Dark
Light
Dark
Light

Trump Ancam Iran: Pilih Kesepakatan atau Kami Ledakkan Mereka

Trump Ancam Iran: Pilih Kesepakatan atau Kami Ledakkan Mereka

Arina.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Trump mengatakan Amerika Serikat kini menghadapi pilihan antara mencapai kesepakatan dengan Teheran atau menggunakan kekuatan militer.

 “Mungkin kita harus meledakkan mereka. Kita harus mengambil keputusan itu. Kita meledakkan mereka atau membuat kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (30/9/2026), sebagaimana dilaporkan Associated Press (AP).

Trump juga mengatakan kebuntuan dengan Iran akan segera berakhir.

“Ini akan segera berakhir, dengan satu cara atau cara lainnya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Washington dan Teheran masih berupaya mencari jalan keluar diplomatik, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu program nuklir Iran.

Menhan AS Klaim Militer Iran Telah Dihancurkan

Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan klaim mengenai dampak operasi militer Amerika terhadap Iran.

Berbicara di hadapan para pemimpin militer dalam pidato State of the Force di Pangkalan Korps Marinir Quantico, Virginia, Hegseth kembali mengatakan militer AS telah menghancurkan sejumlah kemampuan utama Iran.

Menurut Hegseth, Amerika Serikat telah menghancurkan angkatan laut, angkatan udara, sistem pertahanan, sejumlah pemimpin serta kapasitas industri militer Iran. Ia juga mengatakan operasi militer AS telah melumpuhkan ambisi nuklir Teheran.

Namun, AP mencatat bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal terhadap pangkalan Amerika Serikat maupun sekutunya. Iran juga masih memiliki kemampuan untuk menyerang kapal-kapal komersial dan militer yang melintas di sekitar Selat Hormuz.

Pernyataan Hegseth muncul ketika Pentagon juga menghadapi persoalan mengenai persediaan sejumlah sistem persenjataan yang digunakan secara intensif selama perang. Sejumlah pakar yang dikutip AP memperkirakan kontraktor pertahanan AS membutuhkan sedikitnya tiga tahun untuk mengisi kembali persediaan beberapa sistem senjata utama.

Iran Terima Respons AS 

Di tengah ancaman Trump, Iran mengonfirmasi telah menerima tanggapan resmi Washington terhadap proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan respons AS tersebut kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam rapat kabinet, menurut juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, sebagaimana dilaporkan AP.

Namun, pemerintah Iran belum mengungkap isi tanggapan Amerika Serikat maupun memastikan apakah Washington menerima atau menolak proposal tersebut.

Pezeshkian mengatakan pemerintahnya masih berupaya mencapai kesepakatan, tetapi menegaskan bahwa kepentingan Iran harus tetap diperhatikan.

“Kami akan melakukan segala upaya untuk mewujudkan kesepakatan tersebut dan akan dengan tegas memperjuangkan hak-hak rakyat Iran,” kata Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa kesepakatan harus dibangun berdasarkan strategi yang menguntungkan kedua pihak.

Proposal Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah syarat. Di antaranya adalah penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, Teheran menyatakan siap membuka kembali jalur pelayaran dan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir.

Sementara itu, laporam Reuters menyebutkam bahwa Washington telah menyampaikan tanggapannya melalui mediator Qatar kepada Araghchi. Proposal tersebut merupakan rencana tujuh hari untuk membangun kembali kepercayaan dan menghidupkan kembali kesepahaman yang pernah dicapai kedua pihak pada Juni.

Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, persoalan utama bukan lagi semata-mata mengenai langkah apa yang harus dilakukan, melainkan urutan pelaksanaannya.

Qatar terus menjadi perantara komunikasi antara Washington dan Teheran. Mediator berusaha menjembatani perbedaan kedua pihak sekaligus mencari formula yang memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran normal.

Situasi ini menempatkan jalur diplomasi dan ancaman militer dalam posisi yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, Trump masih membuka kemungkinan kesepakatan. Di sisi lain, ia kembali menggunakan ancaman serangan sebagai tekanan terhadap Teheran.

Pemerintah Iran sendiri telah menyatakan masih membuka jalur negosiasi, tetapi mempertahankan tuntutan agar kepentingan dan hak Iran menjadi bagian dari kesepakatan.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam kebuntuan tersebut karena jalur strategis itu merupakan salah satu koridor utama perdagangan energi dunia. Setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan harga energi global.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo