Dark
Light
Dark
Light

Kiat Orang Tua Menjauhkan Anak dari Perang Sarung yang Kembali Marak

Kiat Orang Tua Menjauhkan Anak dari Perang Sarung yang Kembali Marak

Arina.id ~ Bulan Ramadhan yang istimewa selalu dihiasi dengan berbagai euforia. Di kalangan anak-anak dan remaja laki-laki, fenomena perang sarung muncul lagi. Beberapa hari terakhir ini banyak tersiar kabar, polisi menangkap kelompok remaja yang terlibat perang sarung, atau ditengarai akan melakukan perang sarung. Di Banjarnegara Jawa Tengah, baru-baru ini polisi berhasil menggagalkan aksi perang sarung dan mengamankan belasan remaja.

Para remaja tanggung yang diamankan aparat berasal dari berbagai kecamatan di Banjarnegara. Barang bukti yang disita berupa 11 sarung yang sebagian sudah digulung siap dijadikan senjata dalam perang sarung, serta 4 sepeda motor. Lantas, seberapa bahayakah perang sarung itu?

Sebenarnya, perang sarung merupakan bagian dari budaya lokal, terutama di kalangan santri pondok. Sarung, sangat berkaitan dengan simbol-simbol kaum santri pada masa perjuangan melawan penjajah. Bagi santri, sarung adalah simbol dari keberanian. 

Kemeriahan bulan puasa biasanya memicu anak-anak dan remaja laki-laki memainkan perang sarung ini. Dalam konteks perang sarung beberapa dekade lalu, anak-anak yang akan ‘perang’ membagi diri menjadi dua kelompok. Dalam berperang, biasanya mereka berhadap-hadapan antarkubu. Saling sabet dengan sarung yang sudah digulung laksana cambuk. Tidak ada unsur emosi ataupun dendam dalam memainkan perang sarung ini. Semua dilakukan atas dasar kesenangan semata, untuk mengisi waktu menunggu buka puasa atau usai sholat tarawih.

Ada aroma kompetisi positif di dalamnya. Ada strategi, adu keberanian, bahkan adu gengsi dalam jenis dan merk sarung yang dipakai buat senjata. Dulu, begitu asyiknya anak-anak terlibat perang sarung yang begitu seru namun tetap damai. Perang baru  berhenti ketika orang tua mereka memanggil-manggil untuk pulang.

Seiring berjalannya waktu, perang sarung mengalami pembiasan makna. Ekspresi anak-anak generasi 80 hingga 90 an dalam menemukan jati dirinya, tentu sangat berbeda dengan anak-anak di era digital saat ini. Memang, perang sarung masih dilakukan dengan cara menggulung sarung hingga menyerupai cambuk. Lalu salah satu ujung sarung diikat sebagai pegangan pemiliknya. Dengan cara itu, sarung bisa menjadi alat mirip cambuk. Sayangnya, kini banyak yang bermain curang. Di dalam sarung itu bisa berisi batu, benda tumpul, bahkan benda tajam. 

Tentu hal ini sangat berbahaya. Dari sisi kesehatan, perang sarung mengundang resiko menyebabkan bola mata robek. Akibat sabetan sarung yang sudah diisi benda-benda berbahaya tadi, bisa membuat mata bengkak dan pendarahan karena kerasnya sabetan sarung. Jika dibiarkan, bisa berakibat fatal yakni kebutaan.

Kasat Samapta Polres Banjarnegara AKP Rohmat Setyadi mengatakan masyarakat khususnya para orang tua harus melindungi para remaja dari dampak negatif yang ditimbulkan dari perang sarung. Menurutnya, berawal dari perang sarung, bisa memicu tawuran yang lebih berbahaya. Dengan kerja sama yang baik antara masyarakat dan aparat, diharapkan fenomena perang sarung yang berbahaya dapat diminimalisir.

"Saya mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, untuk berperan aktif dalam mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya. Kemana mereka pergi, dan kegiataannya apa kita harus tahu, sehingga tidak terlibat dalam kegiatan yang merugikan seperti perang sarung ini," ujarnya.

Harus dihentikan
Sementara itu, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) organisasi daerah (Orda) Banjarnegara DR Mukhlis, kepada Arina.id mengatakan bahwa fenomena perang sarung yang melenceng dewasa ini harus dihentikan. Karena jika dibiarkan, akan membentuk habituasi negatif pada diri para remaja dan anak-anak.

"Menurut saya harus diluruskan, atau dihentikan saja. Karena jika tidak, pada perkembangan berikutnya  bisa membahayakan kehidupan diri remaja dan lingkungan masyarakatnya. Solusinya, sebaiknya ada tindakan preventif sejak dini, dimulai dari keluarga," kata Kiai Mukhlis.

Solusi komprehensif 
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Aris Adi Leksono, M.M.Pd.; mengungkapkan perang sarung harus diatasi dengan cepat, tegas, dan solusinya harus komprehensif. Pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah aparat keamanan yakni Kepolisian, juga Satpol PP yang bisa melakukan sweeping, penjangkauan dan pengawasan secara ketat. Apabila ada anak-anak yang terlibat perlu dilakukan pembinaan dengan melibatkan orang tua.

"Saya kira sebenarnya sudah bisa dideteksi titik-titik kumpul mereka untuk melancarkan agenda yang mengarah kepada hal negatif seperti perang sarung ini. Pada titik-titik kumpul yang sudah terdeteksi, aparat keamanan perlu menempatkan personil untuk penjagaan secara ketat," kata Aris, Minggu (17/3/2024).

Memantau media sosial
Aris juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan orang tua untuk memantau media sosial anaknya, karena biasanya mereka berinteraksi dan berbagai informasinya melalui media sosial. Termasuk informasi dimana ada perang sarung, janjian dan lainnya. 

"Dalam konteks ini perlu kehadiran orang tua untuk memantau anak-anaknya di media sosial. Dan saya kira sangat berbahaya perang sarung ini. Karena dari sini bisa jadi benih-benih negatif, yang jadi pemicu kekerasan serius seperti tawuran, penganiayaan dan kekerasan lainnya. Tentu saja, ini berdampak tidak hanya secara fisik dan psikis tapi juga bisa memakan korban jiwa," pesannya.

Untuk itu Aris mengimbau kepada aparat kemanan, orang tua, lingkungan mulai dari RT/RW agar melakukan pengawasan pada anak-anak, jangan sampai terlibat perang sarung. Mereka harus dibina, diarahkan, agar bisa membedakan mana kegiatan yang positif dan mana yang negatif.

"Bulan Ramadhan adalah momen yang tepat bagi orang tua untuk mengenali dan mendekati anak-anaknya, dengan memberikan perhatian lebih, serta bimbingan terutama bimbingan spritual agar mereka bertumbuh kembang menjadi pribadi yang salih-salihah yang orientasinya adalah untuk bagaimana membahagiakan orang tua, menyenangkan guru-gurunya, dan bermanfaat bagi lingkungan masyarakat sekitarnya," pungkasnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo