Dark
Light
Dark
Light

Anita Wahid Ceritakan Pengalaman Keluarga Gus Dur Tiap Sore Menerima Teror Via Telepon

Anita Wahid Ceritakan Pengalaman Keluarga Gus Dur Tiap Sore Menerima Teror Via Telepon

Jakarta, Arina.id-Putri ketiga Gus Dur, Anita Hayatunnufus Rahman atau Anita Wahid, menanggapi teror yang dialami jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana atau Cica. Teror tersebut berupa dua kiriman paket ke kantor Tempo yang berisi kepala babi serta enam bangkai tikus dengan kepala dipenggal.

Anita mengaitkan kejadian ini dengan pengalaman masa kecilnya saat mengalami teror serupa pada era Orde Baru. Ia mengungkapkan bahwa saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), keluarganya kerap mendapat ancaman. Saat itu, belum ada ponsel, sehingga semua panggilan masuk melalui telepon rumah (line, line).

Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (22/3/2025), Anita mengenang bagaimana dirinya hampir setiap sore sekitar pukul 16.00 WIB menerima telepon berisi ancaman.

"Hampir setiap sore sekitar jam 4 sore ada telepon masuk ke rumah. Biasanya gue yang angkat karena gue ada di rumah. Kadang adik gue, Inaya Wahid, yang waktu itu masih SD, tapi paling sering gue," ujar Anita.

Begitu mengangkat telepon dan menyapa "Halo," suara laki-laki dari seberang langsung terdengar menggelegar, marah, dan mengintimidasi.

"Heh, bilang sama bapak kamu, suruh dia berhenti bicara! Kalau enggak, kamu akan saya kirim kado yang bagus banget isinya, kepala bapak kamu," kata Anita menirukan percakapan saat itu.

Ancaman itu berulang hampir setiap hari selama beberapa bulan, dengan variasi bentuk teror yang berbeda. Pelaku kerap menyebut bagian tubuh lain yang akan dikirim sebagai bentuk intimidasi.

"Besoknya lagi, sore kurang lebih jam yang sama akan ada telepon lagi yang kurang lebih begitu juga, kadang beda potongan tubuh mana yang disebut," jelasnya.

Menurut Anita, pola teror yang diterimanya dulu mirip dengan yang dialami Tempo saat ini meskipun bentuknya berbeda.

"Kalau di gue hanya sekadar audio, gue enggak tahu, enggak lihat. Sementara di Tempo, bentuknya jelas-ada kepala babi, sangat visual, ada di depan mata termasuk darah-darahnya," jelasnya.

Namun ia mencatat adanya kesamaan pola intimidasi, yakni upaya membungkam pihak yang berbicara kritis.

"Intinya sama diminta berhenti bicara, berhenti mengkritik. Kalau tidak, akan ada konsekuensi besar yang harus ditanggung. Dan konsekuensi besarnya itu bisa saja nyawa mu," kata Presidium Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) itu.

Ia juga menyoroti bahwa dalam dua kasus ini, target teror adalah kelompok yang dianggap rentan yakni jurnalis perempuan dalam kasus Tempo dan anak-anak dalam kasus keluarganya.

"Ini menarik untuk dipikirkan apa dan kenapa alasan di balik itu," tutur Anita.

"Tapi tentu saja kalau kita dipaksa dan diteror untuk berhenti bicara kita enggak akan berhenti bicara bukan?" imbuhnya.

Menurut Anita, teror dan intimidasi terhadap masyarakat semakin nyata seperti yang terjadi pada masa Orde Baru, meskipun bentuknya berbeda-beda.

"Zaman sekarang teror juga nyata dan bentuknya bermacam-macam. Ada jurnalis yang rumahnya dibakar, ada yang diminta diem dengan UU ITE, serangan siber, pengerahan influencer, bot dan troll, label hoaks, serta berbagai bentuk intimidasi lainnya," katanya.

Ia menegaskan bahwa semua upaya tersebut dilakukan untuk membuat masyarakat diam dan takut mengkritisi kebijakan yang ada.

"Jadi gue mau bilang, yang masih bilang kita enggak akan balik ke Orde Baru, kita enggak akan mengarah ke sana—really, really, really please deh!" tegasnya.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo