Jakarta, Arina.id-Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI mempersembahkan pertunjukan teaterikal dalam kegiatan Review and Design on Islamic Education yang digelar di Auditorium HM Rasidi, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
Melalui teaterikal berjudul Ada Apa dengan Asta itu, Ditjen Pendis yang menggandeng sutradara Agus Noor berhasil mengemas refleksi capaian kinerja pendidikan Islam sepanjang 2025 secara kreatif dan komunikatif.
Pagelaran yang dikemas dengan nuansa semi jenaka renyah ini dibawakan oleh para pemain drama musikal Cing Abdel, Akbar, Mucle, dan Azizah. Mereka merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama.
Selama hampir dua jam, percakapan dan guyonan Akbar dan kawan-kawan menyelipkan berbagai substansi capaian pendidikan Islam, mulai dari perkembangan perguruan tinggi keagamaan Islam hingga implementasi Program Makan Bergizi (MBG) di madrasah dan pesantren.
Salah satu adegan menampilkan Azizah bersama dua siswa MI Al Hidayah Jakarta yang membawa rantang MBG. Dalam dialognya, Azizah menegaskan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya sebatas penyediaan makanan, tetapi juga didampingi tenaga profesional.
"Ditjen Pendis sudah ada dokter dan ahli gizi,” ujar Azizah dalam pertunjukan tersebut.
Akbar juga memaparkan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta yang menjadi bagian dari Asta Cita Pendidikan Islam 2025 di era Presiden Prabowo Subianto.
"Ada ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta juga,” katanya.
Sementara itu, Cing Abdel yang memerankan seorang dosen bersama Akbar sebagai mahasiswa dan Azizah mempraktikkan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di perguruan tinggi. Ketiganya menggambarkan relasi akademik yang lebih humanis dan empatik.
"Banyak program yang sudah dilakukan di pendidikan tinggi, dan banyak pula peningkatan yang dirasakan,” ujar Akbar.
Dalam narasi yang disampaikan, pendidikan Islam digambarkan telah bertransformasi. Tidak lagi sebatas pengajaran keagamaan normatif, tetapi juga responsif terhadap isu sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi.
"Sekarang istilahnya ekoteologi, jadi mahasiswa didorong menggunakan pendekatan yang holistik,” kata Cing Abdel.
Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya kurikulum sebagai refleksi kebudayaan dalam lembaga pendidikan. Ia mendorong pergeseran pendekatan kurikulum dari yang cenderung maskulin (struggling) menuju pendekatan yang lebih feminin (nurturing).
Menurutnya, pendidikan perlu lebih inklusif dan mengedepankan empati, bukan semata orientasi logika.
"Mungkin kita perlu lebih inklusif, lebih eros, lebih mystical, dan berkualitas cinta. Bukan hanya logic oriented,” ujar Nasaruddin.
Ia menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta bertujuan menumbuhkan gairah belajar sekaligus empati peserta didik dalam proses pendidikan.
Selain kurikulum, Menag juga mengaitkan arah pendidikan Islam dengan konsep ekoteologi. Ia menekankan bahwa relasi manusia, alam, dan Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
"Lingkungan hidup ini adalah partner untuk menjalani kehidupan bersama. Tanpa naskah agama, tidak mungkin kita bisa melakukan sesuatu, bahkan yang paling basic untuk menyelamatkan lingkungan ini,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam sambutan melalui tayangan video menyoroti tantangan era volatilitas, ketidakpastian, teknologi, dan ambiguitas.
Ia berharap lembaga pendidikan Islam mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menegaskan posisi Islam di tengah perubahan global.
"Kita harus menunjukkan bahwa Islam adalah kerangka dinamis untuk mempersiapkan masa depan yang etis, harmonis, dan ekologis," tandas Pratikno.
Editor: Kendi Setiawan


