Dark
Light
Dark
Light

China Berharap Pemerintahan Trump Lebih Memilih Kolaborasi Ketimbang Konfrontasi

China Berharap Pemerintahan Trump Lebih Memilih Kolaborasi Ketimbang Konfrontasi

Arina.id -- Pemerintah China berharap Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump lebih memilih cara kolaborasi dan kerjasama kedua negara, ketimbang jalur konfrontasi untuk menyelesaikan persoalan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Mao Ning selaku Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, pada Senin (20/1/2025) di Beijing, China.

"Kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan menuai kerugian dari konfrontasi, itulah yang ditunjukkan oleh sejarah hubungan China-AS," ucap Mao Ning dalam konferensi pers.

"Kami selalu percaya bahwa perkembangan hubungan China-AS yang mantap, sehat, dan berkelanjutan akan melayani kepentingan bersama kedua negara dan merupakan hal yang diharapkan oleh masyarakat internasional," imbuh Mao Ning, dikutip dari Antaranews.

Ia menambahkan, hendaknya hubungan China-AS dapat berjalan dengan mengikuti prinsip saling menghormati, hidup damai berdampingan, serta kerjasama yang saling menguntungkan.

Pihak China siap bekerjasama dan berdialog dengan pemerintah AS yang baru, untuk mengelola segala perbedaan dengan lebih baik. 

"Kami siap mengamankan kemajuan yang lebih besar dalam hubungan China-AS dari titik awal yang baru, memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, menemukan cara yang tepat bagi kedua negara untuk hidup berdampingan di era baru dan membawa manfaat bagi kedua negara dan dunia," terang Mao Ning.

Selama ini Trump memang dikenal memiliki pandangan yang tegas dan konfrontatif terhadap segala persoalan terkait AS dan China.

Dalam bidang teknologi informasi, Trump sangat getol berupaya membendung perkembangan media sosial bikinan China, TikTok, yang memiliki pasar pengguna besar di Amerika Serikat. AS menganggap bahwa TikTok punya potensi mengancam keamanan nasional.

Pada 17 Januari 2025 lalu, Mahkamah Agung AS dengan suara bulat bahkan sudah menyetujui undang-undang pemblokiran TikTok di AS. Namun belakangan keputusan tersebut mengalami penundaan.

"Saya menginstruksikan Jaksa Agung untuk tidak mengambil tindakan apa pun dalam menerapkan Undang-Undang selama periode 75 hari sejak hari ini," jelas perintah yang dirilis oleh Gedung Putih, hari Senin (20/1/2025).

Sementara itu di bidang ekonomi perdagangan, China saat ini telah menjelma menjadi salah satu pemain besar. Mereka bahkan sudah menempati peringkat 2 dalam jajaran negara dengan ekonomi terbesar di dunia, tepat di bawah AS.

Beralih di bidang militer dan geopolitik. Sejak beberapa dekade terakhir telah terjadi gesekan kepentingan antara AS-China di wilayah Laut China Selatan.

Pihak China berambisi menguasai lautan tersebut berdasar panduan 9 garis putus-putus atau nine dash line. Sementara AS ingin mempertahankan status freedom of navigation alias kebebasan berlayar di laut internasional.      

 


Editor: A. Sentosa
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo