Jakarta, Arina.id—Seorang pelajar kelas XI dari SMK NU Miftahul Falah Kudus, Jawa Tengah, Muhammad Rafif Arsya Maulidi, menyita perhatian publik setelah menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam surat tersebut, ia secara sukarela meminta agar jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya diterimanya dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
"Melalui surat ini, saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya. Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya," tulis Rafif dalam suratnya dikutip Arina.id, Sabtu (4/4).
Ia menyoroti kondisi kesejahteraan guru yang menurutnya masih jauh dari layak, termasuk di sekolah tempatnya belajar. Di sisi lain, pemerintah tengah mengalokasikan anggaran besar untuk program MBG yang ditujukan bagi pelajar.
"Saya melihat masih banyak guru, termasuk di SMK Miftahul Falah tempat saya belajar, yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak," jelasnya.
Rafif bahkan menghitung secara sederhana potensi dana yang bisa dialihkan. Jika dihitung, sekitar 18 bulan masa belajar dikalikan 25 hari dan Rp15.000 per hari, totalnya mencapai Rp6.750.000.
"Bagi saya pribadi, angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja," jelasnya.
Rafif berasal dari keluarga sederhana, dengan ayah yang bekerja sebagai buruh dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Namun sejak kecil, ia diajarkan untuk menghormati orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, terutama guru.
"Sejak kecil, saya diajarkan untuk menghormati orang-orang yang berjasa dalam membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih beradab. Setelah orang tua, guru adalah sosok yang paling saya hormati. Guru di sekolah, ustadz yang mengajarkan mengaji, serta para kiai yang membimbing akhlak dan ilmu, memiliki peran besar dalam kehidupan saya," tuturnya.
Rafif mengajak pelajar lain untuk berani menyuarakan aspirasi, khususnya terkait pentingnya peningkatan kesejahteraan guru.
"Saya mengajak teman-teman pelajar untuk tidak diam, sudah saatnya kita menyuarakan pentingnya kesejahteraan guru sebagai pilar utama kemajuan bangsa," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa surat tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian sebagai pelajar terhadap kondisi pendidikan di Indonesia.
"Surat ini bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian seorang pelajar terhadap kesejahteraan guru. Besar harapan saya agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan," jelasnya.
Editor: Suci


