Dark
Light
Dark
Light

Melebihi Rata-Rata Global, Warga Indonesia Donasikan 1,55% Pendapatan

Melebihi Rata-Rata Global, Warga Indonesia Donasikan 1,55% Pendapatan

Jakarta, Arina.id—World Giving Report (WGR) 2025 melaporkan bahwa Indonesia memiliki profil kedermawanan yang kuat di tingkat global. Meski pada tahun ini Indonesia menempati posisi ke-21 dari 101 negara yang disurvei, proporsi pendapatan yang didonasikan oleh masyarakat Indonesia mencapai rata-rata 1,55%, jauh di atas rata-rata global sebesar 1,04%.

Angka ini juga mengungguli banyak negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Donasi di Indonesia umumnya disalurkan langsung kepada individu yang membutuhkan serta melalui lembaga amal dan organisasi keagamaan, mencerminkan keragaman saluran dan pendekatan dalam memberi.

Selain itu, masyarakat Indonesia juga dikenal mendukung berbagai tujuan donasi, dengan rata-rata pemberian kepada 3–4 tujuan berbeda.

Program yang paling banyak menerima dukungan adalah pengentasan kemiskinan, perlindungan anak-anak/remaja, serta bantuan kemanusiaan.

Penurunan Peringkat Bukan Cerminan Menurunnya Kedermawanan
Peneliti filantropi dari Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC), Hamid Abidin  memandang penurunan peringkat Indonesia di WGR 2025 sebagai hal yang tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Pasalnya, laporan WGR menggunakan metodologi yang berbeda dari World Giving Index (WGI), yaitu dengan memasukkan aspek proporsi nilai donasi terhadap pendapatan dan keragaman jalur pemberian, bukan hanya frekuensi menyumbang.

“Pendekatan ini memberikan pemahaman lebih mendalam tentang kedermawanan global dibanding WGI,” ujar Hamid, Sabtu (2/8/2025).

Metodologi baru ini, kata dia, juga berdampak pada perubahan posisi negara-negara yang sebelumnya mendominasi di laporan WGI.

Meski Indonesia tidak berada di posisi puncak, Hamid menyebut bahwa Indonesia tetap menunjukkan tingkat kedermawanan yang tinggi secara global.

Negara seperti Nigeria, Mesir, dan Tiongkok, yang memiliki persentase donasi terhadap pendapatan lebih besar, kini menempati posisi tiga teratas dalam laporan ini.

Kepercayaan Publik, Kunci Budaya Kedermawanan
Hamid juga menekankan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amal dan filantropi menjadi faktor kunci dalam membangun budaya memberi yang kuat dan berkelanjutan.

Tingkat kepercayaan ini sangat berkorelasi dengan nilai dan partisipasi donasi masyarakat.

“Jika lembaga amal dianggap kredibel dan berdampak, masyarakat akan lebih termotivasi untuk berkontribusi, baik secara finansial maupun dalam bentuk tenaga atau advokasi,” jelasnya.

Data WGR 2025 juga mencerminkan tren ini. Negara-negara seperti di Afrika dan Asia yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap organisasi filantropi, mencatat tingkat donasi dan partisipasi yang lebih tinggi dibanding negara-negara lain.

Secara global:

  • Skor rata-rata penilaian pentingnya peran lembaga amal dalam masyarakat: 10,98 dari 15
  • Skor kepercayaan terhadap lembaga amal: 9,22 dari 15

Peran Strategis Pemerintah dalam Ekosistem Filantropi
Selain kepercayaan publik, dukungan kebijakan dari pemerintah sangat menentukan keberhasilan ekosistem filantropi nasional.

Hamid menyebut bahwa kebijakan yang kondusif, mulai dari regulasi yang memfasilitasi donasi, insentif pajak, hingga kampanye publik, dapat memperkuat budaya berbagi yang berkelanjutan dan strategis.

WGR 2025 mencatat bahwa di 42 negara yang pemerintahnya aktif mendorong kegiatan filantropi, masyarakat menyumbangkan pendapatan 1,7 kali lebih besar dibanding negara di mana pemerintah tidak terlibat aktif.

Regulasi dan Insentif di Indonesia Masih Tertinggal
Sayangnya, menurut Hamid, regulasi dan insentif perpajakan di Indonesia masih belum mendukung optimalisasi potensi kedermawanan.

Contohnya, Undang-Undang No. 9/1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang (PUB) hingga kini belum direvisi, padahal sudah sangat tidak relevan dengan konteks kedermawanan modern. Selain itu, insentif pajak untuk donasi juga dinilai terlalu kecil dan cakupannya sempit dibandingkan negara lain, bahkan di kawasan Asia Tenggara.

“Secara global, Indonesia bisa jadi contoh inspiratif bagaimana negara berkembang menggabungkan tradisi sosial dan modernisasi dalam membangun kedermawanan berkelanjutan. Tapi potensi itu akan sulit tercapai bila regulasinya masih restriktif dan tidak progresif,” jelas Hamid.

Indonesia Masih Berpeluang Jadi Pemimpin Filantropi Asia Tenggara
Meski menghadapi sejumlah tantangan, Hamid optimistis bahwa Indonesia masih punya peluang besar untuk menjadi pemimpin filantropi di kawasan Asia Tenggara, bahkan global.

Dengan budaya memberi yang kuat, didorong oleh nilai sosial dan agama, serta beragam bentuk partisipasi masyarakat, Indonesia memiliki fondasi yang kuat.

Namun, hal itu tetap membutuhkan:

  • Peningkatan kapasitas lembaga filantropi
  • Akuntabilitas dan transparansi pengelolaan donasi
  • Reformasi regulasi dan kebijakan fiskal

Jika langkah-langkah tersebut diambil secara konsisten, maka dampak sosial dari kedermawanan Indonesia bisa jauh lebih luas dan berkelanjutan.

Sebelumnya diberitakan, Nigeria ditetapkan sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan laporan World Giving Report 2025. Sementara Indonesia turun peringkat dari tahun sebelumnya dengan menduduki posisi ke-21 dari 101 negara yang disurvei.

Laporan lengkap World Giving Report 2025 dapat diakses dalam tautan ini.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo