Arina.id - Minggu kemarin, 30 November 2025, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menerima ucapan selamat ulang tahun dari Pemimpin Kuba Miguel Diaz-Canel, sekutu lamanya di Benua Amerika Selatan. Dan bukan sebuah kebetulan, dua pemimpin negara sosialis itu sama-sama dikenal galak pada kebijakan Amerika Serikat (AS).
Maduro sendiri berulang tahun pada 23 November. Ucapan selamat ulang tahun dari Diaz-Canel ke Maduro ini disampaikan dua pekan setelahnya di tengah ketegangan antara Venezuela dan AS yang kini dipimpin Presiden Donald Trump. Venezuela menjadi target AS dalam kampanyenya memerangi penyelundupan narkoba besar-besaran di laut Karibia.
Diaz-Canel berkata: "Saudaraku tercinta Nicolás Maduro, terimalah ucapan selamat dari hati kami atas ulang tahunmu. Atas nama partai, pemerintah, dan rakyat Kuba. Tidak ada kepura-puraan Yankee (sebutan untuk orang Amerika) yang dapat merusak keteguhan, keberanian, dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap tanah air Bolivaria dan Chavista," Díaz-Canel mengekspresikan di platform X.
Unggahan tersebut disertai foto kedua tokoh sosialis Amerika Latin tersebut sedang bersalaman yang digambarkan sebagai persekutuan lama menentang Amerika. Dalam unggahan yang lain, Diaz-Canel juga memposting pernyataan sikap menentang rencana agresi militer Amerika terhadap Venezuela.
"Campur tangan AS, ancaman, dan agresi militer yang sedang dipersiapkan terhadap Venezuela untuk menggulingkan pemerintah yang sah, tidak dapat diterima," kata Diaz-Canel melalui X.
Presiden Kuba itu menekankan bahwa politik kapal meriam AS serta Doktrin Monroe adalah hal yang sudah terjadi sejak dulu. DiazCanel kemudian menekankan bahwa wilayah Amerika Latin serta Karibia selama ini dikenal sebagai "zona damai." Kuba juga berulang kali memperingatkan tentang risiko destabilisasi di kawasan tersebut dan menyatakan dukungannya terhadap Maduro serta kedaulatan Venezuela.
Ketegangan antara Caracas dan Washington meningkat tajam di tengah pengerahan armada perang Amerika ke perairan Karibia oleh Pentagon. Armada perang AS ini sekarang berada di atas aset laut, udara, dan darat wilayah Karibia, termasuk kapal induk USS Gerald Ford.
Sebelumnya, dikutip dari CubaHeadline, Washington membenarkan kehadiran militernya di kawasan itu dengan alasan memerangi perdagangan narkoba. Bahkan Donald Trump sempat mengatakan kalau kepemimpinan Maduro di Venezuela sedang menghitung waktu, meskipun dalam beberapa kesempatan membantah tidak berniat berperang dengan Caracas.
Bukan cuma pemimpin Kuba, Presiden Kolombia Gustavo Petro, juga menentang ancaman AS menyerang target di Amerika Selatan dengan dalih melawan penyelundupan narkoba. Menurut dia, ketika AS menyerang wilayah Amerika Selatan, itu berarti pelanggaran kedaulatan negara yang artinya bisa dianggap sebagai deklarasi perang dan penghancuran hubungan antar dua negara yang berusia 200 tahun.
"Menyerang kedaulatan kita adalah untuk menyatakan perang, tidak menghancurkan hubungan diplomatik selama dua abad," - tulis Petro dalam jaringan sosial X, seperti dikutip dari Ria Novosti.
Editor: Muhammad Taufiq


