Dark
Light
Dark
Light

Guru Besar UIN Saizu Purwokerto Angkat Puisi sebagai Suara Global Selatan di SAKAT 2025 Singapura

Guru Besar UIN Saizu Purwokerto Angkat Puisi sebagai Suara Global Selatan di SAKAT 2025 Singapura

Singapura, Arina.id—Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto, Prof. Abdul Wachid B.S., tampil sebagai salah satu pembicara utama dalam Seminar Antarabangsa Kesusasteraan Asia Tenggara (SAKAT) 2025 yang berlangsung di Perpustakaan Negara Singapura pada 9–11 September 2025.

Dalam forum ilmiah dan sastra yang mempertemukan akademisi serta sastrawan Asia Tenggara itu, Prof. Wachid menyampaikan makalah berjudul Suara dari Global Selatan: Puisi sebagai Tafsir Zaman. Ia menekankan bahwa puisi bukan hanya karya estetis, tetapi juga suara zaman yang merekam pergulatan sejarah, krisis, dan harapan masyarakat.

"Puisi menjadi ruang kontemplasi yang membebaskan, menghadirkan kritik sosial, sekaligus menawarkan gagasan alternatif terhadap dominasi teori dan budaya Barat,” jelasnya dalam presentasi yang disambut antusias peserta sebagaimana dalam rilis yang diterima Arina.id.

Puisi sebagai Denyut Hidup Global Selatan
Dalam pemaparannya, Prof. Wachid menyoroti lima pesan utama:

1. Puisi memelihara tradisi dan identitas. Dari pantun, syair, hingga mantra, puisi Asia Tenggara berfungsi sebagai arsip kultural yang menyimpan nilai dan pandangan hidup lokal.

2. Puisi sebagai alat perlawanan. Sejak masa kolonial, puisi menjadi suara rakyat kecil sekaligus wadah kritik sosial terhadap ketidakadilan.

3. Puisi melawan hegemoni epistemik. Sastra Asia Tenggara menawarkan perspektif alternatif dari pengalaman lokal dan spiritualitas, berbeda dari dominasi teori Barat.

4. Puisi sebagai penawar krisis zaman. Melalui bahasa, puisi mengubah statistik krisis menjadi empati dan ruang refleksi.

5. Puisi sebagai solidaritas Global Selatan. Puisi menghubungkan Asia Tenggara dengan Afrika dan Amerika Latin melalui pengalaman senasib: kolonialisme dan perjuangan melawan ketidakadilan.

Bagian dari Forum Ke-19 Mastera 
SAKAT 2025 merupakan rangkaian Sidang ke-29 Majelis Sastera Asia Tenggara (Mastera), yang dihadiri delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan negara lain. Selain seminar, forum ini juga menghadirkan pameran budaya di Muzium Peranakan Singapura.

Kehadiran Prof. Wachid, yang juga mewakili Sekretaris Badan Bahasa Dr. Ganjar Harimansyah, menegaskan peran penting Indonesia dalam khazanah sastra kawasan. Melalui pandangannya, ia menempatkan puisi sebagai denyut hidup Global Selatan: medium yang menafsirkan zaman sekaligus menyuarakan kemanusiaan.

“Puisi adalah suara yang tak pernah padam. Ia bukan sekadar teks, melainkan denyut hidup Global Selatan yang mengingatkan kita pada sejarah, membuka ruang solidaritas, dan menawarkan harapan bagi masa depan," ujarnya.

"Sastra Indonesia sendiri sejak Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung telah menjadi salah satu penopang penting gerakan solidaritas Global Selatan, menyuarakan perlawanan kolonialisme sekaligus memperjuangkan keadilan kemanusiaan,” pungkasnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo