Dark
Light
Dark
Light

Kebobolan Setengah Lusin dari Jepang Bukan Akhir Segalanya Bagi Timnas Garuda

Kebobolan Setengah Lusin dari Jepang Bukan Akhir Segalanya Bagi Timnas Garuda

Jakarta, Arina.id - Timnas Indonesia kalah mutlak, kebobolan setengah lusin (6-0) dari Jepang dalam laga penutup putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Panasonic Suita, Osaka. Skor yang mencolok ini menyisakan banyak tanya, apakah Indonesia memang belum pantas tampil di Piala Dunia? Apakah level Jepang dan Indonesia terlampau jauh?

"Secara jujur, ya, kita memang masih berada di level yang berbeda. Jepang bukan sekadar raksasa Asia, mereka adalah tim dengan pengalaman lima kali lolos beruntun ke putaran final Piala Dunia, dengan pemain-pemain yang merumput di liga top Eropa dan sistem pembinaan usia muda yang mapan," kata Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Ignatius Indro. 

Bandingkan dengan Indonesia yang baru mulai menata ekosistem sepak bolanya dalam satu dekade terakhir, dan masih sering terganggu oleh polemik internal maupun kurangnya kontinuitas program jangka panjang. Namun kekalahan ini tidak harus dibaca sebagai penghentian mimpi, melainkan sebagai panggilan untuk menata ulang harapan dengan lebih realistis dan terukur. 

"Indonesia berhasil melangkah ke putaran ke-4 Kualifikasi, sesuatu yang bahkan negara-negara Asia Tenggara lain belum tentu capai. Itu pencapaian yang layak diapresiasi," katanya menambahkan.

Perbedaan kelas memang ada, tapi bukan untuk disesali—melainkan untuk dijadikan acuan. Jepang pun pernah berada di posisi kita, puluhan tahun lalu, ketika mereka kalah 0-8 dari Korea Selatan dan menjadi bulan-bulanan tim-tim Asia Barat. Bedanya, mereka menanggapi kekalahan dengan revolusi sistematis. Bisakah kita melakukan hal yang sama?

Kekalahan dari Jepang adalah tamparan keras, tapi juga pelajaran berharga. Timnas belum layak ke Piala Dunia hari ini—tapi bukan berarti tidak akan pernah. Asalkan perbaikan dilakukan menyeluruh, konsisten, dan tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek. Apalagi jika sepakbola hanya digunakan untuk kepentingan politik semata. Hal itu tentu bahaya besar.

Kekalahan telak 0-6 dari Jepang bisa dibaca sebagai cermin tajam perbedaan pendekatan sistemik antara Jepang dan Indonesia dalam membangun sepak bola. Jepang adalah contoh negara yang membangun dengan visi jangka panjang, sementara Indonesia—lewat PSSI saat ini—masih lebih sering mengambil jalur cepat dan pragmatis, seperti naturalisasi pemain, tanpa menyelesaikan akar permasalahan: tata kelola liga, infrastruktur, dan pembinaan usia muda.

Jepang membangun fondasi, bukan tambal sulam

Jepang memulai reformasi besar-besaran sejak 1993 dengan lahirnya J.League. Mereka investasi besar pada akademi usia dini yang terintegrasi dengan sekolah. Kemudian mengembangkan pelatih-pelatih lokal berkualitas tinggi dan berlisensi, pengiriman pemain muda ke Eropa sejak usia belia, lalu membangun liga domestik yang stabil, profesional, dan kompetitif.

"Hasilnya baru terlihat setelah 10-15 tahun. Tapi hari ini mereka panen: pemain seperti Takefusa Kubo, Wataru Endo, Kaoru Mitoma, hingga Ritsu Doan adalah produk sistematis, bukan hasil dadakan," ujarnya.

Bandingkan dengan Indonesia. Negeri ini masih berkutat pada solusi instan: naturalisasi pemain diaspora dan keturunan, timnas dibentuk dari kumpulan "talenta terbaik", bukan hasil sistem pembinaan, liga yang masih bermasalah dalam profesionalisme, wasit, manajemen klub, dan infrastruktur.

Lalu apakah naturalisasi salah? Tidak. Tapi tanpa fondasi yang kuat, hasilnya tidak akan bertahan lama. Kita bisa lolos ke putaran ke-4 kualifikasi Piala Dunia karena bantuan pemain naturalisasi, tapi ketika menghadapi tim yang dibangun dengan sistem, kelemahan kita terbuka lebar—seperti yang terlihat saat melawan Jepang.

Kesimpulannya, jepang menunjukkan bahwa tidak ada jalan pintas menuju kejayaan. Naturalisasi bisa menjadi pelengkap, tapi tidak bisa jadi strategi utama. PSSI harus mulai berani berinvestasi pada pembinaan jangka panjang, membenahi liga secara menyeluruh, dan mempercayai pelatih-pelatih muda serta pemain lokal sejak usia dini.

"Kalau tidak, kita akan terus mengulang pola: euforia sesaat, lalu realitas pahit datang mengetuk. Dan tim seperti Jepang akan selalu jadi cermin—bukan lawan sepadan. Bukan karena mereka lebih berbakat, tapi karena mereka lebih bersungguh-sungguh membangun."


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo