Arina.id - Dalam beberapa pekan terakhir ini huru-hara demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah negara dunia. Di Asia unjuk rasa berujung rusuh terjadi di Nepal dan Indonesia. Protes massal yang berujung kerusuhan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur, memicu gejolak politik dan menelan tidak sedikit korban jiwan.
Di Indonesia setidaknya 10 orang diketahui mati ketika demonstrasi dan kerusuhan meledak dalam beberapa hari. Demo di Indonesia menyebabkan pencopotan sejumlah anggota parlemen dan menteri. Sementara di Nepal, tercatat 19 orang meninggal dunia. Demo yang juga disertai kerusuhan panjang itu menyebabkan pengunduran diri Perdana Menteri.
Lalu sekarang giliran huru-hara di Eropa Barat. Pada Rabu 10 September 2025 kemarin, gelombang aksi besar-besaran meledak di Ibu Kota Paris Prancis dengan identitas gerakan "Block Everything". Ribuan massa yang memadati pusat kota melakukan pemblokiran jalan.
Dikutip dari CBC News, massa mengamuk melakukan barikade jalan dan terlibat bentrokan dengan aparat keamanan. Protes mereka merupakan bentuk kemarahan terhadap Presiden Emmanuel Macron dan elit politik akibat kebijakan pemangkasan belanja negara.
Kementerian Dalam Negeri memperkirakan hampir 200.000 orang berpartisipasi dalam aksi tersebut. Para demonstran memblokir jalan dan melakukan pembakaran. Hal itu membuat polisi bereaksi menembakkan gas air mata yang semakin membuat demonstran terpicu amarahnya.
Kementerian mengumumkan hampir 200 penangkapan dalam jam-jam pertama aksi--yang ditargetkan bakal menjadi gerakan protes secara nasional tersebut. Walaupun gagal, namun gerakan ini berhasil membuat Paris nyaris lumpuh. Gerakan "Blok Everything" yang dimulai lewat daring, kemudian pelan-pelan berhasil mengumpulkan massa secara offline.
Gerakan ini sempat menyebabkan gangguan secara luas, sampai membuat otoritas keamanan setempat mengerahkan 80.000 polisi untuk mengamankan aksi. Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau mengatakan sebuah bus dibakar di kota barat Rennes dan kerusakan pada kabel listrik yang mengakibatkan kereta api di jalur barat daya tidak beroperasi.
Bruno menduga bahwa para demonstran berusaha menciptakan "suasana pemberontakan." Para pemrotes yang marah pada kepemimpinan Macron, itu telah merencanakan mengganggu semua jenis aktivitas pemerintah dan publik di seluruh negeri.
Sementara itu di London Inggris, demonstrasi besar-besaran juga pecah pada Sabtu, 13 September 2025. Demonstrasi yang diikuti sekitar 110.000 itu diorganisir oleh aktivis kanan Tommy Robinson. Robinson sendiri memiliki nama asli Stephen Yaxley-Lennon yang dikenal sebagai tokoh kelompok nasionalis kanan di Inggris.
Robinson ini sealiran dengan Charlie Clirk (Aktifis konservatif Amerika Serikat). Keduanya sama-sama mengangkat tema nasionalisme dan anti-imigran. Dalam aksi di London, Robinson bersama massa aksinya menyuarakan keprihatinan dalam kasus Clirk yang tewas ditembak dalam sebuah kegiatan di AS.
Aksi di London ini sampai membuat petugas keamanan London kalang kabut. Beberapa petugas dipukuli, ditendang dan ditimpuki menggunakan botol-botol. Polisi anti huru-hara dengan peralatan lengkap (helm dan perisai huru-hara) dikerahkan untuk mendukung 1,000 perwira di lapangan.
Akibat aksi tersebut, sebanyak 26 petugas polisi terluka - empat orang terluka parah, termasuk gigi patah, gegar otak, dan kemungkinan patah hidung serta tulang belakang. Setidaknya 25 orang ditangkap karena pelanggaran termasuk gangguan kekerasan, penyerangan dan kerusakan.
"Tidak diragukan lagi banyak yang datang memang semata-mata untuk menggunakan hak protes mereka yang sah, namun banyak yang datang berniat melakukan kekerasan," kata Asisten Komisaris Polisi Matt Twist. "Mereka menyerang petugas, terlibat dalam kekerasan fisik dan verbal sehingga memaksa polisi harus berbuat tegas."
Demonstrasi ini merupakan yang terbesar kedua setelah pawai massal gabungan dalam demonstran pro-Palestina pada November 2023 lalu yang menarik sekitar 300.000 orang.
Demonstrasi besar-besaran di Jerman
Di hari yang sama, Sabtu 13 September 2025, demonstrasi besar-besaran juga terjadi di Berlin Jerman. Massa aksi menentang keterlibatan Jerman dalam konflik di Timur Tengah dan Ukraina. Para pengunjuk rasa mendesak pemerintah menempuh jalur diplomasi dan menghindari perang atau pengiriman senjata.
Protes digerakkan oleh partai Sahra Wagenknecht Alliance – Reason and Justice (BSW). Para pengunjuk rasa menyuarakan penolakan mereka terhadap kebijakan Jerman terhadap Ukraina dan penanganan konflik Timur Tengah lewat jalur perang.
Seperti dilaporkan Anadolu, ribuan orang membawa bendera Palestina, bendera gabungan Rusia-Jerman, dan spanduk yang menyerukan diakhirinya pembunuhan warga sipil Gaza.
Salah satu pendiri partai, Sahra Wagenknecht, dan sejumlah tokoh budaya Jerman turut serta dalam demonstrasi tersebut. Slogan aksi tersebut adalah "Hentikan genosida di Gaza! Tidak ada senjata di zona perang! Perdamaian, bukan perlombaan senjata!"
Beberapa orator di Gerbang Brandenburg, salah satunya sejarawan Israel Moshe Zuckerman menyampaikan pidato di hadapan para pengunjuk rasa memprotes militer negaranya. Bahkan bassis dan juga pendiri Pink Floyd, Roger Waters, juga bergabung dalam protes melalui tautan video.
Para penyelenggara aksi itu juga menyerukan kepada pemerintah Jerman untuk berpartisipasi secara jujur dan serius dalam negosiasi perdamaian selain menghentikan semua pengiriman senjata Jerman ke zona perang. Mereka menentang dimulainya kembali wajib militer dan penempatan rudal jarak menengah AS di Jerman.
Editor: Muhammad Taufiq


