Arina.id - Serangan pasukan Israel masih terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini, di tengah gencatan senjata yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Korban kebengisan serdadu zionis, yang rata-rata tinggal di pengungsian bertumbangan.
Di sisi lain, ribuan pasien dan korban luka menghadapi nasib tidak menentu akibat runtuhnya sistem layanan kesehatan di wilayah kantong Palestina itu. Sumber medis setempat mengatakan sejumlah rumah sakit yang masih beroperasi kini kesulitan mempertahankan layanan dan berubah menjadi tempat tunggu ribuan pasien dan korban luka yang masa depannya tidak jelas.
Menurut mereka, seperti dilaporkan kantor berita WAFA, sistem kesehatan di Gaza sudah lumpuh. Bertahannya layanan medis saat ini dianggap sebagai mukjizat, mengingat besarnya kerusakan yang menghambat upaya pemulihan fasilitas kesehatan di sana.
Krisis medis di Gaza telah mencapai titik nadir, bahkan obat pereda nyeri pun sulit didapat oleh orang yang menghadapi kematian. Data menunjukkan stok bahan laboratorium dan bank darah hampir habis, sementara lebih dari separuh perlengkapan medis dan obat-obatan penting sudah tidak tersedia lagi.
Para sumber menyebutkan bahwa layanan kanker, hematologi, bedah, operasi, perawatan intensif, dan layanan kesehatan primer menjadi yang paling terdampak krisis ini. Jumlah obat terbatas yang masuk ke rumah sakit di Jalur Gaza dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan riil.
"Menyelamatkan kondisi kesehatan di rumah sakit Gaza tidak bisa dilakukan lewat solusi darurat sementara yang justru membuat konsekuensi serius terus bertambah," kata para sumber.
Penyeberangan Rafah dibuka
Kabar terbaru, di penyeberangan perbatasan Rafah ke Gaza selatan dibuka kembali pada hari ini, Senin 9 Februari 2026, untuk penanganan kasus kemanusiaan, misalnya keberangkatan pasien. Rafah juga dibuka agar warga Palestina di Mesir bisa pulang ke rumah mereka.
Menurut koresponden WAFA, gelombang keenam pasien dan sejumlah penanganan kemanusiaan berangkat melalui penyeberangan setelah dipersiapkan oleh pos Bulan Sabit Merah Palestina di hadapan perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia, untuk menerima perawatan di rumah sakit di luar Jalur Gaza.
Sejak dibuka kembali pekan lalu, penyeberangan Rafah telah menyaksikan kepergian lebih dari 189 pasien dan rekan-rekan mereka, dan kembalinya lebih dari 88 warga Palestina yang terdampar di Mesir.
Editor: Muhammad Taufiq


