Jakarta, Arina.id — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan dampak besar terhadap masyarakat. Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 156 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Data tersebut tercantum dalam dashboard resmi Penanganan Darurat Gempa M7,7 NTT 2026 yang dikelola BNPB. Data terakhir diperbarui pada 24 September 2026 pukul 09.00.
Selain korban meninggal dunia, BNPB mencatat 1.620 orang mengalami luka atau sakit. Sementara itu, jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 29.980 jiwa.
Dampak gempa juga terlihat pada sektor permukiman. Dashboard BNPB mencatat sebanyak 106.703 rumah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, hasil verifikasi kerusakan menunjukkan 5.005 rumah rusak berat, 13.615 rumah rusak sedang, dan 27.575 rumah rusak ringan.
Sementara itu, terdapat 57.457 rumah yang tercatat dalam kategori tidak masuk kriteria pada proses verifikasi kerusakan.
Gempa juga berdampak terhadap berbagai fasilitas publik. BNPB mencatat 157 fasilitas kesehatan terdampak, 683 kantor rusak, serta 588 rumah ibadah mengalami kerusakan. Selain itu, tercatat 2.147 fasilitas pendidikan terdampak.
BNPB juga mencatat 48 ribu lebih masyarakat terdampak langsung dan 108 ribu lebih masyarakat terdampak tidak langsung.
Adapun dampak pengungsian tersebar di sejumlah kabupaten di NTT. Kabupaten Manggarai Timur tercatat sebagai wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, disusul Nagekeo, Manggarai, Sikka, Manggarai Barat, Ngada, dan Ende.
Data tersebut menunjukkan proses penanganan dan pemulihan pascagempa masih berlangsung. BNPB sebelumnya menyatakan pendataan korban dan kerusakan terus dilakukan melalui proses verifikasi dan validasi di lapangan sehingga angka dampak dapat mengalami perubahan seiring pemutakhiran data.
Sementara itu berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi 17.442 kali sejak gempa utama pda 15 Agustus 2026.
Editor: Kendi Setiawan


