Dark
Light
Dark
Light

2 Penyakit Hati Perusak Ibadah dan Cara Mengobatinya

2 Penyakit Hati Perusak Ibadah dan Cara Mengobatinya

Tugas utama manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Dalam menjalankan ibadah, kita, manusia, harus berhati-hati dalam menata hati dan niat mengawali sebuah ibadah. Jangan sampai ibadah yang dilakukan terusak oleh berbagai macam penyakit yang bersemayam dalam hati kita. 

Dalam Kitab Minhaj al-Abidin, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali atau yang populer dengan nama Imam Al-Ghazali menyebut bahwa ada dua penyakit hati yang menjadi faktor utama perusak ibadah.

1. Riya' (pamer kepada orang lain)

Imam Ghazali menjelaskan bahwa kata riya' berasal dari akar kata ru' dan yah, artinya "melihat”. Arti ini selaras dengan tujuan orang riya’ karena pelakunya merasakan keinginan agar orang lain melihat amal ibadahnya. 

Setiap individu harus senantiasa menjaga keikhlasan dari ibadah dan menjauhkan diri riya’ yang merupakan lawan dari ikhlas. Hal ini karena amal perbuatan yang diterima di sisi Allah hanyalah dengan ikhlas. Jika mampu menjaga keikhlasan, maka pahala baginya. Namun jika tidak dilakukan dengan ikhlas, maka amal itu akan tertolak, dan karenanya ia tak mendapatkan pahala.

Riya' juga menyebabkan musibah besar bagi pelakunya yakni terlepasnya surga dari dirinya. Hal ini karena orang yang riya’ khususnya dalam beribadah masuk golongan orang-orang munafik yang memperlihatkan iman dan tauhidnya, namun hatinya berdusta. Riya’ ini akan secara perlahan mencabut keimanan seseorang dari dalam hatinya dan menghantarkannya ke dalam neraka.

Rasulullah bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah ra yang menggambarkan bagaimana orang-orang dihisab oleh Allah swt. Dalam hadits tersebut digambarkan tiga orang yang pertama akan dihisab oleh Allah yakni para qari' (pembaca Al-Qur'an), orang yang telah berperang dan mati syahid di jalan Allah, dan orang yang memiliki banyak harta (kaya raya). Dikarenakan terdapat sifat riya, ingin dipuji orang lain dan ingin merasa paling hebat, maka mereka itulah makhluk Allah yang pertama kali merasakan panasnya api neraka. Naudzubillah.

Hadits dari  Abdullah bin Abbas ra. menyebutkan:"Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya api neraka dan penghuninya itu menjerit-jerit disebabkan orang yang riya'. " Kemudian beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana cara api neraka itu menjerit?" Beliau menjawab, "Mereka menjerit akibat panasnya api neraka yang digunakan untuk menyiksa orang yang riya' itu."

2. 'Ujub (membanggakan diri)

Penyakit kedua yang bisa merusak ibadah adalah 'ujub atau membanggakan diri. Larangan 'ujub didasarkan atas dua hal yakni pertama, rasa ‘ujub menghalangi seseorang dari taufiq dari Allah. Orang yang membanggakan diri akan terhinakan, karena dengan terputusnya seorang hamba dari bantuan dan taufiq Allah. ia pun akan cepat binasa. Rasulullah bersabda: “Tiga perkara yang membinasakan, yaitu sifat kikir yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri."

Kedua, rasa 'ujub merusak amal saleh dan mencabut nilai ibadah seorang hamba yang menjadi tujuan hidup. Ini tentu membuat seseorang tak mendapat kebaikan apapun dari ibadahnya. Maka, seseorang harus khawatir dan waspada terpapar sifat ini. 

'Ujub adalah memandang hebat amal saleh yang dilakukan. Ia menunjukkan kehebatan amalnya kepada manusia lain, pada nafsunya, atau pada lainnya, selain Allah. Lawan dari sikap 'ujub ialah mengingat anugerah Allah. Yaitu, mengingat bahwa semua urusan kita bisa terlaksana berkat taufiq (bimbingan) dari Allah. Hanya Allah lah yang memuliakan dan memperbanyak pahala dan nilai amal kita. Maka, mengingat anugerah Allah ini menjadi wajib hukumnya manakala muncul ajakan-ajakan untuk berbuat 'ujub. 

Orang yang 'ujub pada hakikatnya sedang menunggu proses batalnya amal. Jika ia bertobat sebelum meninggal dunia, maka ia akan selamat. Suatu amal baik akan menjadi sia-sia dan hilang percuma akibat rasa 'ujub. Dengan ujub, seseorang tidak berhak memperoleh pahala dan pujian atas amal itu.

Mengobati Riya'

Ada 4 prinsip yang bisa digunakan untuk mengobati penyakit riya'. Pertama, mempelajari dan menaati perintah yang tercantum dalam Al-Qur'an yakni: “Allahlah yang telah menciptakan tuiuh langit dan seperti îtu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui, bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya, benar-benar meliputi segalanya" (Ath-ThaIaaq: 12)

Dengan memperhatikan ayat ini maka kita akan menyadari kelemahan kita, bahwa Allahlah yang paling kuasa atas segalanya. Tidak ada yang perlu dipamerkan kepada orang lain karena Allah lah yang paling berhak menilai semua amal ibadah kita.

Kedua mengingat kerugian yang diakibatkan oleh riya’. Hal ini diibaratkan, ada seseorang yang memiliki permata berharga, yang sebenarnya bisa dijual dengan harga beribu-ribu dinar, namun ia melepaskannya dengan harga hanya satu sen. Bukankah itu kerugian besar baginya? Orang-orang pun pasti akan menganggapnya sebagai orang yang sangat bodoh. Ini juga mencerminkan buruknya selera, sempitnya ilmu, piciknya pikiran, dan kelemahan hamba tersebut.

Ketiga, menghindari beramal atau berbuat sesuatu demi orang lain.  Beramallah hanya demi Zat yang jika engkau beramal karena-Nya dan menuju kepada-Nya dengan usahamu, serta hanya mencari keridhaan-Nya dengan hal itu, niscaya Allah akan mencintaimu. memberimu dan memuliakanmu, sehingga membuatmu rela dan tidak butuh terhadap yang lain. 

Keempat dengan mengingat kesalahan yang akan dilakukan akibat riya’. Seperti halnya ada seseorang yang tahu rahasia bisa membuat senang seorang raja, dan membuatnya bisa dekat dengan sang raja. Tapi orang itu justeru memilih untuk sibuk menarik perhatian orang-orang biasa. Orang itu pasti akan dianggap bodoh dan tidak bijaksana. 

Diriwayatkan bahwa Hasan al-Bashri pernah berkata, "Ada seorang laki-laki yang mengatakan, 'Demi Allah, aku benar-benar akan menyembah Allah dengan ibadah yang aku akan diingat-ingat oleh manusia.’ la kemudian menjadi orang yang pertama maşuk masjid dan paling akhir keluar. Maka setiap ia dilihat oleh seseorang, ia langsung berdiri untuk mengerjakan shalat. la tidak pernah meninggalkan puasa dan mengikuti halaqah-halaqah zikir. Dan ia terus dalam keadaan demikian şampai tujuh bulan. Tapi, setiap kali ia melewati kerumunan orang, mereka justeru berkata, 'la itu orang yang riya'.' la pun kemudian mencela dirinya dan mengatakan: Aku melihat diriku tidak mendapatkan apa-apa. Mulai saat ini, aku akan benar-benar menjadikan seluruh amalku untuk Allah. Dan ia tidak melebihkan amalnya sedikit pun dari amal yang pernah dilakukan sebelumnya. Hanya saja, ia mengubah niatnya kepada kebaikan. Dan setelah itu, ketika ia lewat di hadapan orang-orang, mereka mengatakan, 'Semoga Allah merahmatinya. Sekarang ia telah menjalani kebaikan.”

Mengobati ‘Ujub

Ada 3 hal penting perlu diperhatikan untuk menghilangkan ‘ujub. Pertama, amal perbuatan seorang hamba akan memiliki nilai hanya bila diridhai dan diterima oleh Allah. Kalau tidak, maka ia seperti melihat seorang buruh yang bekerja sepanjang hari dengan upah dua dirham saja, atau penjaga yang berjaga sepanjang malam dengan gaji yang sangat sedikit. Namun, jika mengkhususkan amal perbuatannya hanya kepada Allah, lalu ia berpuasa karena-Nya satu hari, maka puasanya pada hari itu tidak terhingga nilainya, apabila Allah meridhai amalmu itu.

Kedua, mengingat kerapuhan amal kita. Seperti saat kita menunaikan shalat dua rakaat dengan banyak cacat dan kekurangan, meski Allah telah menjanjikan balasan pahala yang sangat besar bagi kita di akhirat, dan kita lalu merasa bangga dengan shalat yang seperti itu. Tidaklah bijaksana merasa bangga dengan kondisi shalat yang seperti itu, yang sebenarnya tak ada nilainya namun kemudian menjadi beniilai hanya karena rahmat-Nya saja.

Ketiga, semua kehebatan yang dimiliki ada yang punya. Seperti seorang raja dengan hak istimewa. Seluruh menteri dan para punggawa istana berdiri di sampingnya untuk melayani seluruh keperluan raja. Para jenderal dan gubernur yang siap melaksanakan perintahnya, orang-orang bijak dan cendekiawan yang melayaninya dengan pujian-pujian. 

Namun sang raja kemudian mengizinkan seorang penjaga toko atau petani miskin masuk istananya dan berdiri sejajar dengan orang-orang besar itu dan memberi kedudukan khusus di istana. Setelah diterima menjadi orang istana cara yang tidak wajar, bila orang tersebut lantas merasa bangga, lalu lebih mengutamakan kepentingan dirinya daripada sang raja. Maka semua orang pasti akan menyangka bahwa orang itu sudah gila dan kehilangan perasaan.

Riya' dan ‘ujub merupakan sifat buruk yang paling membahayakan. Di dalam keduanya tersimpan bencana besar. Dalam sekejap saja, riya’ dan ‘ujub bisa merusak ibadah yang sudah dilakukan selama seumur hidup.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo