Menyambut Mentari Emas di Puncak Sikunir Dieng Jawa Tengah

Menyambut Mentari Emas di Puncak Sikunir Dieng Jawa Tengah

Hawa dingin menggigit kulit ketika langkah kaki mulai menapaki jalur setapak menuju Puncak Sikunir, dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Jarum jam baru menunjuk pukul 03.30 WIB. Namun Sabtu (25/10/2025) pagi dini ini, ribuan wisatawan telah meriuh sejak di terminal kecil di kaki bukit.

Gunung Sikunir masuk wilayah Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, merupakan tertinggi di Pulau Jawa. Di sinilah perjalanan menuju salah satu golden sunrise terindah di Indonesia dimulai.

Asal Muasal Nama Sikunir
Nama Sikunir konon berasal dari kata “kunir” atau “kunyit” dalam bahasa Jawa. Jika cuaca cerah, warna langit di puncak ini ketika matahari terbit memang memancarkan rona kuning keemasan yang mirip warna kunyit (Kunir) yang hangat, lembut, dan memikat.

Dari situlah masyarakat setempat menamainya “Sikunir”, yang berarti tempat dengan cahaya seindah warna kunyit. Nama ini kemudian melekat dan menjadi ikon keindahan alam Dieng yang mendunia.

Persiapan Menuju Puncak
Perjalanan menuju Puncak Sikunir dimulai dari Desa Sembungan, sekitar 8 kilometer dari pusat kawasan wisata Dieng. Akses jalan sudah cukup baik dan dapat ditempuh dengan mobil hingga ke area parkir bawah. Jika naik jasa ojek moter/grab tarifnya sekitar Rp50.000 – Rp.75.000. Sementara jasa jeep wisata sekitar Rp100.000.. Jika ingin ditunggu bisa saja, otomatis tarifnya menyesuaikan.

Setelah membeli tiket seharga Rp15.000 per orang dan parkir mobil Rp10.000 untuk armada kecil, sampailah kami di area parkir. Di sini tersedia fasilitas umum seperti mushola toiliet dan deretan warung yang menyediakan aneka kebutuhan. 

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalur pendakian menuju puncak relatif singkat, sekitar 30–45 menit, tergantung kondisi fisik dan keramaian pengunjung. Medannya berupa tangga tanah dan batu yang menanjak, namun cukup aman karena sudah dilengkapi penerangan di beberapa titik serta pagar pembatas di sisi yang curam.

Meski pendek, jalur ini menuntut stamina yang baik, apalagi di tengah udara dingin yang bisa mencapai 7°C bahkan lebih rendah.

Agar tak kehilangan momen golden sunrise, pengunjung disarankan berangkat dari penginapan sekitar jam tiga dini hari. Dengan begitu, sekitar jam empat pagi sudah tiba di pos pendakian Sikunir, dan masih ada cukup waktu untuk mendaki sebelum mentari muncul sekitar jam lima pagi.

Karena suhu di puncak bisa sangat dingin, beberapa perlengkapan wajib dibawa antara lain: Jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala (cindhung). Bawa juga jas hujan atau mantel anti air untuk antisipasi hujan mendadak. Gunakan sepatau atau sandal gunung yang nyaman, air minum dan makanan ringan, obat-obatan pribadi, terutama bagi yang punya riwayat masuk angin atau asma. Perlu juga membawa senter atau headlamp, karena pendakian dilakukan sebelum fajar.

Bagi wisatawan tak ingin repot membawa perlengkapan, jangan khawatir. Di sekitar area parkir tersedia banyak warung yang buka sejak dini hari. Warung-warung ini menyediakan aneka minuman seperti teh, jahe panas, purwaceng, kopi Dieng yang khas, juga camilan hangat tempe kemul, kentang goreng dan mie rebus.

Pesona Sikunir, Menyaksi Fajar di Negeri Dewa
Di antara kabut tipis, napas kami terengah namun tetap semangat. Setelah 40 menit mendaki dengan dua kali istirahat untuk minum dan mengkondisikan lutut, tibalah kami di Puncak Sikunir, yang berada di ketinggian sekitar 2.263 meter di atas permukaan laut. Puncak ini menjadi magnet bagi para pencinta alam khususnya wisatawan pemburu sunrise. 

Ratusan pasang mata yang telah menunggu pun berbinar ketika sang bagaskara perlahan muncul dari balik punggung Gunung Sindoro. Sinarnya memantul di permukaan kabut dan awan putih yang menghampar seperti lautan. Fenomena ini sering disebut sebagai “lautan awan”, pemandangan langka yang membuat siapa pun tertegun. 

Siapkan kamera ponsel untuk mengabadikan semua keindahan alam ciptaan Tuhan. Dari ketinggian ini terlihat jelas, cakrawala seolah terbelah oleh cahaya keemasan mentari pagi. Pun, siluet gagah Gunung Sindoro, Sumbing bahkan Merapi dan Merbabu tampak berdiri megah di kejauhan, seperti deretan raksasa yang perkasa. Sikunir benar-benar menghadirkan perpaduan keindahan yang utuh: langit, gunung, awan, dan kehidupan pedesaan yang damai.

Jika telah puas menyaksikan mentari emas di Puncak Sikunir dan berswa foto, segeralah turun karena antrian wisatawan masih banyak sehingga bisa bergantian. Saat matahari mulai meninggi dan kabut berangsur hilang, pengunjung bisa turun perlahan sembari menikmati pemandangan lembah Sembungan yang menakjubkan. Ladang-ladang kentang yang bertingkat, Telaga Cebong yang berkilau diterpa cahaya pagi, serta rumah-rumah kecil dengan atap berasap menambah indahnya nuaansa khas pegunungan.

Menjelajahi Pesona Dieng Tiada Habisnya
Usai menikmati keindahan sunrise, kami tak ingin buru-buru pulang. Kawasan Dieng menawarkan banyak destinasi menarik untuk dijelajahi. Di kaki Sikunir, terdapat Telaga Cebong, danau alami yang indah dengan air jernih berkilau saat pagi hari. Beberapa wisatawan memilih berfoto atau sekadar duduk di tepi telaga menikmati ketenangan air yang dilingkupi kabut tipis.

Dari Sembungan, perjalanan kami lanjutkan ke kawasan utama Dataran Tinggi Dieng, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Sekitar 15 menit berkendara, di sana terdapat Kompleks Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Telaga Warna, serta Museum Kailasa.

Bagi wisatawan yang punya waktu luang bisa berkunjung ke Batu Pandang Ratapan Angin, spot terkenal yang menawarkan panorama dua telaga dari ketinggian. Jika ingin berendam air hangat, wisatawan dapat singgah di Pemandian Air Panas Bitingan atau menikmati kuliner khas seperti carica, mie ongklok, dan tempe kemul di sekitar Pasar Dieng. 

Jika ada waktu luang, badan sehat, persiapan mantap, ajaklah keluarga dan handai taulan bertadabur alam di dataran tinggi Dieng yang dijuluki ‘Negeri para Dewa’. Insyaallah puas dan tak kecewa.


Editor:
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo