Jakarta, Arina.id—Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menggelar Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS+) pada 29–31 Oktober 2025 .
Konferensi tahunan yang akan digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, ini akan mempertemukan ratusan intelektual Muslim dari berbagai negara untuk merumuskan solusi atas permasalahan kemanusiaan global, khususnya krisis iklim.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menekankan pentingnya kesadaran spiritual dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang dinilainya lebih dahsyat daripada dampak perang.
"Hubungan manusia dan alam tidak lagi harmonis. Jika kita gagal menciptakan harmoni dengan lingkungan, maka tingkat kematian akibat perubahan iklim akan sangat dahsyat," ujarnya di Aula HM. Rasjidi, Kantor Kemenag, Thamrin, Jakarta, Rabu (9/7/2025).
Menurut data PBB, sekitar satu juta orang meninggal setiap tahun akibat dampak perubahan iklim.
Nasaruddin menyoroti pentingnya pendekatan teologis dalam mengubah perilaku masyarakat. Ia mengutip Max Weber bahwa perubahan sistem perilaku tidak dapat dilakukan tanpa mengubah sistem logos (cara berpikir), etos (nilai-nilai), dan etiologi (akar keyakinan).
"Yang paling dalam adalah sistem teologi. Karena itu, jika ingin menciptakan dunia yang sejahtera, kita harus menggunakan bahasa agama. Bahasa politik dan diplomasi terkadang tidak cukup efektif untuk menyadarkan masyarakat," tambahnya.
Ia menyebut AICIS sebagai upaya untuk mengingatkan dunia akan pentingnya kesadaran spiritual dalam membangun peradaban masa depan.
"Ini kejutan luar biasa—Indonesia mampu melahirkan gagasan besar yang bahkan belum tentu dibahas oleh PBB," ungkapnya.
Diimplementasikan dalam kurikulum cinta
Nasaruddin juga menyampaikan rencana pengembangan kurikulum cinta sebagai wujud konkret dari gagasan tersebut.
"Guru agama tidak boleh lagi mengajarkan kebencian atau mengkafirkan orang lain, tetapi mengajarkan cinta pada sesama manusia, pada lingkungan, dan pada Tuhan," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Amien Suyitno, mengatakan AICIS+ 2025 akan hadir dengan wajah baru. Tema-tema seperti lingkungan hidup, teknologi, hilirisasi, dan ketahanan pangan diangkat sebagai bentuk respons pemikiran Islam terhadap tantangan zaman.
"Isu-isu besar hari ini, seperti climate change, bisa menjadi jembatan bahwa agama tidak hanya berbicara soal hal-hal normatif, tetapi juga berperan aktif dalam mencegah krisis iklim," ujarnya.
Amien menyebut kegiatan ini diselenggarakan di salah satu kampus terbesar yang kini menjadi kiblat studi Islam di Indonesia. Para pakar dunia dijadwalkan hadir untuk menyampaikan pandangan dan analisis yang akan memperkaya kajian Islam dan sains.
"Goalnya adalah memastikan terjadinya integrasi antara kajian keislaman, sosial, dan sains secara produktif untuk mengatasi persoalan global, termasuk kerusakan lingkungan,”katanya.
"Kita juga ingin memastikan hadirnya Islam yang sejuk dari Indonesia sebagai negara damai
yang dapat menjadi rujukan bagi kajian Islam dunia,”pungkasnya.
Subtema lain yang juga akan diangkat mencakup kesehatan masyarakat, etika kecerdasan buatan (AI), ekonomi berkelanjutan, serta integrasi sains dan nilai-nilai Islam.
Rektor UIII Jamhari menyatakan rasa bangganya karena kampusnya dipercaya menjadi tuan rumah AICIS 2025.
"UIII sangat senang diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah. Ini juga akan memperkuat branding UIII secara internasional. Dari sisi fasilitas, kami siap. Ruang kelas dan seminar sudah tertata dengan baik, dan banyak mahasiswa asing yang akan ikut memeriahkan acara," tuturnya.
Selain konferensi, AICIS 2025 juga akan menghadirkan bazar UMKM dan pameran jurnal ilmiah. Pimpinan redaksi jurnal terindeks nasional dan internasional (Sinta 1, Sinta 2, dan Scopus) dijadwalkan hadir untuk melakukan seleksi karya para peserta.
AICIS 2025 menargetkan partisipasi aktif dari pembicara dan peserta internasional untuk memperkuat posisinya sebagai ruang ilmiah yang inklusif dan berstandar global.
Editor: Kendi Setiawan


