Dark
Light
Dark
Light

Mustika Septi Handini, Al-Ḥafiẓah Penyemai Moderasi dan Keteladanan di Lereng Wonosobo

Mustika Septi Handini, Al-Ḥafiẓah Penyemai Moderasi dan Keteladanan di Lereng Wonosobo

Dari dataran tinggi Wonosobo, Jawa Tengah yang berhawa dingin dan menenangkan, seorang perempuan muda menapaki jalan panjang dakwah dengan kesungguhan hati. Namanya Mustika Septi Handini, S.Sy., M.Ag., seorang penyuluh agama Islam, pendidik, sekaligus penghafal Al-Qur’an (al-ḥāfiẓah) yang lembut tutur katanya namun kuat semangat juangnya. Dalam diam dan kesederhanaannya, ia menjadi salah satu wajah Islam moderat yang meneduhkan, mengakar di masyarakat, namun tetap terbuka terhadap zaman.

Bagi Mustika, dakwah bukan sekadar menyampaikan nasihat, tetapi menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku, dalam senyum, dalam cara mendengar. 

"Saya ingin dakwah itu terasa ringan dan menenangkan. Orang tidak perlu takut pada agama, tapi justru merasa dirangkul olehnya,” ujarnya suatu sore di sela kegiatan penyuluhan di Kecamatan Wonosobo.

Akar Religius dari Rojoimo
Lahir pada 25 September 1991 di Desa Rojoimo, Wonosobo, Mustika tumbuh dalam keluarga sederhana yang sangat mencintai ilmu dan agama. Ayahnya, Muslich, dikenal pengusaha yang jujur dan pekerja keras, sementara ibunya, Suripti, adalah sosok ibu teladan yang penuh kasih.

Sejak kecil, Mustika telah terbiasa dengan irama kehidupan religius. Suara adzan dari langgar kecil di kampungnya, lantunan tadarus menjelang maghrib, dan aroma tanah basah setelah hujan seolah menjadi bagian dari masa kecil yang membentuk kesadaran spiritualnya.

Kecintaannya pada Al-Qur’an muncul sejak dini. Ia belajar membaca Al-Qur’an di Madrasah Diniyah Al-Huda Rojoimo, dan melanjutkan pendidikan di SMP dan SMA Takhassus Al-Qur’an Wonosobo, tempat ia menamatkan hafalan 30 juz. Dari sinilah gelar al-ḥāfiẓah melekat padanya—bukan semata karena hafalannya, tetapi karena ia berusaha menjiwai makna setiap ayat dalam kehidupan.

Mustika melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) dan meraih gelar Sarjana Syariah (S.Sy.), lalu menuntaskan studi Magister (M.Ag.) pada tahun 2025.

Bagi Mustika, belajar adalah ibadah yang tidak pernah selesai. “Ilmu itu cahaya. Siapa yang berhenti belajar, akan pelan-pelan padam,” katanya pelan.

Selain pendidikan formal, ia juga menimba ilmu di pesantren: Al-Asy’ariyyah dan Baitul Abidin Darusalam Kalibeber Wonosobo, dua lembaga yang menanamkan pada dirinya semangat perjuangan dan cinta pada ulama.

Terinspirasi Ulama Perjuangan
Dalam perjalanan hidupnya, Mustika sangat mengidolakan tiga tokoh besar: KH Muntaha Al-Hafidz (Mbah Muntaha), KH As’ad, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ketiganya menjadi kompas spiritual yang menuntun arah dakwahnya.

Dari Mbah Muntaha, pengasuh Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber yang juga ulama besar hafidz Qur’an dan KH As’ad, pengasuh Pesantren Baitul Abidin Darussalam, Mustika belajar arti keteguhan dan keikhlasan dalam perjuangan.

Ia masih ingat betul pesan yang sering diulang-ulang oleh Mbah Muntaha kepada santrinya: “Awak dinggo berjuang rusak, ora dinggo berjuang yo rusak. Luwih becik dinggo berjuang.” (Tubuh ini kalau dipakai berjuang akan rusak, kalau tidak dipakai berjuang juga akan rusak. Maka lebih baik digunakan untuk berjuang.)

Kalimat itu menjadi semboyan hidupnya. Ia mengaku, setiap kali merasa lelah atau menghadapi kesulitan di lapangan, ia selalu teringat pesan tersebut. “Saya selalu menanamkan itu di hati. Badan ini memang lelah, tapi kalau lelahnya karena berjuang untuk kebaikan, justru itulah jalan menuju ridha Allah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara dari Gus Dur, ia belajar tentang kemanusiaan dan kebebasan berpikir. Bagi Mustika, Gus Dur adalah sosok ulama yang melihat agama sebagai sumber kasih, bukan batasan. “Gus Dur mengajarkan bahwa yang lebih penting dari menjadi benar adalah menjadi baik. Itu pesan yang sangat dalam,” katanya.

Ketiga figur itu—Mbah Muntaha, Kiai As’ad, dan Gus Dur—membentuk cara berpikir dan bertindak Mustika dalam berdakwah: lembut tapi tegas, rasional tapi penuh cinta, berilmu tapi tetap tawadhu.

Mengabdi Lewat Dakwah
Perjalanan pengabdian Mustika dimulai ketika ia menjadi pengajar di Madrasah Diniyah Bidayatul Hidayah pada tahun 2014. Di madrasah kecil di Desa Mirombo itu, ia mengajar anak-anak mengaji dan menanamkan nilai moral Islam. Ia menikmati setiap detik interaksi dengan santri kecilnya. 

“Anak-anak itu jujur. Dari mereka saya belajar bagaimana ketulusan itu bekerja,” ujarnya tersenyum.

Sejak 2017, ia diangkat menjadi Penyuluh Agama Islam Non-PNS, dan pada tahun 2023 resmi menjadi Penyuluh Agama Islam dengan status PPPK di Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo. Dalam menjalani tugasnya, ia tak pernah memilih-milih tempat. Ia datang ke sekolah, kantor, hingga desa-desa terpencil, mengisi kegiatan keagamaan dan pembinaan sosial.

Salah satu kegiatan yang ia sukai adalah Keputrian di SMA Negeri 1 Wonosobo, ajang ia dapat berdialog dengan para siswi tentang peran perempuan, akhlak, dan cita-cita. “Saya ingin perempuan Muslimah punya semangat, punya suara, dan berani berpikir. Agama tidak membungkam perempuan, justru memuliakannya,” katanya penuh semangat.

Selain itu, ia juga aktif mengisi pelatihan keluarga sakinah, pelatihan penyelia halal, FGD sertifikasi halal bagi UMKM, dan berbagai kegiatan penyuluhan masyarakat. Ia dikenal bukan hanya sebagai penceramah, tetapi juga sebagai pendamping yang sabar dan komunikatif.

Moderasi, Perempuan, dan Toleransi
Sebagai anggota aktif BADKO, MUI, ICMI, DMI Kecamatan Wonosobo, serta Rumah Moderasi Beragama FK PAI, Mustika berperan dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya moderasi beragama. Ia menolak dakwah yang keras dan eksklusif, sebaliknya mengedepankan pendekatan yang persuasif dan edukatif.

“Islam hadir untuk menenangkan, bukan menakut-nakuti. Tugas penyuluh adalah menjaga agar pesan itu tidak hilang di tengah kebisingan zaman,” ujarnya.

Sebagai seorang perempuan, ia sering berbicara tentang pentingnya kehadiran suara perempuan dalam ruang dakwah dan sosial. Ia percaya, perempuan bukan pelengkap, tapi penentu arah peradaban. Melalui kegiatan majelis taklim dan forum keputrian, ia mengajak para ibu dan remaja putri untuk berani belajar, berpikir, dan berkontribusi.

Penghargaan dan Karya
Ketulusan Mustika dalam mengabdi berbuah prestasi. Ia pernah dinobatkan sebagai Penyuluh Teladan Kabupaten Wonosobo (2019) dan Juara II Penyuluh Teladan se-Kanwil Jawa Tengah (2021).

Namun, baginya, penghargaan hanyalah bonus dari kerja yang penuh cinta. “Yang penting bukan pujian, tapi keberkahan dari setiap langkah kecil yang kita lakukan,” katanya dengan kerendahan hati.

Selain berdakwah lisan, Mustika juga aktif menulis. Ia menulis buku Child Abuse dan Solusinya (Perspektif Pendidikan Islam), Modul Penyuluhan Majelis Taklim, dan artikel ilmiah seperti Analisis UU Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Perspektif Sadd adz-Dzari‘ah. Tulisan-tulisannya banyak digunakan sebagai bahan referensi oleh rekan penyuluh di Jawa Tengah.

Ibu Dua Anak, Pejuang Dua Dunia
Di balik aktivitas publiknya yang padat, Mustika tetap menjalankan peran pentingnya sebagai ibu dari dua anak yang menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaannya. Ia menyeimbangkan antara panggilan dakwah dan tanggung jawab rumah tangga.

“Anak-anak adalah motivasi saya. Saya ingin mereka tumbuh mencintai ilmu dan menghormati manusia apa pun perbedaannya,” tuturnya lembut.

Baginya, rumah tangga adalah madrasah pertama, tempat di mana nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, dan disiplin ditanamkan sejak dini. Suaminya yang seorang Dosen UNSIQ juga menjadi mitranya dalam dakwah, mendukung penuh setiap langkah pengabdiannya.

Al-Qur’an sebagai Kompas Hidup
Sebagai al-ḥāfiẓah, Mustika menjadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi panduan hidup. Dalam setiap ceramahnya, ia sering membuka dengan ayat-ayat yang dikaitkan dengan konteks sosial kekinian. Jamaah menyukai gaya dakwahnya yang tenang, logis, dan menyentuh hati.

“Ketika ayat turun di hati, maka lidah hanya menjadi perantara,” katanya suatu kali.

Al-Qur’an baginya adalah cermin: menuntun, menegur, sekaligus meneduhkan. Dan dalam setiap langkahnya, pesan Mbah Muntaha terus bergema—bahwa tubuh ini, dengan segala kelemahannya, tetap layak digunakan untuk berjuang di jalan kebaikan. Pesan itu menjadi napas dalam setiap langkah Mustika Septi Handini: berjuang dengan ilmu, dengan cinta, dan dengan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun.

Dari bumi Wonosobo yang sejuk, Mustika terus menebar kedamaian—di ruang keluarga, di madrasah, di forum ilmiah, dan di hati masyarakat yang ia layani. Ia adalah contoh nyata bahwa dakwah yang tulus akan selalu menemukan jalannya, karena yang berangkat dari hati pasti akan sampai ke hati.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo