Dark
Light
Dark
Light

Jangan Kasihani Kami: Kisah Budiyono, Pegawai KUA Grabag Meretas Batas Disabilitas

Jangan Kasihani Kami: Kisah Budiyono, Pegawai KUA Grabag Meretas Batas Disabilitas

Magelang – Lebih dari 10,3 juta penyandang disabilitas di Indonesia tidak bekerja. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena sedikitnya kesempatan bekerja yang diberikan kepada mereka. 

Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan sekitar 75 persen penyandang disabilitas bekerja pada sektor informal. Berarti ada lebih dari 720.748 disabilitas yang tidak mendapat akses berkarir pada lapangan kerja formal.  

Tidak hanya kesempatan kerja yang sempit, para disabilitas juga sedikit sekali memperoleh peluang mengenyam pendidikan tinggi. Perguruan tinggi saat ini baru menyerap 2,8 persen mahasiswa penyandang disabilitas. 

Otomatis peluang mereka untuk dapat merintis karir pada bidang pekerjan profesional menjadi lebih kecil. Pekerjaan yang tersedia terutama hanya pada sektor pertanian tradisional atau sektor informal lainnya dengan upah rendah. 

Budiyono menderita polio sejak usia 1 tahun. Dari sekolah taman kanan-kanak hingga mengenyam bangku kuliah, seluruh aktifitasnya dibantu kruk penyangga kaki. 

“Saat usia satu tahun saya sudah belajar rambatan. Pernah jatuh sampai demam. Oleh orang tua diobati pijat dan disuntik (mantri kesehatan). Dari situ kaki lama-lama kaki lemes dan nggak bisa jalan lagi. Istilah dokternya dulu kena polio,” kata Budiyono. 

Polio disebabkan virus yang masuk melalui rongga mulut atau hidung hingga menyebar lewat aliran darah. Virus polio menular karena kontak langsung dengan percikan air liur atau tinja penderita polio. 

Pada masa-masa kecil Budiyono—tahun 1980-an, polio menjadi momok penyakit yang menakutkan. Banyak orang salah kaprah mengaitkan penyebab polio karena malapraktik mantri puskesmas yang salah memberikan obat suntikan.     

Penularan polio mulai berkurang sekitar tahun 1990-an, setelah pemerintah menggencarkan vaksin. Pemerintah mewajibkan vaksin polio menjadi imunisasi dasar bagi bayi yang baru lahir hingga usia 4 bulan. 

Polio mungkin menjadi peyebab paling paling banyak disabilitas fisik pada generasi anak kelahiran tahun 1980-1990-an. Keterbatasan gerak pada penderita polio menyebabkan mereka dianggap tidak produktif. 

Dukungan Keluarga 

Beruntung Budiyono besar di lingkungan keluarga yang mendukung anak penyandang disabilitas fisik. Sejak kecil dia merasa tidak pernah diperlakukan berbeda dari anak-anak normal lainnya.

Bapaknya pegawai negeri Dinas Pekerjaan Umum, ibunya pedagang di pasar. Dari TK hingga kuliah Budiyono belajar di sekolah umum biasa.    

“Saya salut sama orang tua. Nggak pernah mereka melarang saya ikut aktivitas apa. Mau sekolah kemana, bapak-ibu nggak pernah melarang. Selalu mendukung saya ke hal-hal yang positif.”

Melihat bapaknya sebagai figur panutan, diam-diam Budiyono menyimpan cita-cita juga ingin menjadi pegawai negeri. “Pengin jadi pegawai negeri kayak bapak. Kerja perkantoran. Tapi bagimana bisa? Kerja lain kan saya nggak mampu.”  

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Grabag tahun 2002, Budiyono melanjutkan sekolah ke AKOMAI Institut Magelang hingga meraih gelar Diploma 1 Administrasi Perkantoran. Sambil menunggu kesempatan bekerja, dia melanjutkan mengajar anak-anak mengaji di TPA tak jauh dari rumah.

Bermula dari TPA

Sejak masih sekolah sekitar tahun 2000, Budiyono sudah aktif mengajar anak-anak mengaji. Kegiatan ini yang kemudian membuka kesempatannya menjadi penyuluh agama Islam di KUA Grabag pada tahun 2003. 

Empat tahun direkrut Kantor Urusan Agama, baru tahun 2007 Budiyono mendapat SK resmi menjadi pegawai honorer penyuluh agama Islam. Setiap tahun surat keputusan diperbaharui hingga tahun 2017.

Di sela menjalankan tugas menjadi penyuluh agama Islam, Budiyono sempat membuka jasa cukur rambut. Honor pegawai KUA saat itu Rp60 ribu sebulan dan dibayarkan setiap 6 bulan sekali.  

Budiyono bersyukur dengan pekerjaannya, tapi pernah juga merasa jenuh. Tahun 2006 dia nyaris memutuskan berhenti tugas. Berkat nasihat ibunya, dia bertahan dan merasa kalimat yang terlontar saat itu laksana mukjizat.

“Saya mau nangis kalau ingat nasihat ibu. Beliau bilang ‘nggak usah cari kerja jauh-jauh. Di rumah saja meladeni anak-anak TPA. Siapa tahu itu menjadi jalan rezeki kamu’. Doa itu terkabul,” kata Budiyono.

Tahun 2024, Kementerian Agama membuka lowongan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) untuk ditempatkan di KUA. Meski semula kecil hati, Budiyono memberanikan diri untuk mendaftar.

Dia sering kecut melihat klausul sehat jasmani dan rohani sebagai prasyarat kerja. Meski secara merasa mampu dan layak bersaing dengan pelamar lain, Budiyono merasa syarat itu memberatkan para penyandang disabilitas.  

Kemenag Ramah Disabilitas 

Beruntung saat rekrutmen pegawai kemarin, Kementerian Agama memberi opsi para calon pelamar penyandang disabilitas untuk mengirim rekaman video saat bertugas. Mereka punya kesempatan membuktikan, bahwa kondisi fisik tidak menghambat mereka menjalankan tugas.  

“Itu yang membuat saya mantab untuk mendaftar. Ini kesempatan bagi kami. Pemerintah memberikan kesempatan pada orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti saya.”

Sejak tahun 2010 Budiyono memiliki kendaran roda dua yang dimodifikasi untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas. Kendaraan itu dipakainya bertugas, hingga mengantar kuliah bolak-balik dari Grabag ke Universitas Darul Ulum Islamic Center (Undaris) di Ungaran, Semarang selama 3,5 tahun.
Tak Butuh Belas Kasihan 

Setelah lulus seleksi P3K Kementerian Agama Juni kemarin, Budiyono menempati posisi pegawai Administrasi Perkantoran di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Grabag. Dia tidak lagi menjadi pegawai penyuluh agama karena terkendala syarat ijazah S1.

Saat pemberkasan seleksi P3K bulan Maret 2024, ijazah S1 Pendidikan Agama Islam dari Undaris milik Budiyono belum terbit. Ijazah baru keluar sebulan setelahnya, sehingga dia terpaksa menggunakan ijazah SMA.

Tapi kembali, hal itu tidak membuat Budiyono kecil hati. Dia menatap optimistis kesempatan menempati jenjang tugas yang lebih tinggi pada waktu mendatang. 

“Terus mengabdi pada masyarakat dan negara dengan ikhlas, sabar, dan tulus. Jangan pernah menganggap kegagalan itu bencana.”

Sebagai penyandang disabilitas, Budiyono menilai kebijakan pemerintah saat ini sudah banyak mendukung hak-hak mereka. Tinggal bagaimana para disabilitas memanfaatkan kesempatan tersebut. 

Sebab kata Budiyono, para penyandang disabilitas tidak butuh dikasihani. Tapi diberi kesempatan yang setara dengan warga negara lainnya.

“Saya paling tidak suka dikasihani. Sakit hati saya kalau ada orang bilang kasihan. Karena disabilitas itu tidak butuh belas kasihan. Kami perlu kesempatan untuk bekerja dan berkarya." (MRD)

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
 


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo