Dark
Light
Dark
Light

Perpustakaan Masih Jadi Gudang Ilmu Pengetahuan dan Memori Kolektif Bangsa

Perpustakaan Masih Jadi Gudang Ilmu Pengetahuan dan Memori Kolektif Bangsa

Jakarta, Arina.id—Era perkembangan digital, apakah peran Perpustakaan masih diperlukan oleh masyarakat dan masih menjadi tumpuan ilmu pengetahuan? Rentetan pertanyaan itu didiskusikan dalam Webinar Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa yang digelar Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Selasa, 12 Mei 2026.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rieke Diah Pitaloka menegaskan perpustakaan masih menjadi gudang ilmu pengetahuan dan memiliki peran penting dalam membangun bangsa. 

Ia mencontohkan buku-buku pustaka dan arsip para pendiri bangsa yang ada dalam Perpusnas merupakan memori kolektif dalam proses pembangunan nasional. 

Menurut Rieke, pembangunan yang tidak berbasis nation and character building hanya akan melahirkan proses administratif dan proyek teknis semata tanpa ruh dan spiritualitas untuk kesejahteraan rakyat.

"Akhirnya kehilangan ruh dan tujuannya untuk kesejahteraan rakyat, sehingga yang terjadi justru korupsi,” ujar Rieke dalam sambutannya.

Rieke mengaku menjadi saksi bagaimana para pendiri bangsa merancang pembangunan Indonesia melalui berbagai arsip dan dokumen sejarah yang ia baca. Dalam arsip tersebut, kata dia, terdapat pandangan mengenai hubungan manusia dengan alam dan Tuhan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berbangsa.

"Jika memori kolektif bangsa itu hilang hanya akan melahirkan kedangkalan berpikir yang dapat memicu berbagai bentuk kejahatan seperti korupsi," kata Rieke.

Menurutnya, keberadaan perpustakaan dan arsip nasional menjadi sangat penting dalam menjaga ingatan kolektif bangsa.

"Kalau ini hilang dari memori, orang tidak lagi memiliki rasa ragu. Kejahatan lahir dari kedangkalan berpikir karena bangsa ini dijauhkan dari memori kolektif yang tersimpan di Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional RI,” kata Rieke.

Sementara itu, Presiden ASEAN Public Libraries Network PLN Chaerul Umam mengatakan pustakawan masa kini dituntut menjadi pengelola data dan informasi digital, pendamping riset dan pembelajaran, serta mampu membangun kolaborasi strategis di tingkat global.

"Di Indonesia mungkin belum banyak seperti negara tetangga Singapura, Malaysia menjadi periset di dunia. Ini perlu menjadi perhatian," katanya.

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz mengatakan upaya merawat pustaka sekaligus memartabatkan bangsa merupakan tekad sekaligus tantangan besar bagi Perpusnas di tengah perkembangan zaman.

"Seminar ini dengan tema yang begitu menggugah sejalan dengan tema hari buku merawat pustaka dan Memartabatkan Bangsa disitu muncul pertanyaan apakah betul perpustakaan bisa ikut merawat pustaka yang saat ini ada? Ini sebuah tekad dan tantangan," katanya.


Editor: Suci
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo