Jakarta, Arina.id—Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak adanya investigasi menyeluruh terkait dugaan penggunaan kekuatan berlebihan aparat keamanan dalam gelombang aksi protes yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia sejak 25 Agustus 2025 yang menewaskan 9 orang.
Drivel Ojol Affan Kurniawan (21), Septinus Sesa, Korban Kebakaran Gedung DPRD Makassar Muhammad Akbar Basri (26), Sarina Wati (25), Saiful Akbar (43). Korban pengeroyokan massa di Makassar Rusdamdiansyah (26). Korban kekerasan Polisi di Yogyakarta Rheza Sendy Pratama (21), Korban Gas Air Mata di Solo Sumari (60), dan korban penyiksaan oleh polisi di Tangerang, Andika Lutfi Falah.
Juru Bicara kantor HAM PBB, Ravina Shamsadani menyerukan investigasi menyeluruh dugaan pelanggaran dalam demonstran.
"Kami menyerukan adanya penyelidikan dengan cepat menyeluruh dan transparan atas semua dugaan pelanggaran hukum HAM Internasional," ujar Ravina dalam keterangannya dikutip Arina.id, Selasa (2/9/2025).
Ia mengatakan PBB telah memantau secara dekat perkembangan di Indonesia khususnya serangkaian aksi protes nasional atas tunjangan DPR, kebijakan penghematan, serta dugaan penggunaan kekuatan yang tidak semestinya oleh aparat keamanan.
"Kami menekankan pentingnya dialog untuk menangani kekhawatiran publik," ujar Ravina.
PBB meminta agar media juga diizinkan meliput peristiwa tersebut secara bebas dan independen.
"Pihak berwenang harus menjunjung hak atas kebebasan berkumpul secara damai dan kebebasan berekspresi sambil tetap menjaga perdamaian," pintanya.
Hal ini sesuai dengan norma dan standar internasional dalam pengelolaan aksi publik.
"Seluruh aparat keamanan termasuk militer ketika diterjunkan untuk tugas penegakkan hukum wajib mematuhi prinsip dasar penggunaan kekuatan dan senjata api," jelasnya.
Indonesia tengah menghadapi gelombang aksi demo besar-besaran di berbagai kota sejak 28 Agustus lalu hingga kini.
Masyarakat kecewa terhadap kebijakan pemerintah yang tak menyejahterakan hingga memprotes tunjangan jumbo anggota DPR RI.
Aksi massal yang berlangsung di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Makassar tersebut bahkan menjadi sorotan media asing. Apalagi kejadian ini ricuh dan memakan korban jiwa.
Aksi demo dinodai penjarahan rumah pejabat hingga pembakaran fasilitas umum oleh kelompok tak dikenal.
Editor: Muhammad Zunus


