Jakarta, Arina.id — Hidup ini enggak selamanya, Bro! Pernah enggak sih ngerasa waktu jalan cepet banget, tiba-tiba Lebaran aja? Momen anjangsana jadi kesempatan emas buat nyapa orang-orang yang udah lama nggak kita temui.
Tradisi ini masih kuat mengakar di masyarakat, terutama saat bulan Syawal tiba. Di Jakarta, masyarakat Betawi melakukan anjangsana selama sepekan berkunjung ke rumah kerabat selama 7 hari berturut-turut.
Biasanya dalam kegiatan ini diisi dengan kegiatan keluarga besar seperti sungkem kepada yang tua, saling maaf-maafan dengan sanak saudara, reuni atau kumpulan keluarga besar. Pokoknya, vibes-nya akrab.
Namun, agar suasana tetap nyaman, ada baiknya kita menjaga etika dalam berbicara dan bersikap. Misalnya tak perlu pamer keberhasilan materi atau penampilan selama lebaran, hasud, buruk sangka (su'uzan), menggunjing (ghibah) atau membicarakan orang lain dari segi kekurangan dan kejelekannya.
Tahassus atau kebiasaan menguping pembicaraan orang lain atau tajassus mencari-cari kekurangan atau kesalahan pihak lain.
Alih-alih kita berkata sembrono yang bisa menyinggung perasaan seseorang, lebih baik manfaatkan waktu untuk saling mengenal kerabat yang jarang berjumpa, bersilaturahmi ke guru, atau mengunjungi teman lama.
Anjangsana menjadi momen yang tepat untuk memperbaiki hubungan yang renggang. Anjangsana secara istilah berarti saling kunjung, silaturahmi. Tradisi ini tidak hanya dianjurkan dalam budaya, tetapi juga dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَنَسُ ابْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلُ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan di-panjangkan umurnya (kebaikannya) maka bersilaturahmilah."
Menariknya, tradisi anjangsana tidak hanya ditemukan dalam budaya Islam. Masyarakat Hindu di Bali juga memiliki tradisi serupa setelah Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Ngembak Geni. Saat Ngembak Geni ini, umat Hindu melakukan silaturahmi dengan kerabat maupun keluarga.
Baik dalam Idul Fitri maupun Ngembak Geni, esensi dari anjangsana tetap sama: membangun kembali hubungan yang sempat terputus, mempererat tali persaudaraan di tengah zaman yang semakin sibuk dan individualistis.
Editor: Kendi Setiawan


