Arina.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memainkan narasi isu memerangi 'genosida' terhadap umat Kristen sebagai argumentasi penegasan posisi, sebelum mengirim pasukannya ke Nigeria yang diklaim sebagai bentuk bantuan kepada pemerintah setempat untuk memerangi kelompok bersenjata.
Di bawah Trump, Amerika memang ekspansif. Negeri itu mengirim pasukan ke sejumlah negara atas nama perdamaian. Trump mengirim pasukan ke Israel untuk perdamaian perang di Palestina. Kemudian mengirim bantuan ke Ukraina, lalu terakhir terlibat ketegangan dengan Venezuela setelah mengirim armada perang Angkatan Lautnya ke perairan Karibia yang diklaim sebagai bentuk perang terhadap kartel narkoba.
Adapun untuk konteks Nigeria, para pejabat dan pakar di Nigeria pada Minggu kemarin, 01 November 2025, telah membantah klaim Trump mengenai pembunuhan massal terhadap umat Kristen. Mereka menyatakan bahwa Boko Haram dan kelompok terkait al-Qaeda menargetkan orang-orang dari semua agama di negara dengan penduduk terbanyak di Afrika tersebut.
Namun Trump – yang telah menginstruksikan pemerintahannya untuk mempersiapkan kemungkinan aksi militer cepat di negara dengan penduduk terbanyak di Afrika – kembali menegaskan ancamannya pada hari Minggu, dengan mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan sejumlah opsi militer di Nigeria.
Seperti dikutip dari Aljazeera, ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah ia mempertimbangkan pasukan AS mendarat di Nigeria atau serangan udara, Trump menjawab: "Bisa jadi, maksud saya, banyak hal – saya membayangkan banyak hal."
"Mereka membunuh orang Kristen, membunuh mereka dalam jumlah yang sangat besar. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi," katanya menambahkan.
Nigeria, negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa, terbagi antara wilayah utara yang mayoritas Muslim dan wilayah selatan yang mayoritas Kristen. Kelompok-kelompok bersenjata telah terlibat dalam konflik dan sebagian besar terbatas di wilayah timur laut negara tersebut, yang mayoritas Muslim, dan telah berlangsung selama lebih dari 15 tahun.
Kimiebi Imomotimi Ebienfa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Nigeria, dalam wawancara dengan Al Jazeera pada hari Minggu, membantah klaim Trump tentang pembunuhan massal orang Kristen.
"Kami tidak bangga dengan situasi keamanan yang kami alami, tetapi jika kami mengikuti narasi bahwa hanya orang Kristen yang menjadi sasaran, tidak, itu tidak benar. Tidak ada genosida Kristen di Nigeria," ujarnya.
"Kami terus menegaskan bahwa kami mengakui fakta bahwa telah terjadi pembunuhan di Nigeria, tetapi pembunuhan tersebut tidak terbatas pada umat Kristen saja. Umat Muslim juga dibunuh. Umat tradisional juga dibunuh… Mayoritas umat Kristen bukanlah umat Kristen."
Imomotimi Ebienfa menambahkan, Nigeria siap bekerja sama dengan mitra-mitranya untuk memerangi momok terorisme ini, tetapi tidak dengan tindakan pasif yang akan merusak kedaulatan negara kami. Ia juga dengan keras membantah bahwa pemerintah Nigeria telah membiarkan pembunuhan itu terjadi.
"Pembunuhan tersebut tidak disetujui oleh pemerintah Nigeria," ujarnya. "Pembunuhan warga negara Nigeria mana pun di wilayah mana pun merupakan kerugian bagi negara ... Pelaku pembunuhan ini adalah kelompok teroris Boko Haram dan kelompok-kelompok lain yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan ISIS yang terus-menerus memperparah krisis ini."
Seorang penasihat Presiden Nigeria, Bola Tinubu juga menyuarakan sentimen serupa. Adapun pengamat politik setempat, Daniel Bwala, juga mengatakan negaranya akan menyambut baik bantuan AS selama negara itu mengakui integritas teritorialnya.
Bwala berusaha meredakan ketegangan antara kedua negara, meskipun Trump menyebut Nigeria sebagai negara yang dipermalukan. "Kami tidak menganggapnya harfiah, karena kami tahu Donald Trump berpikiran baik tentang Nigeria," kata Bwala.
"Saya yakin pada saat kedua pemimpin ini bertemu dan duduk bersama, akan ada hasil yang lebih baik dalam tekad bersama kita untuk memerangi terorisme," ujarnya.
Ancaman Trump akan aksi militer muncul sehari setelah pemerintahannya kembali memasukkan Nigeria ke dalam daftar "Negara-negara yang Memerlukan Perhatian Khusus" yang menurut Washington telah melanggar kebebasan beragama. Negara-negara lain dalam daftar tersebut antara lain Tiongkok, Myanmar, Korea Utara, Rusia, dan Pakistan.
Presiden Nigeria, Tinubu, yang merupakan seorang Muslim dari Nigeria selatan itu telah menikahi seorang Kristen, pada hari Sabtu 31 Oktober 2025, menepis tuduhan intoleransi beragama dan membela upaya negaranya untuk melindungi kebebasan beragama.
Dalam pemilihan pejabat pemerintahan dan militer, Tinubu, mengatakan pemerintahnya telah berupaya mencapai keseimbangan untuk memastikan Muslim dan Kristen terwakili secara setara. Pekan lalu, Tinubu mengubah kepemimpinan militer negara dan menunjuk seorang Kristen sebagai kepala pertahanan yang baru.
"Sejak 2023, pemerintahan kami telah menjalin keterlibatan yang terbuka dan aktif dengan para pemimpin Kristen dan Muslim, serta terus mengatasi tantangan keamanan yang memengaruhi warga negara lintas agama dan wilayah," ujar Tinubu dalam sebuah pernyataan.
"Karakterisasi Nigeria sebagai negara yang intoleran terhadap agama tidak mencerminkan realitas nasional kita, dan tidak memperhitungkan upaya pemerintah yang konsisten dan tulus untuk melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi seluruh warga Nigeria."
Tidak ada genosida terhadap Kristen
Meskipun kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mendesak pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk mengatasi kerusuhan di negara tersebut kibat serangan mematikan oleh Boko Haram dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya, para ahli mengatakan klaim tentang “genosida Kristen” tidak benar.
"Semua data menunjukkan bahwa tidak ada genosida Kristen yang terjadi di Nigeria," ujar Bulama Bukarti, seorang pengacara kemanusiaan Nigeria dan analis konflik dan pembangunan, kepada Al Jazeera. Ini adalah "narasi sayap kanan ekstrem yang berbahaya dan telah lama membara, yang diperkuat oleh Presiden Trump hari ini."
"Ini memecah belah, dan hanya akan semakin meningkatkan ketidakstabilan di Nigeria," imbuh Bukarti, menjelaskan bahwa kelompok bersenjata di Nigeria telah menargetkan baik umat Muslim maupun Kristen.
Mereka mengebom pasar. Mereka mengebom gereja. Mereka mengebom masjid, dan mereka menyerang setiap lokasi sipil yang mereka temukan. Mereka tidak membeda-bedakan Muslim dan Kristen.
Data oleh ACLED, kelompok pemantau krisis AS, mendukung pernyataan Bugatti. Penelitian ACLED menunjukkan bahwa dari 1.923 serangan terhadap warga sipil di Nigeria sepanjang tahun ini, jumlah mereka yang menargetkan orang Kristen karena agama mereka berjumlah 50.
"Kelompok pemberontak seperti Boko Haram dan Negara Islam Afrika Barat sering menampilkan kampanye mereka sebagai anti-Kristen, tetapi dalam praktiknya, kekerasan mereka tidak pandang bulu dan menghancurkan seluruh komunitas," kata Ladd Serwat, analis senior Afrika di ACLED.
Kekerasan di Nigeria, ujarnya kepada Reuters, "merupakan bagian dari dinamika konflik yang kompleks dan sering kali tumpang tindih di negara tersebut terkait kekuasaan politik, sengketa tanah, etnis, afiliasi aliran sesat, dan banditisme."
Serwat mengatakan klaim terkini yang beredar di kalangan beberapa kalangan sayap kanan AS bahwa sebanyak 100.000 orang Kristen telah terbunuh di Nigeria sejak 2009 tidak didukung oleh data yang tersedia.
Ebenezer Obadare, peneliti senior studi Afrika di Council on Foreign Relations yang berbasis di Washington, DC, setuju dan mengatakan bahwa pemerintahan Trump harus bekerja sama dengan otoritas Nigeria untuk mengatasi musuh bersama.
"Tepat pada saat inilah Nigeria membutuhkan bantuan, terutama bantuan militer," ujar Obadare kepada Al Jazeera. "Menyerang Nigeria dan mengabaikan otoritas atau wewenang pemerintah Nigeria adalah tindakan yang salah. Melakukan hal itu akan kontraproduktif."
Editor: Muhammad Taufiq


