Banjarnegara, Arina.id — Suasana Masjid At Taqwa Kampung Pungkuran, Gayam, Banjarnegara Jawa Tengah malam itu terasa syahdu. Dalam suasana Nuzulul Quran di bulan suci Ramadhan, ratusan jamaah anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak khusyuk menyimak ayat demi ayat yang dibacakan seorang tamu istimewa dari tanah yang jauh: Gaza, Palestina. Ia adalah Syekh Yasir Sholah Arafat, imam dari masjid di Kementerian Wakaf di wilayah Gaza Strip.
Kehadiran Syekh Yasir ke Indonesia, salah satunya singgah di kota Dawet Ayu tersebut untuk memberikan Dauroh Al-Qur’an Metode Gaza, sebuah pelatihan menghafal Al-Qur’an yang dikenal sederhana namun efektif. Dengan suara yang tenang dan ritme yang teratur, Syekh Yasir membacakan Surat Al-Waqiah ayat 1 hingga 7. Setiap ayat tidak hanya dibaca sekali. Ia mengulangnya hingga tujuh kali, lalu peserta menirukannya bersama-sama.
Ayat demi ayat bergema dengan merdunya. “Ulangi lagi… ulangi lagi,” ujar Syekh Yasir dengan sabar.
Metode itu tampak sederhana, namun efeknya terasa cepat. Dalam waktu kurang dari satu jam, beberapa peserta diminta maju untuk menguji hafalan mereka. Dua santri muda serta dua jamaah dewasa yang tanpa melihat mushaf, mampu melafalkan tujuh ayat tersebut dengan cukup lancar.
Syekh Yasir pun tersenyum bangga. “Masyaallah, tabarakallah,” ucapnya berulang kali.
Metode dari negeri yang terluka
Metode menghafal yang dibawa Syekh Gaza, menurutnya lahir dari pengalaman panjang masyarakat Palestina yang hidup dalam tekanan konflik berkepanjangan dengan Israel. Di tengah keterbatasan listrik, bangunan yang hancur, dan ancaman serangan, Al-Qur’an justru menjadi pegangan hidup anak-anak di Palestina.
Di hadapan para peserta, Syekh Yasir bercerita tentang kehidupan anak-anak Gaza yang tumbuh bersama Al-Qur’an. “Di Gaza, anak-anak belajar Al-Qur’an sejak sangat kecil. Banyak dari mereka yang sudah hafal beberapa juz bahkan sebelum remaja,” katanya.
Menurutnya, hafalan Al-Qur’an bukan sekadar pelajaran agama, melainkan sumber kekuatan mental bagi masyarakat Palestina. “Kalau kami tidak kuat, mungkin puluhan tahun lalu kami sudah musnah,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia menjelaskan bahwa kehidupan di Gaza tidak pernah benar-benar tenang. Sirene serangan, bangunan yang rusak, dan keterbatasan logistik menjadi bagian dari keseharian. Namun di tengah semua itu, masjid dan majelis Al-Qur’an tetap hidup.
“Anak-anak di Gaza sering menghafal Al-Qur’an di ruang-ruang sederhana, bahkan di tempat penampungan ketika terjadi serangan,” kenang Syekh Yasir.
Belajar sekaligus peduli Palestina
Ketua panitia kegiatan, Yusman, mengatakan bahwa dauroh ini tidak hanya bertujuan melatih hafalan Al-Qur’an, tetapi juga membangun kepedulian terhadap Palestina.
“Metode Gaza ini sederhana, tapi sangat kuat untuk melatih hafalan. Kami berharap masyarakat Banjarnegara bisa mempraktikkannya di rumah atau di pesantren,” ujarnya.
Selain pelatihan, panitia juga menggalang donasi untuk Palestina. Dalam waktu singkat, donasi yang terkumpul mencapai lebih dari Rp. 14 juta.
Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman yang berkesan. Fatiha Salma Haniyya, santri dari SMPIT Permata Hati Banjarnegara, mengaku metode tersebut sangat membantu memperkuat hafalan. “Karena diulang terus-menerus, hafalan jadi lebih kuat atau mutqin,” ujar Fatiha.
Ia berharap metode itu bisa diterapkan lebih luas di pesantren-pesantren tahfiz, karena menurutnya, cara menghafal yang diajarkan terasa lebih mudah dibanding metode yang biasa ia pelajari.
“Biasanya kita membaca sendiri-sendiri. Tapi di sini diulang bersama-sama, jadi lebih cepat masuk ke ingatan,” imbhnya yang juga sangat terharu mendengar cerita kehidupan anak-anak Gaza.
“Kalau mereka bisa tetap menghafal Al-Qur’an di tengah perang, kita yang hidup damai seharusnya lebih semangat lagi,” ujar Fatiha. Baginya, belajar dengan Syekh Yasir telah menambah keteguhan iman.
Al-Qur’an sebagai pedoman dan harapan
Mata dunia saat ini tengah tertuju pada ketegangan di Timur Tengah. Dimana perang dahsyat tengah berkecamuk antara AS-Israel yang berusaha menginvasi kedaulatan negara Iran. Ironisnya perang sengit ini berlangsung di bulan suci Ramadhan, bahkan mejelang Idulfitri ini belum ada tanda-tanda akan mereda.
Setahun lalu, 18 Maret 2025, Zionis Israel juga melancarkan serangan besar-besaran di Jalur Gaza, yang mengakibatkan sedikitnya 330 warga Palestina tewas menurut laporan kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza. Banyak orang sedang menyantap hidangan sahur pada bulan suci Ramadhan ketika ledakan mulai terjadi di Gaza (seperti dikutip BBC, 18 Maret 2025). Saat itulah Iran menjadi salah satu negara yang selalu membantu Gaza atas penindasan Israel dan sekutunya.
Syekh Yasir mengisahkan, ketika anak-anak di Palestina membaca Al-Qur’an, mereka percaya bahwa masa depan Palestina akan lebih baik. Ia pun tidak menutup kesedihannya ketika melihat dunia internasional sering diam terhadap penderitaan rakyat Palestina. “Kami hanya merasa sedih ketika dua miliar umat Islam di dunia seolah diam melihat kondisi kami,” tuturnya trenyuh.
Namun ia tetap menyampaikan pesan optimisme. Bahwa bangsa Palestina hanya ingin hidup layak. Anak-anak Palestina ingin sekolah, bermain, dan tumbuh seperti anak-anak lain di dunia. Karena seperti yang ditunjukkan oleh anak-anak Gaza: ketika Al-Qur’an hidup sebagai pedoman di dalam hati, harapan pun tidak pernah mati.
Pelatihan hafalan yang dibimbing Syekh Yasir itu menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an selalu menjadi sumber kekuatan bagi umat Islam, baik di negeri yang damai maupun di wilayah yang dilanda konflik. Kisah anak-anak Gaza yang disampaikan langsung oleh Syekh Yasir, yang tetap menghafal Al-Qur’an di tengah keterbatasan menjadi cermin bagi umat Islam di Indonesia.
Jika saudara-saudara kita di Palestina mampu menjaga Al-Qur’an dalam situasi sulit, maka kita yang hidup dalam kedamaian tentu memiliki kesempatan yang jauh lebih besar. Dan bulan suci Ramadan adalah menjadi momen yang sangat tepat untuk menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an, memperkuat hafalan, dan mengajarkannya kepada anak-anak. Sebuah langkah kecil yang akan membawa cahaya terang bagi kehidupan.*
Editor: Kendi Setiawan


