Jakarta, Arina.id—Tangis haru pecah dari Wanda Hamidah saat dirinya terpilih menjadi satu-satunya perempuan Indonesia yang berangkat ke Gaza bersama Global Sumud Flotilla (GSF). Aktris sekaligus aktivis ini bahkan menjadi satu-satunya perempuan di kapal yang ia tumpangi.
"Alhamdulillah, Indonesia punya wakil dalam perjalanan kemanusiaan ke Gaza," ujar Wanda, Rabu (17/9/2025).
Dalam unggahan video di Instagram pribadinya, Wanda menceritakan sulitnya perjuangan aktivis dari seluruh dunia untuk bisa berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini. Sehari sebelum berlayar, ia sempat mengabarkan situasi di Tunisia, tempat para relawan berkumpul.
"Hampir semuanya sudah kembali pulang ke negara masing-masing. Pertanyaannya, kenapa mereka kembali pulang? Karena kendala yang ada di sini berat banget, susah banget memang untuk bertahan. Jadi saya harap teman-teman bisa husnudzon, berprasangka baik," ungkap Wanda.
Setelah tiga pekan menanti jawaban, Wanda akhirnya mendapat kursi untuk berlayar bersama relawan dari Turki dan Tunisia menembus blokade Gaza. Keberangkatannya dianggap sebagai bukti kegigihan, sebab Indonesia nyaris tak memiliki perwakilan yang bisa ikut berlayar.
Wanda memang dikenal konsisten mendukung perjuangan Palestina. Ia kerap hadir dalam aksi solidaritas dan menilai bahwa kecaman verbal saja tidak cukup.
"Saya berkali-kali ikut long march aksi Palestina, saya melakukan aksi nyata hadir secara fisik jadi enggak cuma omon-omon saja," ujarnya dalam podcast Wanda Hamidah Bicara Palestina Tanpa Filter yang dikutip Arina.id, Kamis (18/9/2025).
"Diam hanya mendukung kezaliman itu terus terjadi. Saat ini, diam enggak lagi cukup. Berbicara pun tidak lagi cukup, jadi perlu aksi," tegas Wanda.
Sebelumnya, terdapat 33 relawan Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), lembaga perwakilan Indonesia di GSF. Mereka semula dijadwalkan ikut berlayar ke Gaza. Namun, berbagai kendala, termasuk cuaca ekstrem yang merusak kapal, salah satunya armada GSF asal Spanyol yang singgah di Tunisia, membuat rencana tersebut gagal.
Dalam pernyataannya, IGPC menyebut bahwa mereka terpaksa memberikan jatah kursi peserta Indonesia kepada relawan internasional lain. Meski IGPC telah menyiapkan lima kapal yang diberi nama pahlawan nasional Indonesia, kapal-kapal itu akhirnya diserahkan kepada relawan internasional untuk dioperasikan menuju Gaza.
Akibatnya, sebagian besar relawan Indonesia tidak dapat ikut serta dan harus kembali ke Tanah Air.
"Dengan ini, IGPC kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan misi berikutnya dengan serius, profesional, dan terencana. Perjuangan membuka blokade Gaza adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran, strategi, dan kolaborasi berkelanjutan," demikian pernyataan resmi IGPC.
Editor: Kendi Setiawan


