saat keluarga Coubertin kembali ke ibu kota, Paris telah dipenuhi dengan reruntuhan yang membara. Rumah keluarga itu, di rue Oudinot tak terselamatkan, namun perang dan teror meninggalkan bekas luka pada jiwa anak laki-laki tersebut. Seperti yang diingat Coubertin dalam Memoirs of Youth, dia masuk ke kamarnya dan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam dua tahun berikutnya untuk menciptakan negara dan ibu kota khayalan– sebuah dunia fantasi tempat dia memulihkan kedamaian dan memimpikan dunia yang lebih baik yang akan datang.
Di Saint-Ignace, sebuah sekolah Jesuit baru, Coubertin terbukti menjadi siswa yang cerdas, yang terpesona dengan dunia klasik Yunani dan Romawi kuno. Pada tahun 1874, ketika dia berusia 11 tahun, Jerman memulai proyek penggalian Olympia kuno selama enam tahun. Dari dalam tanah muncul 40 monumen, 130 patung atau relief, 6.000 koin, 13.000 nazar perunggu yang digunakan sebagai pengorbanan kepada dewa mitologi, dan 400 prasasti. Penemuan ini membuat Eropa tergila-gila pada dunia klasik – dan menanamkan benih harapan dalam imajinasi seorang laki-laki tentang ritual olahraga kuno.
“Tidak ada sesuatu pun dalam sejarah kuno yang memberiku lebih banyak bahan untuk dipikirkan selain Olympia.”
Coubertin muda mengembangkan “Hasrat liarnya untuk Perancis”. Sebuah patriotism yang berapi-api, selaras dengan semangat Republik Ketiga— Hak Asasi Manusia, kebebasan, kesetaraan, persaudaraan. Seperti kebanyakan bangsawan muda, Coubertin melihat masa depan – demokratis dan egaliter – dan dia mendukung pemerintah Perancis yang masih baru untuk menjadi bagian darinya. Mengasampingkan rencana keluarganya untuk berkarier di gereja, militer, atau hukum, dia malah menemukan panggilan diri dalam upaya mereformasi pendidikan Perancis.
Coubertin melakukan tur Eropa dan Amerika Serikat pada usia 20 tahun untuk mempelajari metode pendidikan. Perjalanannya dimulai pada pada 1883, untuk pertama kalinya Coubertin mengunjungi Inggris. Di sana ia bertemu dengan Dr Arnold, kepala sekolah rugby. Coubertin kemudian terpikat ide Arnold untuk mengintegrasikan pelajaran olahraga di sekolah.
Pada 1889, ia ambil bagian dalam tur ke Kanada dan Amerika Serikat dengan misi resmi dari Kementerian Pengajaran Umum Perancis untuk menemukan metode pendidikan yang digunakan di sekolah-sekolah di negara tersebut. Selama empat bulan, ia mengunjungi 24 perguruan tinggi, serta mengumpulkan data dan membuktikan bahwa visi olahraga Arnold sudah berkembang secara internasional.
Selama turnya, Coubertin memperkuat ikatan persahabatan penting dengan William Milligan Sloane, seorang professor filsafat sejarah di Universitas Princeton dan kepala komite atletik. Sloane akan menjadi salah satu sekutu Olimpiade terkuat Coubertin di tahun-tahun mendatang dan membantu menarik Presiden AS masa depan, Teddy Roosevelt dan tiga direktur universitas paling berpengaruh dalam pendidikan Amerika: Charles William Eliot dari Harvard, Daniel Coit Gilman dari Jhons ke dalam orbit Olimpiadenya. Serta Hopkins dan Andrew Dickson Whte dari Cornell.
Pada 1890 Coubertin kembali ke Inggris dan berkenalan dengan William Penny Brookes, penemu Much Wenlock, sebuah festival olahraga yang diadakan di pedesaan Inggris dan telah berlangsung selama hampir 40 tahun. Ia juga menyaksikan bagaimana ambisi orang lain dalam menghidupkan kembali Olimpiade kuno itu tumbuh.
Coubertin setuju dengan ide Brookes, yakni olahraga harus menjadi bagian dari pendidikan alih-alih kegiatan rekreasi belaka. Dia mengagumi sistem sekolah Inggris dan mencoba membuat Perancis mengadopsi struktur serupa. Pada saat itulah ia menyusun gagasan untuk menghidupkan kembali Olimpiade, yang sudah hampir 1.500 tahun tidak diadakan.
Pada bulan Juni 1894 Coubertin mempresentasikan idenya dan mendorong para pejabat yang hadir di konferensi atletik internasional untuk mengadakan kembali Olimpiade sebagai cara untuk membantu meredakan ketegangan dunia. Para delegasi, yang kemudian disebut Kongres Olimpiade Pertama, dengan suara bulat mendukung ide Coubertin untuk membangkitkan kembali Olimpiade.
Kerja-kerja konsolidasi berjalan begitu cepat. Kongres kemudian membentuk badan penyelenggaraan Olimpiade. Badan ini kemudian dikenal sebagai Komite Olimpiade Internasional/International Olympic Committee (IOC). Kerja-kerja IOC menyusun daftar permainan yang akan dilombakan, termasuk menetapkan Olimpiade modern pertama pada tahun 1896, dan memilih Athena sebagai tuan rumah. Demetrius Vikelas dari Yunani terpilih sebagai presiden IOC pertama, dan Coubertin menjabat sebagai sekretaris jenderal.
Coubertin melihat visinya benar-benar terwujud pada April 1896 ketika ratusan atlet dari 14 negara berpartisipasi dalam Olimpiade modern pertama. Pada tahun yang sama ia mengambil alih jabatan presiden IOC, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1925. Banyak sejarawan meragukan bahwa Olimpiade akan terus berlanjut— terlebih saat itu Yunani sedang dilanda krisis— sebagai acara rutin tanpa antusiasme dan diplomasinya selama tahun-tahun awal.
Meski sukses secara profesional, Coubertin menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan pribadinya. Putranya menderita cacat mental akibat stroke yang dideritanya saat masih bayi, dan putrinya menderita gangguan emosional. Dia juga mempunyai masalah keuangan menjelang akhir hidupnya akibat perang, depresi ekonomi, dan biaya dari berbagai proyeknya. Bahkan, dia menjalani kehidupan di sebuah rumah kos yang tak dikenal di Jenewa dalam kondisi hampir tidak punya uang
Coubertin meninggal karena serangan jantung saat berjalan di sebuah taman, La Grange Park di Jenewa, Swiss, pada 2 September 1937. Ia dimakamkan di Swiss, namun sesuai dengan wasiatnya, tubuhnya dibedah lalu jantungnya dikirim ke Yunani untuk dimasukkan ke dalam monumen marmer di Olympia.
Meskipun Coubertin tidak banyak dikenal di luar pertandingan Olimpiade saat ini, jelas ia merupakan seorang jenius dalam bidang olahraga. Pengorbanannya berat, tapi warisannya luar biasa. Langkah terakhir dari Pierre de Coubertin belum dapat diwujudkan – karena mimpinya untuk menyatukan dunia dalam persahabatan dan perdamaian melalui olahraga masih terus berkembang hingga saat ini.
===
Tulisan ini sebagian besar bersumber dari catatan George Hirthler berjudul Celebrating Pierre de Coubertin: the French genius of sport who founded the modern Olympic Games
Editor: Muhammad Zunus


