Meski tidak mengenal secara langsung, pengidap erotomania merasa seseorang sangat mencintai dirinya. Biasanya mereka terobsesi pada selebritas atau tokoh terkenal.
Aksi Robert Hoskins ini memang nekat. Dia memanjat tembok rumah Madonna, penyanyi terkenal di dekade 1980-an. Ia yakin bahwa penyanyi “Like a Virgin” itu diciptakan untuk menjadi pendamping hidupnya. Aksi panjat tembok pada 1995 itu tak lain adalah upayanya untuk mengajaknya menikah dan hidup bahagia bersama. Bukan pernikahan yang terjadi. Hoskins kemudian diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman di balik tembok penjara selama 10 tahun.
Perasaan serupa pun dialami Mark David Chapman. Penduduk New York ini menganggap pentolan The Beatles, John Lennon adalah orang yang ditakdirkan hidup bersamanya. Menurut dia, lagu-lagu yang diciptakan Lennon tak lain merupakan cara berkomunikasi dengannya.
“Halu”, istilah anak sekarang, mungkin pas untuk menyebut kelakuan dua orang itu. Memang keduanya terperangkap sebuah halusinasi berat yang menganggap orang lain, bahkan yang tidak pernah ditemui di dunia nyata, teramat mencintainya.
Dalam psikologi, keadaan ini disebut dengan istilah erotomania atau keyakinan seseorang terhadap adanya pihak lain yang mencintai atau terobsesi dengan diri sendiri. Menurut Healthline, erotomania merupakan gangguan kesehatan mental langka. Pengidapnya merasa ada orang kaya raya, berstatus tinggi, atau selebriti yang sangat menyukainya.
Kelainan ini juga dikenal dengan sindrom De Clérambault. Nama itu diambil dari nama psikiater Prancis Gaëtan Gatian de Clérambault, yang mempelajari dan mendokumentasikan kondisi erotomania secara ekstensif.
Pada 1921 dari telaahnya itu, dia pun menyatakan erotomania sebagai sebuah kelainan. Erotomania dianggap termasuk delusi atau gangguan mental yang menyebabkan penderitanya tidak dapat membedakan antara kenyataan dengan khayalan.
Penelitian yang terjadi pada masa lalu toh tak membuat pengidapnya menghilang. Walaupun jumlah data pengidap kondisi ini masih sedikit, beberapa penelitian mengungkap, gangguan erotomania lebih sering dialami oleh perempuan ketimbang laki-laki.
“Sulit untuk memperkirakan seberapa sering hal ini terjadi. Namun penelitian menunjukkan bahwa gangguan delusi, secara umum, menyerang sekitar 15 dari setiap 100.000 orang per tahun, dan wanita tiga kali lebih mungkin terdiagnosis dibandingkan pria,” kata Gary Tucker, dari D'amore Mental Health, California, Amerika Serikat.
Waspadai Gejalanya
Erotomania berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Apabila gejalanya hanya dialami dalam waktu singkat, mungkin orang tersebut hanya mengalami gangguan psikotik. Gangguan psikotik merupakan gejala umum kesehatan mental yang juga melibatkan delusi. Biasanya gejala ini dialami oleh pengidap skizofrenia, skizoafektif, dan bipolar.
Gejala erotomania jelas berbeda. Delusi yang berlangsung selama sebulan atau lebih, tidak ada bukti yang menunjukkan pengidapnya menderita skizofrenia, tidak ada gangguan nyata pada fungsi sehari-hari atau gangguan yang aneh dan ganjil, serta delusi utamanya adalah mengenai orang lain yang jatuh cinta pada diri sendiri.
Pengidap erotomania mungkin sering atau secara terus-menerus membicarakan orang yang ada dalam pikirannya. Mereka juga berusaha untuk bertemu dengan objek bayangannya agar bisa bersama.
Adapun gejala umum penderita erotomania di antaranya:
- Jika objek bayangannya adalah selebriti atau figur publik, pengidap erotomania biasanya akan menggunakan media secara obsesif.
- Terus-menerus menelepon, mengirim pesan, hadiah, dan sebagainya kepada orang yang dianggap menginginkannya.
- Yakin bahwa seseorang sedang mencoba berkomunikasi secara diam-diam melalui gerak-gerik mata atau pandangan, bahasa tubuh, pesan berkode dalam berita, acara televisi, film, atau media sosial.
- Menciptakan situasi yang rumit namun kenyataannya tidak benar. Misalnya ada orang lain mengejarnya, menguntitnya, atau mencoba menghubunginya.
- Cemburu karena objek bayangannya mungkin berhubungan dengan “kekasih” lain atau bertindak tidak setia.
- Melecehkan orang lain di depan umum. Dalam kasus ini, terkadang pengidap erotomania sampai ditegur atau ditangkap oleh penegak hukum.
- Kehilangan minat pada aktivitas selain membicarakan objek bayangannya atau melakukan aktivitas yang berhubungan dengan orang tersebut.
Bisakah Penderitanya Sembuh?
Sebelum memberikan diagnosis, dokter atau terapis mungkin akan memandu penderita melalui konseling atau psikoterapi untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Apabila erotomania disebabkan oleh kondisi-kondisi tertentu, gangguan bipolar misalnya, maka dapat dilakukan perawatan dengan penstabil suasana hati, seperti lithium (Lithonia) atau asam valproat (Depakene).
Terapi, terutama terapi perilaku atau cognitive-behavioral therapy (CBT) merupakan jenis psikoterapi yang bisa menjadi perawatan tambahan untuk membantu menyembuhkan erotomania. Terapi ini berfokus pada tindakan mengidentifikasi dan mengubah cara berpikir penderita yang berkaitan dengan keyakinan delusi.
Pengobatan untuk pengidap erotomania mungkin cukup sulit karena delusi penderitanya. Perawatan biasanya dilakukan untuk mengatasi gejala psikosis delusi yang dialami. Seringkali tindakan ini melibatkan kombinasi terapi dan konsumsi obat-obatan, terutama obat antipsikotik – yang mampu membantu mengatasi delusi dan mencegahnya menjadi lebih buruk.
"Biasanya, kombinasi psikoterapi dan pengobatan diperlukan untuk meringankan gejala delusi erotomanik," ucap Tucker.
Obat antipsikotik klasik (atau tipikal), seperti pimozide dinilai efektif untuk pengidap erotomania. Sementara obat yang digunakan secara bersamaan dengan waktu terapi adalah antipsikotik nontradisional (atau tipikal), seperti olanzapine, risperidone, dan clozapine.
Konsumsi obat antipsikotik berfungsi mengurangi pemikiran delusi dalam beberapa jam atau hari. Obat tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai efek penuhnya, yakni selama empat hingga enam minggu. Sementara CBT berguna membantu mengatasi penyebab dasar erotomania dengan memanfaatkan restrukturisasi kognitif dan terapi aversi.
Walaupun perawatan ini bisa dilakukan, sejatinya belum ada obat pasti yang dapat menyembuhkan gangguan erotomania. Perawatan sindrom ini hanya berfokus pada pengelolaan gejala dan peningkatan kualitas hidup penderitanya.
Editor:


