Hubungan anak dan orang tua tentu saja tidak sepenuhnya selalu berjalan lurus dan harmonis. Tentu tak jarang pula terjadi fluktuasi naik-turun dalam hubungan keluarga.
Munculnya ketidaksepahaman antara anak dan orang tua bukan tidak mungkin berujung kepada konflik. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini tentu saja membawa akibat buruk berkepanjangan.
Konflik anak dan orang tua dapat mengganggu komunikasi yang sehat bagi kedua pihak. Suasana rumah yang ceria dan keintiman keluarga bisa jadi akan hilang.
Oleh karenanya orang tua maupun anak perlu saling memahami cara pandang kedua pihak terhadap suatu masalah. Kemudian mencari penyelesaian yang tepat demi menjaga kondisi keluarga tetap berjalan baik.
Berikut sejumlahlah cara yang bisa diterapkan untuk mengatasi konflik antara orang tua dan anak:
Komunikasi dengan Efektif
Salah satu pemicu suasana konflik tak jarang terjadi karena komunikasi yang tidak berjalan baik dan efektif. Komunikasi antara orang tua dan anak bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama jika kedua pihak tengah dilingkupi rasa emosi.
Ingat, cara berkomunikasi yang tepat sangat diperlukan untuk menyatukan perbedaan pendapat yang mungkin terjadi. Sebaliknya, cara komunikasi yang salah justru dapat mengakibatkan situasi menjadi kian runyam.
Ketika berkomunikasi, hindari asumsi bahwa kedua pihak akan langsung memahami apa yang kita inginkan tanpa adanya penjelasan. Gunakan kesempatan komunikasi untuk menyampaikan pandangan dengan jelas. Serta alasan logis di balik pendapat yang diutarakan.
Sebisa mungkin pastikan anak memahami perspektif yang diutarakan orang tua. Lalu biarkan anak mnyampaikan apa pandangan mereka. Lakukan komunikasi dengan seksama dan tanpa menyela.
Kendalikan Emosi
Orang tua dituntut pandai mengendalikan emosi saat menghadapi anak yang cenderung melawan atau sulit diatur. Pasalnya tanggapan emosional tidak jadi penyelesaian dan justru bakal memperpanjang masalah yang ada.
Bersikap tenang serta menjalankan komunikasi dengan baik dapat menjadi kunci utama. Ciptakan suasana kondusif, sehingga kedua pihak dapat saling memahami apa yang sebenarnya dikehendaki.
Jika ternyata emosi sudah tidak terbendung. Maka cara paling baik adalah sempatkan waktu untuk menenangkan diri. Bisa juga meminta anak untuk pergi ke kamar untuk merenungi masalah.
Cari Solusi dan Konsekuensi
Setiap masalah tentu memerlukan penyelesaian dan jalan keluar. Penyelesaian konflik jelas butuh keterlibatan kedua pihak. Dapatkan solusi dengan jalan kesepakatan bersama, dan berlaku adil bagi semuanya.
Misal, jika anak menginginkan barang kurang bermanfaat dengan harga terlampau mahal. Maka tawarkan pemotongan uang saku. Atau jika anak ingin bermain hingga sore, maka tekankan bahwa malam hari harus belajar tanpa alasan capek.
Solusi masalah yang memiliki efek 2 sisi tersebut bakal melatih anak untuk belajar bertanggung jawab, serta membawa konsekuensi atas pilihan yang ia buat. Pendekatan semacam ini juga membuat anak merasa dihargai.
Belajar Memberi dan Meminta Maaf
Kadang kala tiap konflik yang muncul dalam hubungan manusia, tak terkecuali orang tua dan anak, terjadi lantaran keengganan memberi maupun meminta maaf.
Jika hendak ditelisik lebih rinci, sebagian besar konflik pasti terdapat kesalahan dari kedua belah pihak, meski bisa jadi dengan kadar yang berbeda.
Sikap saling memaafkan antara orang tua dan anak dapat menciptakan suasana keluarga yang lebih baik dan harmonis. Memaafkan dengan ikhlas dan terbuka dapat menjadi pembelajaran positif bersama, serta bisa menjadi benteng efektif untuk menghindari potensi konflik yang lain.
Hadapi Konflik dengan Positif
Selalu hadapi konflik dengan pilihan pendekatan yang positif. Selalu ingat, bahwa cara orang tua dalam menyelesaikan konflik dengan sang anak, dapat menjadi pembelajaran yang bagus bagi kehidupan si anak di masa depan.
Tetap utamakan kesabaran, komunikasi, dan sikap saling pengertian dalam memelihara hubungan baik antara orang tua dan anak.
Belajar dari Al Quran
Bagi keluarga Muslim, Kitab Suci Al Quran sejatinya juga banyak mengajarkan tentang hubungan baik antara orang tua dan anak. Menurut Al Quran, kedua pihak punya hak dan kewajiban masing-masing, demi terciptanya keluarga yang harmonis.
Berikut contoh kewajiban anak terhadap orang tua sesuai ajaran Al Quran: anak berbakti kepada orang tua (QS Luqman:14); tidak membantah dan berlaku kasar (QS Al-Isra: 23); selalu mendoakan orang tua (QS Al-Isra: 24).
Lalu berikut contoh kewajiban orang tua kepada anak sesuai ajaran Al Quran: memberikan ajaran agama yang baik (QS Luqman: 13); mendoakan kebaikan untuk anak (QS Ibrahim: 40); menafkahi dan memenuhi kebutuhan anak (QS Al-Isra: 31).
Editor:


