Arina.id. Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyatakan bakal mengirimkan 2.000 tentara ke Suriah. Antisipasi ISIS menjadi salah satu dalih pengerahan pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Angka 2.000 tentara bermakna bahwa AS menambah 1.100 pasukan yang dikerahkan ke Suriah. Sebelumnya, Pentagon berencana mengirim 900 personel saja ke negara yang sedang terlibat konflik internal itu.
"Kami telah memberikan pengarahan kepada [media] secara teratur bahwa ada sekitar 900 tentara AS di Suriah," beber Sekretaris Pers Pentagon, Mayor Jenderal Angkatan Udara Pat Ryder, dikutip laman U.S. Department of Defense, (19/12/2024).
"Mengingat situasi di Suriah dan kepentingan yang signifikan, kami baru-baru ini mengetahui bahwa angka-angka tersebut [lebih tinggi], ada sekitar 2.000 tentara AS di Suriah," tambahnya.
Pentagon berdalih 1.100 personel tambahan dianggap sebagai sebuah otasi sementara demi memenuhi persyaratan misi yang kerap berubah-ubah di wilayah Komando Pusat AS.
Sementara 900 personel lainnya bertugas dalam jangka waktu yang lebih panjang dan biasanya berlangsung sekitar 9-12 bulan.
"Personel militer yang bertugas aktif - termasuk personel komponen cadangan yang bertugas aktif di tingkat federal - akan terus melapor untuk bertugas dan melaksanakan misi yang ditugaskan di seluruh dunia demi membela negara dan melindungi kepentingan keamanan nasional," lanjut Ryder.
Mengutip laporan Al-Jazeera, AS mengirim tentara ke Suriah sejak tahun 2014. Tujuan utamanya adalah mengalahkan ISIL (ISIS).
AS juga dikabarkan menjalin hubungan yang baik dengan Syrian Democratic Forces (SDF) atau Pasukan Demokratik Suriah (SDF) milik Kurdi. Kini, kelompok ini telah menguasai mayoritas Suriah bagian timur.
Turki, sebagai salah satu mitra NATO AS, justru menilai SDF adalah ancaman keamanan nasional. Alasan Turki adalah SDF diklaim terkait dengan organisasi bersenjata Kurdi yang selama ini dianggap "teroris".
Editor: Abdul Fatah


